BROSUR PMC Cell - Klik Gambar di Bawah Ini

BROSUR PMC Cell - Klik Gambar di Bawah Ini
PMC Cell - Master Pulsa Electric

Menggapai Kemuliaan Muslimah dengan Bimbingan Salaful Ummah

Senin, 14 April 2008

Membela Yang Bayar



Dengan membawa bendera demokrasi, kandidat calon bupati, gubernur, dan presiden mengumbar janji. Bahkan calon kepala desa pun ikut-ikutan untuk mendapatkan suara. Padahal, akibat yang ditimbulkan sangat dasyat. Sesama tetangga tidak akur, bahkan saling cemoohan, gara-gara beda dukungan.


HAL inilah yang membuat bingung Mbok Darmi. Ia khawatir jika orang-orang yang selama ini ngopi di warungnya beda pilihan, bisa-bisa mereka tidak lagi nongkrong di warungnya. Kekhawatiran Mbok Darmi cukup beralasan, karena warung itu satu-satunya mata pencahariannya.

”Gimana ya ini kalo Cak Hasan, Kang Brodin, Cak Semprul, dan Markuat beda pilihan? Bisa-bisa mereka sudah nggak ke warung ini lagi, nggak mau kumpul lagi,” guman Mbok Darmi dalam hati. Belum hilang lamunannya, ia dikejutkan oleh suara yang tidak asing lagi di telinganya yang memesan secangkir kopi.

Assalamu’alaikum.... Kopi Mbok, seperti biasanya,” pinta Cak Hasan yang langsung duduk di kursi panjang di warung itu.

”O... Cak Hasan, Wa ’alaikumsalam. Iya Cak, tunggu sebentar ya,” kata Mbok Darmi agak terkejut.

”Ada apa Mbok, kok ngelamun?,” tanya Cak Hasan penasaran.

”Ach! ndak kok Cak,” jawab Mbok singkat.

”Jangan bohong lho Mbok! Bohong itu dosa, apalagi membohongi diri sendiri,” pancing Cak Hasan agar Mbok Darmi mau cerita.

”Cak Hasan ini bisa aja...,”

”Lho bener lho Mbok, membohongi diri sendiri itu dosa,” sambil cengar-cengir melihat si mbok yang salah tingkah.

”Anu Cak, aku khawatir,”

”Khawatir apa Mbok?,”

”Khawatir jika dalam pemilihan bupati nanti kalian ada perbedaan,”

”Ha...ha...ha...emang kenapa? Khan beda pendapat itu lumrah. Terus apa hubungannya kekhawatiran si Mbok dengan perbedaan itu,”

”Aku khawatir nanti kalian jadi nggak akur lagi, kemudian tidak mau lagi mampir ke warung ini,” jawab Mbok Darmi polos.

”Aduh Mbok cuman itu toh persoalannya. Ya nggak lah Mbok, masak gara-gara pemilihan bupati terus kita nggak akur. Itu salah Mbok,” jelas Cak Hasan.

”Ini Cak kopi pesanannya. Tapi itu sudah banyak kejadiannya lho Cak!,” tambah Mbok Darmi.

Assalamu’alaikum....,” Markuat dan Kang Brodin datang secara bersamaan.

Wa ’alaikumsalam....,” saut Mbok Darmi dan Cak Hasan hampir bersamaan seperti dikomando.

”Eh...kalian berdua, mau pesen kopi juga?,” tanya Mbok Darmi.

”Iya Mbok. Kali ini kopi manis aja ya Mbok,” pesan Kang Brodin.

”Saya juga Mbok,” Markuat juga ikut-ikutan Kang Brodin.

”Kadengaren kompak nich!,” seru Mbok Darmi.

”Ya iya lha Mbok, kita kan sehati he....he....he....,” jawab Kang Brodin sekenanya sambil tertawa cekiki’an.

”Kang, ini lho si Mbok khawatir jika kita beda pilihan, katanya kita tidak akan ke seni lagi,” kata Cak Hasan.

”Bener itu Mbok yang dibilang sama Cak Hasan?,” tanya Kang Brodin.

”Iya nanti siapa yang beli kopi di sini. Kalau nanti beda pilihan, kalian tidak akur, gimana ayo?,” jawab Mbok Darmi.

“Aduh Mbok.... kita ini sudah susah, jangan mau diadu sama yang memanfaatkan hanya untuk cari dukungan. Lihat yang ikut kampanye itu, kasihan mereka! Mereka hanya dijadikan alat untuk mendukung dan membela yang bayar. Akibatnya dengan tetangga sebelah tidak saling kenal,” kata Kang Brodin.

”Makanya itu si mbok khawatir seperti itu,” seru si Mbok.

”Nggak Mbok, kita akan tetap tidak lupa sama kopinya si Mbok. Iya khan Kang Brodin dan Markuat,” tutur Cak Hasan menenangkan Mbok Darmi.

”Iya dong,” jawab mereka berdua.

”Seharusnya, kalau dibilang demokrasi kenapa pakai kampanye segala. Siapa yang mencalonkan silakan, kemudian setelah diseleksi, khan bisa langsung dilakukan pemilihan. Jadi tidak mengorbankan orang kecil. Kita sudah susah, eh.... diadu domba dengan sesama tetangga tidak akur gara-gara beda pilihan. Mereka harus sadar untuk datang ke TPS, itu namanya demokrasi. Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat,” keluh Mbok Darmi soal pemilihan bupati secara langsung.

”Bukan dari rakyat, oleh rakyat, tapi untuk pejabat,” sambung Mbok Darmi menyindir.

”Ya itulah Mbok mencari massa, biar banyak dukungannya. Bahkan mereka rela mengeluarkan uang untuk membayar siapa saja yang mau datang. Biar kelihatan pendukungnya banyak,” celetuk Markuat.

”Nah yang ini tidak pair,” saut Mbok Darmi.

”Fair Mbok, bukan pair,” kata Cak Hasan membenarkan.

”Ya itu maksudku. Maklum lidahnya orang tua sering keseleo,” lanjut si Mbok.

”Aku juga setuju usulan Mbok tadi. Tidak perlu ada kampanye, rakyat langsung memilih. Atau kalau ada kampanye khan ada banyak cara, bisa lewat spanduk dan baliho, koran, atau radio,” sambung Kang Brodin.

”Sehingga tidak mengorbankan rakyat kecil. Masak rakyat kecil hanya dipermainkan, jika butuh seperti perhatian. Saat sudah jadi, giliran rakyat kecil ditendang. Apes-apes dadi wong cilik!,” seru Mbok Darmi.

”Ya itulah nasib wong cilik seperti kita-kita ini. Sudah susah, trus harga kebutuhan nggak pernah turun. Kalo ada pemilihan kita hanya dijadikan obyek penderita,” keluh Markuat.

”Kalo gitu khan kita nggak usah ribut-ribut lagi soal pemilihan bupati. Biar kita nggak jadi korban, bagaimana kalau kita usulkan ke KPUD untuk menghilangkan kampanye, yang ada debat terbuka antar kandidat. Itu pasti lebih seru dan tidak mengorbankan rakyat kecil,” usul Cak Hasan pada yang ada di warung Mbok Darmi.

”Setuju......................!!!,” saut semua yang ada di warung itu hampir bersamaan. ***

Tragedi Gembok



Di Malang, Jawa Timur, panti pijat memberlakukan karyawan wanitanya untuk mengenakan celana khusus dengan pengaman berupa gembok. Tapi di Jakarta, hal itu dianggap melecehkan kaum hawa.

KANG Brodin bingung mendengar berita di televisi yang menyatakan menolak pemberian gembok pada celana khusus bagi para karyawan panti pijat. Padahal itu sudah dilakukan beberapa tahun yang lalu. Penolakan itu mencuat saat Pemkab Malang berencana memberlakukan peraturan pemakaian gembok pada panti pijat, setelah mengetahui efektifitas gembok tersebut untuk menghindari pelecehan pada wanita.

Karena tidak menemui jawaban, ia pun mendatangi tempat berkumpulnya teman-temannya di warung Mbok Darmi. Ternyata di sana pun ia hanya mendapati Mbok Darmi seorang diri yang sedang melamun.


“Assalamu’alaikum…..!!!,” Kang Brodin menyapa Mbok Darmi.

”Waalaikumsalam!! Eh.... Kang Brodin. Tumben pagi-pagi sudah nongol?,” jawab Mbok Darmi.

”Iya Mbok, daripada bengong di rumah. Tolong buatkan kopi Mbok,” pesannya.

”Baik Kang, sebentar ya....,” bergegas Mbok Darmi bangkit dari duduknya dan menuju ke belakang untuk membuatkan secarngkir kopi.

”Kang aku heran lho melihat berita di televisi,” kata Mbok Darmi sambil mengaduk kopi.

”Heran gimana Mbok?,”

”Masak pemakaian gembok pada tukang pijat dipersoalkan, padahal itu khan untuk keselamatan dan mengurangi prostitusi. Bahkan para pejabat di Jakarta, baik yang laki-laki maupun yang perempuan menyatakan itu pelecehan terhadap wanita,”

”Nah.... ini yang tadi juga aku pikirkan. Karena tadi nggak ada yang tak ajak mikir, lalu aku ke warung si Mbok!,” terang Kang Brodin.

Sejenak perbincangan mereka terhenti, karena ada orang yang mampir ke warung si mbok.

”Assalamu’alaikum.....!!!,” kata orang itu mengucap salam.

”Waalaikumsalam,” jawab Kang Brodin dan Mbok Darmi bersamaan.

”Eh... ternyata sudah ada Kang Brodin di sini,” saut orang yang baru datang.

”O...a...lah..... kamu toh Cak, tak kira siapa?,” ujar Kang Brodin pada tamu yang datang ke warung Mbok Darmi. Ternyata yang datang Cak Hasan yang biasanya memberikan ’fatwa’ terhadap permasalah yang menjadi bahan diskusi si warung itu.

”Kok terlihat tegang, emang apa yang sedang jadi perbincangan kalian?,” tanya Cak Hasan.

”Gini lho Cak, masak panti pijat yang mengharuskan karyawannya memakai gembok pada celana khusus dipersoalkan? Apalagi dianggap melecehkan wanita? Apa ini dunia nggak terbalik,” jelas Mbok Darmi.

”Oh... itu toh persoalannya. Itu khan anggapan mereka. Jadi, anggap saja pemimpin kita yang tidak tahu malu, tidak punya moral, dan lainnya,” tegas Cak Hasan.

”Lho... lho... kok gitu toh Cak, jangan kasar-kasar nanti dituntut seperti yang dialami group musik Slank lho!,” kata Mbok Darmi mewanti-wanti.

”Lha gimana lagi Mbok? Masak mau melindungi kehormatan wanita malah disalahkan. Malah adalagi himbauan jika berhubungan badan dengan bukan pasangan resmi disediakan alat pengaman (baca: kondom). Apa itu bukan lebih melecehkan wanita? Apa itu bukan berarti meyetujui wanita hanya sebagai pemuas nasfu belaka?,”

”Sabar Cak! Sabar Cak! Iki diskusi apa ngajak berantem sih?,” kata Mbok Darmi.

”Bener apa yang dikatakan Cak Hasan, Mbok. Berarti mereka yang menyatakan itu pelecehan, mereka sebenarnya tidak memiliki moral. Buktinya, di televisi beberapa waktu yang lalu saja diberitakan, sudah pakai gembok saja ada yang berusaha merobek celana yang didesain khusus itu. Tidak hanya itu, ada juga yang membuat duplikat kunci. Lha bagaimana kalau tidak pakai gembok? Pasti wanita itu sudah jadi ’mangsa’ laki-laki yang mencari kesenangan semata,” terang Kang Brodin.

”Makanya prostitusi di Indonesia tidak dapat dilibas, tidak dapat ditutup. Lha wong pemimpinnya saja tidak setuju pada orang yang berbuat baik. Padahal wanita yang memakai gembok juga enjoy saja dengan gembok itu. Bahkan mereka banyak yang setuju karena dapat menghindari tangan-tangan nakal para lelaki iseng,” lanjut Cak Hasan.

Cak Hasan terus saja menerangkan segi negatif dan positifnya. Setelah itu Mbok Darmi berkata, ”Kalau begitu lebih banyak manfaatnya daripada segi negatifnya. Segi negatifnya, paling-paling pelanggan yang ke panti pijat hanya iseng semata sudah tidak datang”.

“Tapi wanita pemijatnya khan dapat lebih konsentrasi dan tanpa khawatir digoda atau diajak yang nggak-nggak,” tambah Kang Brodin.

“Ada lagi,” lanjut Cak Hasan.

”Apa itu?,” tanya mereka bersamaan.

”Buatkan aku kopi dulu, baru tak lanjutkan,” kata Cak Hasan membuat penasaran keduanya.

”Iya dech tunggu bentar,” saut Mbok Darmi sambil bergegas membuatkan kopi Cak Hasan. Setelah selesai, segera memberikannya pada Cak Hasan.

”Ini kopinya,” katanya.

”Iya Mbok, makasih ya,”

”Terus lanjutkan!,” pinta Mbok Darmi nggak sabar.

”Sabar dong, ini juga mau ngopi dulu. Uuuupppppsssshhh accch!!!,” Cak Hasan nyruput kopi pesanannya.

”Gini lho, ada satu bukti lagi. Pada berita di televisi beberapa waktu yang lalu, ternyata ada anggota DPR yang tertangkap diduga menerima suap. Anehnya lagi, saat ditangkap, anggota DPR itu ditemani wanita, yang dalam berita itu diduga seorang PSK,” terangnya.

“Ha.... yang Cak Hasan katakan itu benar toh?,” tanya si mbok keheranan.

“Lho lha iya toh, wong itu juga ditayangkan di televisi. Bahkan di koran juga ditulis. Malah yang anggota DPR itu juga suami dari salah satu penyanyi dangdut terkenal di negeri ini,” lanjutnya.

“Wah... wah... wah... ini bisa bahaya. Jangan-jangan pejabat yang melakukan rapat atau kunker ke luar daerah juga ada yang melakukan seperti itu. Ingin bersenang-senang dengan PSK dengan mencari lokasi di luar daerahnya?,” kata Kang Brodin.

“Jangan gitu dong Kang. Meski demikian, tidak semuanya khan wakil kita yang duduk di kursi empuk demikian. Ya moga-moga yang baik lebih banyak daripada yang tidak,” kata Cak Hasan bijaksana. ***