BROSUR PMC Cell - Klik Gambar di Bawah Ini

BROSUR PMC Cell - Klik Gambar di Bawah Ini
PMC Cell - Master Pulsa Electric

Menggapai Kemuliaan Muslimah dengan Bimbingan Salaful Ummah

Jumat, 31 Oktober 2008

JOMBANG BICARA KETIKA CINTA BERTASBIH


Oleh:Bejo Daroini

Bicara boomingnya novel ketika cinta bertasbih (KCB),rupanya Jombang tidak mau ketinggalan.Minggu,26 Oktober 2008,hari yang bertetanggaan dengan hari peringatan sumpah pemuda,tanggal 28 Oktober, novel dwilogi karya Habiburrohman Elsyirazy yang menguntit sukses novel dan film Ayat-Ayat Cinta (AAC) ini di dedah dua nara sumber Adam Muhammad, wakil ketua Forum Lingkar Pena Jawa Timur yang berasal dari Jombang dan Muhammad Fadil Hikam yang menggantikan Marendra Darwis,penulis buku "Apakah Bibirmu Masih Perawan" yang urung hadir.

Acara yang di usung bendera Iqro' Club dan FLP Jombang ini berhasil menggerakkan 100-an pasang kaki untuk tandang ke acara yang di helat mulai jam 09:00-13:00 di gedung PSBR Jombang.

Peserta yang didominasi perempuan ini begitu antusias menembakkan pandangan dan perhatian pada uraian-uraian Adam Muhammad yang membedah novel yang sedang di garap filmnya ini dari sisi sastra dan Hikam dari pesan moralnya.

"Setelah orang membaca novel atau menonton AAC,banyak lelaki yang membayangkan menjadi sosok Fahri yang dicintai empat gadis cantik,dengan segala keilmuan dan keberuntungannya mendapat istri sholehah,cantik dan sekaya Aisyah.Tak sedikit pula perempuan ingin seberuntung Aisyah. Begitu juga fenomena yang muncul setelah boomingnya novel KCB ini",tutur Adam Muhammad.

Peserta tergelak begitu mendengar guyonan Hikam,"Saya sih mau seperti Azzam,tapi jangan jualan tempe dan pentolnya lah".

Ya, jangan berharap menemukan sosok Azzam,sang tokoh utama dalam novel KCB seperti 'sempurnanya' Fahri dalam AAC.Novel yang berkisah tentang lperjuangan seorang manusia untuk mencapai tujuan hidup. Abdulloh Khoirul Azzam,pemuda tampan, pandai,ulet,pekerja keras,bertanggung jawab,olahragawan alam berumur 28 tahun dari Jawa bertekad menempuh S1 di Mesir, namun baru selesai sembilan tahun karena nyambi kerja jualan tempe,bakso dan catering untuk membiayai kuliahnya dan keluarganya di tanah air setelah ayahnya meninggal.

Seperti AAC, novel ini tidak kalah dengan muatan cintanya,namannya saja ketika cinta bertasbih.Menanggapi kisah Azzam yang ingin meminang Anna,perempuan cerdas yang juga seorang penulis,namun ternyata urung karena sudah dilamar orang,Didik Ferdianto,peserta dari Sumobito, melontarkan pertanyaan apakah cinta memang harus diperjuangkan,bagaimana jika orang yang dicintai sudah menjadi milik orang lain.Pertanyaan ini jawab Hikam cinta diperjuangkan saat dalam konteks syar'i.Bertujuan mulia untuk menikah, bukan untuk pacaran.Jika belum sanggup untuk itu,hendaknya pandai-pandai menjaga diri agar tidak terjerumus dalam kemaksiatan dengan dalih atas nama cinta. Disinilah pentingnya jati diri yang benar agar mampu mengontrol cinta itu sendiri.Agar menjadi cinta yang bertanggung jawab,tidak hanya diliputi syahwat. Juga menanamkan sifat legowo jika ternyata bukan jodoh. Seperti Azzam yang legowo begitu tahu perempuan yang dikehendakinya untuk menjadi istri sudah dilamar orang, walaupun akhirnya, dengan kisah yang berliku-liku Annalah jodohnya.

Acara tidak terasa membosankan dengan guyonan yang sering dilontarkan para nara sumber. Acara ini di tutup dengan perekrutan anggota Iqro' Club dan FLP Jombang,dengan tujuan akan terjalin simpul-simpul yang bisa menjadi jaring, jika simpul-simpul itu sudah terangkai dengan kuat tinggal mencari ikan yang banyak dengan harapan organisasi ini menjadi jaring yang baik yang menghasilkan generasi yang baik-baik pula, untuk mengokohkan predikat Jombang sebagai kota santri,begitu tutur ketua Iqro' Club Jombang.