BROSUR PMC Cell - Klik Gambar di Bawah Ini

BROSUR PMC Cell - Klik Gambar di Bawah Ini
PMC Cell - Master Pulsa Electric

Menggapai Kemuliaan Muslimah dengan Bimbingan Salaful Ummah

Minggu, 24 Juni 2007

Opini-Catatan Akhir Tahun 2006

Penulis adalah Alumni FE Univ. Darul 'Ulum Jombang, Koordinator Komunitas Penulis Lesehan (KOPEL) Jombang dan tergabung dalam Komunitas Penulis Jombang (KPJ)



Sejarah telah membuktikan, bahwa keberadaan manusia lambat laun tidak semakin maju. Tapi sebaliknya mereka menuju pada jaman purba. Kenapa demikian? Saat ini, manusia sering tampil buka-bukaan di depan umum. Padahal saat jaman batu atau purba, mereka pun tampil 'bugil' karena belum ada pakaian. Tapi jaman sekarang?



Sejarah peradaban manusia -kata orang- semakin maju, modern atau sudah meningkat. Suatu tanda meningkatnya peradaban itu, seiring dengan pesatnya berbagai kebutuhan manusia. Seperti mudahnya berkomunikasi setelah adanya handphone, berita dari luar yang saat itu berlangsung, dapat juga kita nikmati pada saat itu juga di Indonesia, dan masih banyak lagi.

Dari segi teknologi, memang kita mengalami banyak perubahan, peningkatan dan kemajuan yang pesat. Meskipun kita hanya sebagai konsumen alias pemakai saja, karena sebagian besar produk yang beredar di Indonesia merupakan hasil produksi dari luar, baik itu handphone, motor, mobil, swalayan sdan masih banyak lagi. Tapi, apakah cukup dengan peningkatan teknologi? Terlepas dari majunya sebuah teknologi, tentu yang menjadi perhatian adalah moralitas.

Saat ini, kita sering mendengar, bangunan yang megah, diskotik dan bahkan legalnya lokalisasi. Hal ini dianggap sebagai 'simbol' peradaban makhluk sosial ini sudah memasuki stadium yang nyaris setaraf bangsa barat.

Kita juga sering mendengar, kalau seseorang belum mengenal narkoba, diskotik atau tempat-tempat prostitusi, dianggap kolot. Dengan kata lain, orang yang sudah merasakan diskotik, narkoba atau miras (minuman keras) dan blusukan ke lokalisasi hanya untuk kenikmatan sesaat dianggap makhluk yang sudah modern, tinggi peradabannya. Hingga beberapa wakil rakyat pun ikut-ikutan berbuat 'layaknya' manusia jaman dahulu.

Sementara, orang yang masih berpegang teguh pada budaya ketimurannya, norma dan adat dianggap kuno, ndeso dan sejenisnya. Suatu anggapan yang tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah.

Tidak ada salahnya kita merenung dipenghujung tahun 2006. Soal bencana di Aceh, dan sebagian besar negara-negara di Asia. Tidak ada salahnya kalau bencana tersebut terkait dengan ulah manusia, perbuatan tangan jahil yang seharusnya menjadi kholifah fil ardy. Ternyata kita manusia masih belum mampu menjadi pemimpin di muka bumi, tapi malah merusaknya.

Dapat kita rasakan, bagaimana hutan dibabat habis, hewan sebagai penyeimbang alam diburu. Atau eksplorasi bahan tambang yang tidak memperdulikan alam. Itu semua juga perlu kita renungkan. Jangan lantas bilang, "Tanyakan pada rumput yang bergoyang".

Kini, 'Warning' Allah telah diberikan. Sadar atau tidak, yang pasti berbagai bencana dan kejanggalan alam setidaknya menjadi tanda tanya besar bagi manusia. Seperti masih tersimpan dalam memory otak kita, bencana gempa dan dasyatnya gelombang pasang tsunami dipenghujung tahun 2004, tepatnya Minggu, 26 Desember 2004 yang meluluhlantahkan hampir 80 persen seluruh infrastruktur di Aceh (Nanggroe Aceh Darussalam/NAD) dan Sumatra Utara. Dari tayangan vidio amatir di televisi terlihat, tingginya gelombang tsunami memporakporandakan peradaban manusia. Seakan-akan manusia tidak berdaya menghadapi gelombang yang amat dasyat itu. Setidaknya ini jadi kajian bagi kita, ummat manusia. Bahkan setiap menjelang akhir tahun kita pun masih ingat dengan peristiwa itu, dan sadar atau tidak kita juga dibayang-bayangi bencana alam di sekitar kita akibat hujan deras dan hutan gundul.

Mengapa bencana itu terjadi di Aceh dan negara-negara rawan konflik. Banyak kemungkinannya yang telah diungkapkan beberapa peneliti, pengamat atau pejabat. Berbagai spekulasi itu, salah satunya yang terlontar karena Aceh selama ini di-"kuyo-kuyo", disia-siakan. Perang berkepanjangan baik itu sebelum kemerdekaan atau sesudahnya. Seperti awal masuknya Belanda, kemudian diberlakukannya daerah operasi militer (DOM) pada masa Orde Baru. Akibatnya, warga hanya dihantui rasa takut dari prajurit TNI dan keberadaan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Bahkan kekayaan alamnya, mereka hanya menikmati sebagian kecil saja. Salahkan bencana itu disebut peringatan dari Allah?

Setelah itu, secara berturut-turut gempa di Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi serta di pantai laut selatan. Manusia dibuat ketir-ketir. Setiap gempa dianggap akan diiringi dengan besarnya gelombang pasang tsunami.

Tidak hanya gempa. Luapan lumpur panas Lapindo di Porong, Sidoarjo juga bukti alam sudah mulai bosan dengan tingkah kita (ma'af mengutip lagunya Kang Ebit G Ade). Bahkan, jika ditilik, dalam salah satu foto yang berhasil diabadikan Samuel Johnson Sutanto, salah satu anggota Timnas Penanggulangan Lumpur Sidoarjo, menunjukkan suatu kejadian yang luar biasa. Foto yang diambil saat ledakan pipa gas Pertamina di lumpur Lapindo itu salah satunya, jika diamati dengan sesama membentuk lafadz Allah. Subhanallah.

Dan yang lebih menghebohkan lagi, banjir yang melanda Mekkah dan Mina, Sabtu, 22 Januari 2005 lalu. Suatu kejadian yang langka terjadi di Mekkah, saat musim haji tiba.

Keajaiban atau kejanggalankah ini?
Seharusnya kejadian itu jadi renungan, introspeksi dan kajian yang mendalam. Kejadian yang terakhir kali terjadi tahun 1945 itu, kini terulang ditahun ini.

Peringatan atau berkah? Itu yang seharusnya muncul dibenak kita.

Satu lagi, gempa di Palu, Sulawesi Tengah. Serentetan bencana yang seakan tak ada habisnya mendera Indonesia.

Kalau diamat-amati, tingkah manusia semakin edan-edanan, termasuk saya sendiri. Hukum rimba kembali digunakan. Sesama saudara seiman saling membantai, bahkan dibeberapa tayangan televisi atau berita media massa, seorang bapak tega 'makan' darah dagingnya sendiri. Lebih edan lagi, kakek yang sudah bau tanah tega berbuat asusila terhadap cucunya.

Satu lagi. Saat ini banyak orang Islam yang sudah bermobil, terutama kaum Hawa. Namun sayangnya, hanya untuk membeli secuil kain untuk menutup auratnya pun tidak 'mampu'. Tapi, jika untuk membeli peralatan rumah tangga, mobil mewah, motor dan sejenisnya mereka mampu. Dapat kita lihat, dalam tayangan di teve atau di sekitar kita. Rumah megah dengan segala perabotan yang serba wah. Namun sayang, akibat korban mode agar tidak ketinggalan tren mereka pun tidak melihat pantas atau tidak pakaiannya.

Inilah 'penjajahan' diera modern ini. Itulah yang dilakukan bangsa barat untuk menghancurkan umat Islam. Jika dilakukan 'perang' terbuka seperti di Palestina, Afganistan dan Irak tidak bisa, mereka pun menyerang dari moral. Dan itu merupakan 'penjajahan' yang amat sangat berbahaya, dibandingkan dengan 'perang terbuka'. Akibat yang ditimbulkannya pun sangat dasyat, tingginya angka pemerkosaan, pencabulan dan sejenisnya. Untuk itu, dalam kondisi tertentu, sebenarnya sang pemerkosa dan yang diperkosa sama-sama bersalah. Artinya, sang pemerkosa melakukannya karena bisa jadi tergiur oleh lekuk tubuhnya yang sengaja terlihat karena pakaian yang swerba minim dan juga karena ada kesempatan. Sementara korbanya, tidak jarang mereka memang menggoda dengan berpakaian yang sangat minim atau you can see.

Tidak hanya itu, merebaknya prostitusi, bahkan ada yang sudah dilegalkan -menurut hukum manusia (baca: pemerintah)- sebenarnya membuktikan bencana alam dan kejanggalan itu peringatan dari Allah.

Bahkan, orang menganggap kejujuran dan kepolosan seseorang hanya akan menenggelamkan dirinya sendiri dan bahkan nyaris tak ada kawan. Sementara yang berbuat maksiat, begitu mudah mendapatkan teman berkawan.

Apakah tidak edan!

Salahkah jika Allah memberikan 'warning'-nya pada manusia?

Kita sudah banyak berkubang dengan lumpur dosa. Saatnya kini kita untuk bercermin terhadap ulah kita sendiri diawal 2007. Bagaimana menurut Anda? Wallahu ?alam. ***

Tidak ada komentar: