BROSUR PMC Cell - Klik Gambar di Bawah Ini

BROSUR PMC Cell - Klik Gambar di Bawah Ini
PMC Cell - Master Pulsa Electric

Menggapai Kemuliaan Muslimah dengan Bimbingan Salaful Ummah

Minggu, 24 Juni 2007

Opini Catatan Awal Tahun 2007

Catatan Awal Tahun 2007
2007, Indonesia (Belum) Lepas Dari Bencana



Oleh: MOCH. CHABIB ES, SE
Penulis adalah Alumni FE Univ. Darul 'Ulum Jombang, Koordinator Komunitas Penulis Lesehan (KOPEL) Jombang dan tergabung dalam Komunitas Penulis Jombang (KPJ)


Bencana yang terjadi di Indonesia beberapa waktu yang lalu, ternyata tidak dijadikan introspeksi. Hal ini terbukti dari berbagai bencana yang terus-menerus menyusul dan melanda negeri tercinta. Apakah ini tandanya Pencipta sudah tak sayang pada ummatnya, atau bencana itu peringatan dari-Nya.



Sepanjang tahun 2006, Indonesia sepertinya tidak pernah putus dari berbagai bencana. Baik itu bencana alam, kerusuhan, konflik partai, hingga konflik di pemerintahan. Sayangnya, kejadian yang terjadi sebelumnya tidak pernah dipakai untuk mawas diri, introspeksi, atau berkaca.

Seharusnya kita semua bercermin pada berbagai bencana yang terjadi, sehingga ibarat pepatah -kita tak terjatuh untuk ketiga kali di lubang yang sama. Namun sayang, bencana itu dianggap sebagai hal yang lumrah tanpa mau melihat apa sebenarnya yang terjadi di balik bencana. Jika kita tilik, bencana yang terjadi di
Indonesia merupakan "warning" dari sang Pencipta.

Mengapa "warning" dari Allah? Bagaimana tidak, seperti yang terjadi pada bencana lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo. Salah satu foto yang berhasil diabadikan oleh kamera Samuel Johnson Sutanto, salah satu anggota Timnas Penanggulangan Lumpur Lapindo di Sidoarjo, saat ledakan pipa gas milik Pertamina di kawasan Lumpur Lapindo. Subhanallah, foto itu menunjukkan suatu kejadian yang luar biasa. Jika dilihat dengan seksama, jilatan api dari ledakan itu membentuk lafadz Allah.

Sebenarnya kejadian yang menunjukkan kebesaran Allah itu sudah beberapa kali terabadikan. Bahkan, dalam foto satelit bencana gelombang Tsunami di
Sri Lanka, juga jika diamati membentuk lafadz Allah. Suatu kejadian yang merupakan petunjuk akan kebesaran Ilahi. Demikian juga yang terjadi di Yogyakarta, 8 Juni 2006 lalu. Fotografer Bagus Kurniawan berhasil mengabadikan wedhus gembel di Gunung Merapi yang juga jika diamati dengan teliti menyerupai lafadz Allah. Suatu keajaiban pada kejadian alam yang menunjukkan, bahwa bencana itu merupakan peringatan bagi kita semua. Berbagai bencana saat ini menimpa Indonesia, baik bencana moral maupun fisik.

Kini di tahun 2007, kita seharusnya bercermin terhadap berbagai bencana tersebut. Bukan sebaliknya malah memperkeruh kondisi bangsa yang 'belum' stabil ini. Dipenghujung tahun 2006 pun konflik kian panas, mulai skandal video porno salah satu anggota
DPR RI dengan seorang penyanyi dangdut, kemudian isu 'menggoyang' kekuasaan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla. Dan terakhir pembentukan berbagai partai politik (Parpol) seperti Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura)-nya Jendral (Purn) Wiranto dan partainya para Kades, yakni Partai Paguyuban Kepala Desa dan Perangkat Desa (Parade) se-Nusantara yang diketuai H Sudir Santoso, SH.

Hal itu menunjukkan betapa tidak puasnya mereka terhadap pemerintahan sekarang ini. Namun, bisa jadi ketidak-percayaan itu dikarenakan 'sentimen' pribadi karena kegagalan dalam politik. Sehingga membentuk barisan 'sakit hati', yang hanya mengoreksi kelemahan dan kekurangan pemerintahan saat ini.

Bahkan diawal tahun berbagai bencana bertubi-tubi mengawali tahun baru 2007. Kasus hilangnya pesawat penumpang Adam Air yang hingga kini belum ditemukan. Kemudian kasus kapal Senopati Nusantara yang menewaskan puluhan penumpang dan ratusan yang belum ditemukan.

Diakui atau tidak, memang penyebab rusaknya kehidupan disebabkan karena harta, tahta dan wanita. Dan itu terbukti dengan beberapa kasus yang selama ini terekspos di media. Namun demikian, sedikit diantara mereka yang berani menyuarakan kebenaran meskipun itu pahit sekalipun.

Bencana tidak hanya yang berkenaan dengan kerusakan yang berbentuk fisik, seperti gedung ambruk, atau longsor dan banjir. Tapi lebih luas lagi, bencana merupakan hal yang tidak menyenangkan hati seseorang itu dapat dikategorikan bencana. Apalagi menyangkut moral.

Selama ini, orang hanya menyebut bencana jika terjadi gunung meletus, banjir bandang, gelombang pasang dan sejenisnya. Tapi terbunuhnya salah seorang siswa SD akibat di-smackdown temannya tidak dikategorikan bencana, atau kasus skandal video porno yang sempat menghebohkan juga tidak termasuk bencana. Padahal, keduanya juga bencana bagi mereka, meskipun imbasnya tidak separah Lumpur panas Lapindo di Sidoarjo yang mengakibatkan ratusan bahkan ribuan orang kehilangan tempat tinggal dan mata pencarian.

Tidak itu saja, sepertinya bencana itu setiap tahun itu akan terjadi di Indonesia. Termasuk ditahun 2007. Kenapa demikian? Pasalnya
Indonesia 'jarang' introspeksi terhadap kejadian tahun sebelumnya. Jika pada tahun sebelumnya Ibukota terkena banjir, dan tahun ini banjir, orang menjadi beranggapan bahwa banjir itu lumrah, wajar, dan menjadi hal yang biasa. Termasuk bencana tanah longsor dan lain sebagainya. Karena bencana itu terjadi setiap tahunnya, mereka hanya bisa bersiap mengantisipasinya. Jika tidak bisa, mereka bersiap-siap mengungsi.

Demikian juga dengan politik. Jika tahun sebelumnya mereka tampak 'bermesraan', belum tentu hal itu terjadi di tahun 2006. Lebih-lebih pada tahun 2007. Jika kita runtut, maka pada tahun 2007, selain bencana alam juga situasi politik akan semakin 'panas'. Hal itu terjadi karena hari itu terus berputar dan semakin mendekati Pemilu. Dan banyak yang sudah mempersiapkan untuk menyongsong Pemilu. Bisa jadi pembentukan dua partai yang penulis sebutkan di atas, juga merupakan 'cikal-bakal' untuk menghadapi pesta demokrasi di
Indonesia.

Seharusnya bangsa
Indonesia saat menjelang akhir tahun itu digunakan untuk merenungi berbagai kegiatan yang terlah lalu. Bukan untuk pesta pora dengan berbagai atraksi dan hiburan. Berbagai bencana, 'perang' antar elit politik, berbagai skandal dan masih banyak lagi yang perlu dicarikan jalan keluarnya di tahun 2007.

Sehingga kita tahu, bencana itu tidak hanya yang menimpah banyak orang. Kedatangan George Walker Bush ke
Indonesia pun sebenarnya juga bencana. Bagaimana sebagian besar rakyat menolak, anggota dewan dan tokoh masyarakat menolak tapi penguasa tidak mau mendengarkannya. Lebih tragis lagi, helipad yang telah disiapkan untuk secara 'khusus' menyambut kedatangan presiden dari Negeri Paman Sam itu ternyata tidak dipakai. Itupun juga bencana nasional, karena berapa miliar dana pembangunan itu, belum lagi merusak taman nasional Kebun Raya Bogor.

Ironis memang jika kita memikirkan bencana di
Indonesia. Jika hal itu tidak segera direnungi, maka kita hanya bisa 'menikmati' bencana itu di tahun 2007 ini. Selamat tahun baru 2007, dan selamat datang bencana baru. Itu bisa terjadi jika kita tidak mempersiapkan diri. ***

Tidak ada komentar: