Menggapai Kemuliaan Muslimah dengan Bimbingan Salaful Ummah

Rabu, 04 November 2009

Heboh Statement Kadiv Humas Mabes Polri

Rabu, 4 Oktober 2009 tadi siang sekitar pukul 14.30 WIB, bersamaan sidang di Mahkamah Konstitusi (MK), digelar juga konfrensi pers oleh Kadiv Humas Maber Polri Irjen Pol Nana Sukarna menyikapi adanya hasil rekaman kasus Cicak vs Buaya, yang disiarkan secara live oleh TVOne.


Namun ada yang janggal –menurut penulis– apa yang disampaikan oleh Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Nana Sukarna. Kenapa janggal? Soalnya salah satunya –kurang lebih– ia mengatakan bahwa orang yang hanya berencana (mengajak -red) membunuh seseorang tidak bisa dijadikan tersangka, karena tidak cukup bukti.

Meski waktu itu hanya sebagai ungkapan kiasan, tapi menurut penulis, ini menjadikan sebuah bukti nyata lemahnya hukum di Indonesia. Kenapa? Memang secara hukum tidak cukup bukti. Buktinya nanti jika si-fulan meninggal akibat dibunuh. Ini baru bukti. Apa demikian, apa harus jatuh korban dan sejenisnya. Jika demikian, dimana motto Polri yang sebagai pengayom masyarakat.

Statement tersebut, juga bisa diartikan, mengajak seseorang untuk membunuh kepala pemerintahan, presiden, atau yang sejenisnya juga tidak apa-apa, karena cuma ucapan, dan tanpa ada bukti. Bahkan rekaman yang diputar secara umum di MK pun juga belum bisa dijadikan bukti menurut hukum di Indonesia. Jika demikian, kenapa sidang itu harus buang-buang waktu percuma hanya untuk mendengarkan rekaman yang tidak bisa dijadikan bukti untuk menyeret seseorang ke kursi pesakitan.

Terlepas dari itu, ternyata rekaman itu meski tidak bisa dijadikan bukti, tapi sudah dapat ’membebaskan’ Bibit Waluyo dan Chandra. Jadi tetap saja ada manfaatnya. Ini yang tidak masuk akal lagi.

Pasalnya, jika rekaman itu ’tidak’ berguna, kenapa keduanya dibebaskan setelah rekaman itu diputar. Di sinilah, statement itu akhirnya terbantahkan dengan sendirinya. Jadi dengan modal rekaman itu, tentunya siapa yang disebutkan dalam rekaman dan si penelpon dapat dipanggil untuk menambah semakin kuatnya bukti-bukti itu melalui pengakuan mereka.

Jangan sampai ucapan bernada ’ancaman’ dibiarkan berlalu, gara-gara tidak ada bukti fisik. Sementara bukti omongan dianggap angin berlalu.

Wah.... wah..... wah.... kalau sudah begini, maka akan jadi apa negara ini? Ya tentunya akan ada lagi semacam perseteruan antara Cicak dan Buaya!

Selasa, 03 November 2009

Cicak dan Buaya

Upaya Perebutan Kekuasaan dan Jaga Martabat Institusi

Mencermati isi dari rekaman yang dimiliki KPK di depan Mahkamah Konstitusi (MK), Selasa (3/10/2009) rakyat kecil jadi tertawa dan senyum-senyum sendiri. Setidaknya hukum di Indonesia ini sudah diperjualbelikan, dan sesama instansi saling menjatuhkan. Kenapa hal ini bisa terjadi?

Perseteruan antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Polri memasuki babak baru, pasca diputarnya hasil rekaman penyadapan telepon oleh KPK. Bibit Waluyo dan Candra, yang baru saja menikmati pengapnya penjara, segera dibebaskan. Ini membuktikan bahwa kinerja Polri perlu dipertanyakan. Bukan tidak mungkin kasus-kasus semacam ini terjadi. Orang yang tidak bersalah mendekap dalam penjara, sementara yang salah bebas berkeliaran menghirup udara 'kemerdekaan'.

Seharusnya kejadian ini tidak perlu terjadi, seadainya tidak ada kepentingan-kepentingan 'terselubung' baik itu pribadi maupun institusi. Mereka seharusnya dapat belajar dari kasus salah tangkap yang terjadi di Jombang, beberapa waktu yang lalu. Hanya karena menerima segepok uang, masalah bisa berubah. Yang salah bisa jadi benar dan yang benar bisa jadi salah.

Tampaknya hal-hal seperti itu tidak bisa sekaligus diberantas, jika tidak ada 'reformasi' total di tubuh Polri. Kita ambil contoh yang mudah saja. Soal judi togel. Jika polisi bisa menangkap pengecer, tentunya ia juga tahu pengepul atau bandar-nya. Tapi kenapa hanya pengecer yang ditangkap, bukan langsung bandar gede (bede)-nya.

Kemudian juga masalah peredaran miras, kenapa hanya warung-warung penjualnya. Ini tidak akan menyelesaikan masalah. Tutup saja perusahaan pembuatnya, maka yang dibawah pun tidak akan dapat berjualan lagi. Tapi, lagi-lagi yang menjadi pertanyaan adalah ada apa dengan 'skenario' seperti ini?

Yang lebih 'gila' lagi sesama institusi saling 'mengintai', saling menjatuhkan, jika dilihat hanya perkara 'ladang'-nya yang dulu 'basah' kini kering kerontang. Inilah yang terlihat dari perseteruan antara KPK dan Polri.

Antara benar dan tidaknya, biarlah hukum kebenaran yang bicara. Sepandai-pandainya menyimpan bangkai, akan tercium juga akhirnta.

Senin, 02 November 2009

KPI Tak Mampu Stop Sinetron Inayah

(Catatan: Dimuat di Harian Duta Masyarakat, Senin 2 November 2009 dengan Judul ”Sinetron ’Inayah’ dan Mandulnya KPI”)

Oleh: Wiwik Afifatul Choiroh, SPd.I
Penulis adalah Alumnus STAIN Kediri, Pengajar di SDN Plumbon Gambang I Gudo, Jombang, juga aktif di Komunitas Penulis Jombang (KPJ).


-ooOOoo-

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) “ditantang” Inayah. Beranikah lembaga ini menghentikan penayangannya? Soalnya beberapa kali diperingatkan, ternyata tidak juga bergeming. Bahkan hingga berbulan-bulan, sinetron ini masih tayang dengan scenario yang sama.

-ooOOoo-


Siapa yang tidak kenal sinetron Inayah? Hampir semua tahu sinetron yang penuh dengan konflik dan intrik untuk saling menjatuhkan dan menguasai satu dengan yang lainnya, meski dalam satu keluarga. Banyak yang menyukai, juga tidak sedikit yang membencinya. Pasalnya, secara tidak langsung, apa yang ada dalam sinetron itu berpengaruh buruk bagi kehidupan keluarga. Apalagi dalam sinetron itu juga melibatkan anak-anak kecil, yang notabene kadang belum sadar akan apa yang dilakukannya.

Sebagaimana diketahui, jika menyimak tayangan sinetron dari awal, kita semua akan tahu bahwa judul awalnya sinetron tersebut adalah Hareem. Karena isinya dianggap mengandung tayangan orang dewasa, maka Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) meminta dengan tegas agar memindahkan jam tayang menjadi pukul 22.00 Wib, serta memperbaiki isi siaran sinetron tersebut. Hal itu sebagaimana tertuang dalam suratnya No. 112/K/KPI/03/09 tertanggal 24 Maret 2009 yang merupakan peringatan terakhir.

Pasca keluarnya surat peringatan terakhir itu, maka sinetron Hareem-pun berubah dan tampil dengan judul yang baru, Inayah. Judul ini diambilkan dari salah satu tokoh dalam sinetron Hareem, yang dijadikan sebagai tokoh utama dalam sinetron ini.

Namun demikian, seiring dengan perjalanan waktu, ternyata tidak ada perubahan dalam skenario ceritanya. Semuanya ’nyaris’ seperti pinang dibelah dua, sama dan tidak ada bedanya dengan cerita Hareem, yang mengumbar kekerasan, memojokkan poligami sebagai ’biang’ kehancuran rumah tangga dan trik-trik lainnya, seakan mengajari pemirsa bagaimana harus bertindak jahat dalam rumah tangga yang dibangun dngan poligami. Intinya, tidak ada baiknya sama sekali untuk mempraktekkan poligami. Yang ada hanya saling mencari celah untuk menyingkirkan satu sama lain, meski ada dua yang selalu akur, yakni Ami Ita dan Ami Ratna. Tapi mereka pun termakan hasutan dari Sarah.

Tidak hanya itu, berbagai adegan pun sebenarnya tidak layak untuk dipertontonkan. Misalnya, bagaimana Sarah membunuh Ami Ratna dengan meracunnya, bagaimana ia menculik Ita dan mencoba membunuhnya. Bagaimana satu dengan yang lainnya untuk saling menjebloskan ke dalam penjara. Yang lebih gila lagi, dan merupakan pembodohan terhadap masyarakat, adanya adegan face off yang dilakukan begitu mudahnya.

Hingga saat ini, masyarakat senantiasa dicekoki oleh tayangan-tayangan yang sangat jauh dari ajaran agama. Mereka mengumbar adegan kekerasan, kebencian, fitnah, hasut dan lainnya. Semua trik negatif nyaris ada dalam sinetron Inayah.

Karena dianggap tidak ada perubahan yang signifikan antara sinetron Hareem dan Inayah, maka KPI mengeluarkan untuk pertama kali bagi sinetron Inayah surat dengan Nomor 348/K/KPI/VI/09 tertanggal 30 Juni 2009 yang mengklarifikasi tayangan sinetron Inayah, karena Indosiar dianggap KPI telah melakukan pelanggaran norma kesopanan dan kesusilaan, pelecehan terhadap agama tertentu, muatan kekerasan verbal maupun non verbal.

Lagi-lagi pihak Indosiar dan PH sepertinya membandel dengan tetap tidak menghilangkan unsur-unsur yang telah disebutkan. Mereka sengaja ’melawan’ KPI yang sepertinya mulai kehilangan ’gigi’ taringnya untuk melakukan pelarangan dan memberikan sanksi kepada pihak-pihak terkait. Bahkan pada tayangan-tayangan berikutnya, sinetron ini lebih mengumbar kekerasan, kebencian, dan kehancuran keluarga yang mnerapkan poligami.

Akibat dari tayangan tersebut, KPI kembali mengeluarkan surat teguran Nomor 478/K/KPI/VIII/09 tertanggal 14 Agustus 2009. Dalam surat surat teguran yang ditujukan pada stasiun televisi yang menayangkan, Indosiar, KPI menyatakan sinetron Inayah menampilkan banyak adegan kekerasan verbal maupun fisik.

Sebagaimana dengan nasib surat teguran lainnya, peringatan-peringatan itu hanya dijadikan sebagai sebuah permainan baik itu dari pihak stasiun televisi maupun rumah produksi (Production House/PH). KPI sepertinya sudah ’ompong’, gigi taringnya sudah tumpul, sehingga membiarkan tayangan tersebut berlarut-larut mencekoki masyarakat dengan tayangan yang tidak mendidik dan bahkan cenderung membodohi masyarakat.

Selain mengumbar tontonan yang berbau keekrasan dan sejenisnya, ceritanya pun membingungkan dan selalu diulang-ulang. Serta tokoh pemeran utama, yakni Inayah tidak mencerminkan sebagai sosok yang ditokohkan dalam sinetron ini. Sebaliknya yang layak menjadi tokoh utama adalah Ndoro Doso. Sosok Inayah, dalam sinetron itu digambarkan sebagai wanita yang kelihatan sekali – maaf – bego-nya. Seharusnya sebagai tokoh utama ia memiliki jiwa yang tangguh, cerdas, pintar. Tidak hanya itu, skenario yang dibuat pun ’mbulet’. Jika ada pemain yang hilang, maka akan disusul dengan pendatang baru. Dan bahkan setelah sekian lama tidak muncul, dengan tiba-tiba akan muncul kembali.

Ini menunjukkan bahwa pihak sutradara sengaja memanjangkan cerita, hingga entah sampai berapa episode lagi. Jika perlu, seandainya Inayah ini berhenti, maka akan ada lagi Inayah jilid kedua. Lebih tidak masuk akal, mereka hanya memperebutkan harta warisan dari Ndoro Doso. Padahal ia masih hidup. Seharusnya yang namanya warisan adalah jika seseorang itu sudah meninggal. Dalam mendapatkan warisan pun caranya tidak mendidik, dan itu bisa saja akan dipraktekkan oleh pemirsa tayangan tersebut.

Sayangnya, masyarakat Indonesia, terutama di daerah pedesaan, lebih menyukai tayangan seperti itu. Padahal secara sengaja maupun tidak, langsung atau tidak langsung, tayangan seperti itu akan meracuni keharmonisan keluarga. Secara tidak langsung, jika ada persoalan sedikit saja, maka beberapa trik di sinetron tersebut akan dilakukan.

Sebenarnya tidak hanya sinetron Inayah yang menjadi persoalan. Sinetron remaja pun juga perlu diwaspadai. Misalnya masih remaja sudah berani berciuman, bahkan lokasinya di lingkungan sekolah. Sekarang kita hanya bisa berpangku tangan kepada KPI untuk segera melarang tayangan sinetron Inayah, jika tidak maka akan banyak korban ‘moral’ yang akan diakibatkan oleh tayangan ini. ***

Jumat, 30 Oktober 2009

Ada Poligami di Hati Lelaki

Bicara masalah Poligami, ternyata tidak akan pernah ada habisnya. Banyak hal yang perlu dikupas dan dikaji lebih mendalam lagi, sehingga seseorang itu paham dan mengerti arti sebenarnya dari Poligami. Tidak sekedar tahu cerita, baik itu senang maupun susahnya.

Padahal, jika dikaji lebih jauh, Poligami lebih menguntungkan pihak wanita. Kenapa demikian, karena dengan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga yang sebegitu banyak, belum lagi mengurus anak, maka dengan adanya lebih dari satu wanita (sebagai istri -red) maka beban yang banyak itu akan terasa ringan jika dikerjakan dengan pembagian itu.

Itulah kenapa dalam Islam diperbolehkan seorang laki-laki itu memiliki istri lebih dari satu. Setidaknya, ada yang bagian menyapu, memasak, mencuci baju, dan seterusnya. Tapi jika tidak, maka pekerjaan sebanyak itu hanya dikerjakan sendiri, dan ujung-ujungnya lelah dan berakhir dengan kericuhan dalam rumah tangga. Tidak hanya itu, istri pun tidak sempat bersolek untuk suaminya, karena sibuk dengan pekerjaan rumah tangga.

Dari sinilah, maka akan timbul yang namanya perselingkuhan. Bahasa perselingkuhan, merupakan perhalusan bahasa dari kata perzinahan. Meski selingkuh, itu pun tidak ubahnya seorang lelaki yang pergi ke lokalisasi. Ujung-ujungnya juga perbuatan zina. Hal ini terjadi, sebenarnya tidak hanya pihak suami yang disalahkan. Tapi dari pihak istri pun juga memberikan 'peluang' kepada suami untuk berbuat yang demikian.

Lho kok bisa? Tentu bisa, soalnya saat di rumah si istri jarang -bahkan nyaris tidak pernah- bersolek. Jika pun pernah, sebagian besar hanya untuk keperluan ke luar rumah. Misalnya ke pengajian, arisan, ke mall, ke pasar dan sebagainya. Sedangkan saat di rumah, yang ada si istri sudah bau trasi, atau bau asap dari api elpiji.

Wanita Penyebab Suami Selingkuh
Tidak jarang kita mendengar istilah selingkuh -bukan Selingan Indah Keluarga Utuh lho!- Istilah yang kini lagi ngetren, tidak hanya dikalangan orang biasa, PNS, pejabat, atau bahkan anggota dewan pun ada yang terjangkiti 'virus' ini.

Istilah halusnya memiliki WIL (wanita idaman lain). Kenapa hal itu terjadi? Ini bukan untuk menghakimi wanita yang selalu disalahkan, tapi mengungkap fakta dibalik kejadian yang sebenarnya. Suami melakukan selingkuh atau ke lokalisasi, karena mereka merasa takut akan mengungkapkan untuk ijin ber-Poligami. Soalnya, sebagian besar wanita beranggapan bahwa Poligami itu tabu untuk dibicarakan apalagi dilaksanakan.

Nah! Disinilah peran istri juga menentukan, kenapa suami suka selingkuh atau ke lokalisasi. Ini juga peran istri untuk membuka api neraka dalam keluarga. Lho kok bisa? Jelas bisa, pasalnya si istri tidak mau suaminya nikah lagi alias melaksanakan Poligami. Padahal, jika si istri mengijinkan, kemungkinan suami untuk selingkuh atau 'jajan' di luar dapat dicegah.

Tapi hingga kini belum ada keikhlasan istri untuk 'berbagi' cinta (baca: suami) dengan wanita lain. Padahal, dalam Islam sudah dijelaskan agar kita ummat Islam untuk memperbanyak ummat.

Untuk itu, bagi para istri, renungkanlah! Jangan karena kecintaan dunia membuat mata hati buta akan keberadaan akhirat yang telah dijanjikan oleh Allah. Jannah (surga) telah disiapkan, bagi mereka yang menurut pada suami, selama itu tidak melanggar norma-norma agama. Dan Istri yang baik adalah istri yang sholihah.

Rabu, 28 Oktober 2009

Kiamat Sudah Dekat















Tanggal 12 Desember 2012, disebut-sebut sebagai kiamat dan berakhirnya dunia ini. Jika kita cermati, maka ini hanya rekayasa manusia yang hanya mencari keuntungan pribadi dan ketenaran semata. Bagaimana hal itu bisa? Masihkah kita ingat saat mereka yang mengaku 'para pemilik' indra keenam menyatakan kiamat akan terjadi pada tangga 9 September 1999. Hanya dengan analisa pertemuan angka 09091999, mereka menyatakan akan terjadi sesuatu yang maha dahsyat.

Tapi apa yang terjadi, semua prediksi itu lebur oleh sang waktu. Waktu-lah yang akan berbicara. Adalagi yang menyatakan tanggal berapa lagi kiamat, ternyata hal itu pun kandas. Kini muncul lagi analisa yang dari mana asalnya, menyatakan tanggal 12 Desember 2012, akan terjadi kiamat. Hasil analisa saya, mereka hanya menggunakan tanggal yang sebagian besar triple. Demikian juga dengan tanggal tersebut, yakni 12122012.

Jika kita umat Islam, tentu kita tahu, bahwa kiamat itu ada dua, yakni kiamat sughro (kecil) dan kiamat Kubro (besar). Kiamat kecil, sebagian besar manusia juga telah mengalaminya, yakni saat nyawa mereka dicabut dari raga. Nah! inilah yang dinamakan kiamat kecil. Sementara kiamat Kubro adalah hancurnya semesta alam ini.

Kiamat yang kedua ini, dapat terjadi karena juga ulah manusia yang telah meninggalkan agamanya, kemaksiatan sudah terjadi di mana-mana, pemimpin yang tidak adil, dan masih banyak lagi.

Dalam sebuah Hadits disebutkan: "Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali asing pada saatnya nanti. Maka berbahagialah bagi mereka yang dianggap asing (di muka bumi)".

Ini menunjukkan, bahwa jika orang yang memegang teguh agama sudah dianggap asing, dan mereka mencela serta menghinanya. Maka ini salah satu dari sekian banyak tanda-tanda kiamat. Tidak hanya itu, orang yang berkecimpung dalam dunia lokalisasi (pelacuran) dibiarkan, sementara orang yang beribadah dan berdakwah diawasi (seperti saat gencarnya isu bom dan teroris), Kapolri menyatakan untuk mengawasi dakwah di tempat-tempat ibadah.

Sebagaimana kita ketahui, perjudian, pelacuran, orang tua menghamili anaknya, anak berani sama orang tua, atau kejadian-kejadian aneh yang tidak wajar yang ditunjukkan oleh alam, bisa jadi merupakan tanda-tanda kiamat. Tapi dalam Al-Qur'an telah dijelaskan, bahwa masalah kiamat merupakan rahasia Ilahi. Jadi tidak ada yang tahu kapan kiamat itu akan terjadi. Yang pasti kiamat itu akan datang pada kita semua.

Dan yang pasti kiamat itu tidak lagi sudah dekat, Kiamat Makin Dekat. Karena waktu terus berputar, hari terus berganti, dan sang surya juga akan kehilangan sinarnya. Untuk itulah marilah kita terus berbuat kebajikan untuk menyongsong hari penghitungan (hisab) ini.

Dan pada tanggal 12 Desember 2012, Insya Allah juga benar terjadi kiamat. Yakni kiamat syughro, kiamat kecil seperti kematian. Karena kiamat kubro hanya Sang Kholiq yang tahu. Jika kiamat syughro, di dunia setiap jam berapa orang meninggal?

Inayah, Perusak Keharmonisan Rumah Tangga

Jangan salah persepsi dulu! Inayah di sini bukan seorang gadis penggoda, juga bukan gadis cantik nan seksi. Juga bukan (maaf) janda cantik nan genit yang lama tidak merasakan sentuhan tangan seorang lelaki. Tapi Inayah di sini adalah sebuah judul sinetron yang ditayangkan di televisi swasta, Indosiar.

Sebelumnya, judul sinetron ini adalah 'Hareem', karena mendapat teguran dari KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) dan beberapa tokoh agama, akhirnya judulnya diganti dengan Inayah. Meski demikian, tayangannya tidak berubah. Selain itu, ceritanya mulek (baca: membingungkan). Kenapa membingungkan? Karena yang isinya meluluh pertengkaran, iri, dengki, bahkan mengajari perbuatan yang tercela seperti meracuni atau bahkan mencelakai anggota keluarga sendiri.

Salah satunya, saat adegan pemotongan slang (pipa) LPG. Bagaimana sinetron ini 'meracuni' pemirsanya untuk selalu debat kusir, saling cemburu, dan menyingkirkan satu dengan yang lainnya.

Jelas di sini adanya unsur pemutarbalikan fakta. Maksud saya, dalam agama manapun dan dalam kitab manapun, yang namanya hidup berumah tangga adalah untuk menciptakan keharmonisan rumah tangga, saling berbagi, saling pengertian, saling menjaga perasaan, atau pun saling tolong-menolong dalam kehidupan berumah tangga.

Jadi jelaslah, dalam sinetron Inayah itu, ada semacam 'pencekokan' nilai-nilai kebencian di dalam rumah tangga. Ini tidak dapat disangkal lagi, pasalnya apa yang menjadi tontonan dan kehiduapn disekitarnya akan sedikit banya mempengaruhi prilaku seseorang. Jelas pula sinetron Inayah tidak mendidik, tidak memberikan bimbingan yang positif.

Alangkah baiknya jika sang sutradara memperhatikan itu. Disamping itu, alangkah bijaksananya jika para pemain (artis/aktor) sinetron itu memperhatikan bobot dan alur cerita sebelum teken kontrak. Bukan sekedar hanya memburu honor (HR) yang gedhe tanpa memperhatikan norma dan efek yang ditimbulkan dari sinetron tersebut.

Dari beberapa episode sinetron Inayah, tampak jelas tujuannya adalah menyoroti salah satu persoalan yang saat ini menjadi perbincangan orang banyak, yakni isu POLIGAMI. Tapi mengapa di sinetron itu digambarkan, dalam rumah tangga yang suaminya lebih dari satu itu penuh konflik. Tidakkah kita dapat mengaca pada kehidupan yang lebih positif. Coba potren kehidupan poligaminya Puspo Wardoyo, yang sukses dengan mengembangkan warung Ayam Bakar Wong Solo.

Bahkan di Kertosono, Jawa Timur, juga ada seseorang yang sebelumnya memiliki satu istri kehidupannya biasa-biasa saja. Tapi saat ia memutuskan untuk menambah istri satu lagi, kehidupannya semakin baik. Dan akhirnya istri pun menyetujui jika suaminya beristri empat (Poligami). Ini tidak pernah diekspos, tidak pernah diangkat dalam sebuah sinetron yang berdasarkan kisah nyata.

Sayangnya, sinetron hanya mengambil sisi negatifnya dan itu hanya berupa rekayasa belaka. Jika mau jujur, setiap lelaki pasti ingin memiliki lebih dari satu istri. Jika mau sadar, saat ini perselingkuhan dimana-mana, prostitusi pun merajalela. Jika itu terus dibiarkan, semua pun akan menerima akibatnya.

Sinetron Inayah, merupakan 'penghinaan' kepada Islam, yang notabene memperbolehkan poligami. Sinetron Inayah, perupakan ajang untukmengadu domba diantara anggota keluarga. Sadar atau tidak, yang saban hari berada di depan televisi menyaksikan sinetron ini, langsung atau tidak langsung, lambat laun akan terpengaruh juga dengan kebencian dan pembodohan terhadap masyarakat.

Sadarlah bagi sutradaranya, pemainnya dan seluruh pihak yang terlibat didalamnya. Jika sampai ada keluarga yang berantakan gara-gara melihat sinetron Inayah, Saudara juga menanggung dosanya yang akan Anda dipertanggungjawabkan kelak.

Sebelum terlambat, kepada masyarakat .... saya hanya bisa menghimbau untuk tidakm melihat tayangan sinetron ini, jika tidak ingin keluarga Anda berantakan.

Saya juga mohon maaf, jika dalam tulisan ini ada yang salah.

Selasa, 27 Oktober 2009

Edan! Siswa SD Dicekoki Bacaan Porno

Tragedi bacaan yang ada di soal UTS SD di Sidoarjo, bukan tidak mungkin itu disengaja. Kenapa dapat disimpulkan demikian, salah satunya tulisan tersebut distipo. Ini membuktikan tulisan itu sebelumnya disengaja, tapi mungkin karena ada yang tidak setuju, kemudian alternatifnya distipo itu.

Prihatin memang, kita dengan dunia pendidikan di Indonesia. Disaat pemerintah lagi gencar-gencarnya memperhatikan dunia pendidikan agar dapat lebih maju. Salah satunya dengan dicairkannya dana sertifikasi, dana pembangunan, BOS, dan sebagainya. Ternyata hal itu tidak membuat beberapa pendidik itu berusaha untuk meningkatkan kualitasnya. Justru anehnya, 'sunat-menyunat' dana bantuan dari pemerintah kerap terjadi. Baik itu dilakukan oleh pihak sekolah maupun kantor yang dilalui dana tersebut.

Sungguh sangat tidak berpri kemanusiaan, seorang anak SD -yang mungkin juga tidak paham dengan kata-kata tersebut- tapi mereka pastinya akan penasaran dan menanyakan pada orang lain. Suatu potret buram pendidikan di Indonesia, selalu saja terjadi.

Apalagi hal itu terjadi, sehari sebelum peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-81. Ini seharusnya menjadi perhatian serius dari pihak berwenang. Dan tentunya, tim perumus soal juga harus bertanggung jawab terhadap apa yang telah dibuat, bukan bersembunyi dibalik kata-kata khilaf. Jika tidak ada tindakan tegas dari pimpinannya, dikhawatirkan hal itu akan terjadi pada tahun-tahun mendatang. Setidaknya dengan adanya sanksi, diharapkan mereka akan lebih berhati-hati dan memberikan efek jera pada pelakunya.

Perlu diperhatikan juga, bahwa siswa SD merupakan generasi penerus bangsa. Jika tidak sedini mungkin dididik dengan hal-hal yang positif, maka bukan tidak mungkin lima atau sepuluh tahun lagi akan terjadi keruntuhan moral dari remaja kita.