BROSUR PMC Cell - Klik Gambar di Bawah Ini

BROSUR PMC Cell - Klik Gambar di Bawah Ini
PMC Cell - Master Pulsa Electric

Menggapai Kemuliaan Muslimah dengan Bimbingan Salaful Ummah

Senin, 26 Oktober 2009

Pilkadal: Merusak Persatuan Bangsa

Pemilihan Kepala Daerah secara Langsung (Pilkadal), yang "diluncurkan" seiring dengan pelaksanaan Pilpres yang juga langsung beberapa waktu lalu. Katanya, Pilkadal dilaksanakan agar warga dapat langsung memilih pemimpinnya. Ini yang disebut demokratis.

Demikian diungkapkan Brodin, sang lakon saat ngopi di warung mbah thoyib bersama sejawatnya Ka Djin, Ka Chung dan Ka Mief.

"Tapi Din, dibeberapa daerah kok malah rusuh. Bahkan di Depok, hasil Pilkadal dianulir," protes Ka Chung.

"Itulah proses pembelajaran demokrasi. Jika tidak maka Indonesia tidak akan berkembang," bantah Brodin.

"Demokrasi lagi . Demokrasi lagi yang lain dong alasannya," saut Ka Djin.

Sejenak perbincangan mereka terhenti, Brodin menghisap rokoknya dalam-dalam sementara yang lain masih nyeruput secangkir kopi. Perbincangan mereka diilhami oleh kejadian-kejadian yang terjadi di beberapa daerah. Diantaranya, di Banyuwangi. Sebelum pelaksanaan Pilkadal, "aroma" perseteruan sudah mencuat. Termasuk isu agama juga digunakan. Kini, usai Pilkadal Banyuwangi, giliran anggota Dewan tidak menerima hasilnya.

Kemudian lagi, di Jember. Bahkan Kantor KPUD menjadi sasaran amuk massa, sehingga rusak. Itu beberapa catatan yang masih "terekam" di pikiran mereka. Sebenarnya tidak hanya di dua tempat itu, didaerah lain pun sempat memanas. Beberapa pendukung cenderung untuk "adu fisik" dan yang lebih mengherankan lagi Kantor KPUD ada yang diduduki. Akibatnya anggota KPUD ada yang "lari" menyelamatkan diri.

"Kalau demikian, apa bisa dikatakan demokrasi," ujar Ka Chung.

"Saya khan sudah menegaskan, itu sebagai prses pembelajaran," tutur Brodin menirukan logat anggota Dewan.

"Nah! Kalau melihat serentetan peristiwa itu, perlu dipertanyakan arti demokrasi. Sehingga tidak salah persepsi satu dengan yang lain," kata Ka Mief dengan bijaksana.

Untuk itu, lanjut Ka Mief -yang masih berstatus mahasiswa sebuah PTS ternama di kotanya ini- pelaksanaan Pilkadal saat ini perlu dikaji, dievaluasi dan diramesi. Sehingga pada tahun-tahun berikutnya -jika Pilkada masih langsung- tidak terjadi "adu massa", adu pendukung atau hanya memperbesar tim sukses saja. "Tapi persatuan dan kesatuan bangsa serta perdamaian dan kebersamaan warga juga harus dipikirkan. Jangan hanya memburu 'aku harus bisa ' eh salah aku harus menang! saja," tegas Ka Mief yang juga gandrung demo ini.

"Bener itu. Pasalnya, banyak warga yang usai Pilkadal malah 'plirak-plirik' sesama tetangga. Jadi perlu dikaji ulang pelaksanaan Pilkadal itu," tambah Ka Djin.

"Nah itu yang seharusnya kamu tanyakan, kamu ungkapkan," ujar Brodin menyetujui ungkapan sang aktivis.

Sekarang kita kembalikan kepada mereka para penguasa. Pelaksanaan Pilkadal tetap dipertahankan dengan mengorbankan persatuan dan menumbuhkan bibit-bibit permusuhan. Atau dikaji dan dievaluasi. Jika tidak layak diteruskan, ya distop dulu di daerah-daerah yang belum melaksanakan Pilkadal. Daripada membawa korban yang sis-sia. Tentunya para petinggi alias penguasa harus intospeksi dan belajar dari daerah yang sudah melaksanakannya. Sehingga tidak menambah daftar hitam bangsa.

Bagaimana menurut Saudara? ***

Robohnya Tembok Kejujuran Negeri


"Bu, aku berangkat sekolah," ucap Togel, siswa sebuah sekolah dasar saat berpamitan akan berangkat ke sekolah pada ibunya.

"Iya, hati-hati. Dan ini uang sakunya, tapi jangan untuk membeli es. Nanti sakit demam!," pesan ibunya pada anaknya yang semata wayang itu.

"Baik Bu. Aku tak jajan es. Assalamu'alaikum," janji anaknya sambil mengucapkan salam dan melangkahkan kakinya meninggalkan ruang dapur.

"Waalaikumsalam," jawab ibunya terus mengawasi langkah kaki anaknya, hingga hilang dibelokan jalan.

Sesampainya di sekolah, si Togel langsung bermain-main dengan teman-temannya, sambil menunggu bel masuk. Sejenak kemudian, bel tanda masuk berbunyi. Murid SD itu kemudian semburat masuk ke kelas masing-masing untuk menerima pelajaran. "Theng . theng theng ," suara nyaring bel yang terbuat dari besi saat dipukul tukang kebun memecahkan kesunyian kelas yang asyik menerima pelajaran. Setelah menjawab salam dari gurunya, satu per satu siswa mulai keluar ruangan kelas.

Tampak tiga orang siswa SD itu, Togel, Ka Djin dan Ka Chung. Mereka teman akrab yang tinggal se desa.

"Gel, ayo main surigendem," ajak Ka Chung kepada kedua temannya.

"Ok, yuk main," jawab Ka Djin dan Togel hampir bersamaan.

Sejenak kemudian, mereka sudah asyik bermain surigendem.

Mulanya, Togel yang ditutup matanya. Kemudian mencari kedua temannya. Jika tebakannya benar siapa yang dipegang, maka teman satunya itu yang ganti ditutup matanya. Begitu seterusnya.

Setelah lama bermain, ketiganya mulai haus dan lapar. Kemudian mereka menuju ke sebuah warung di dekat sekolah mereka.

"Bu, beli es," ujar Ka Chung.

"Saya juga, Bu," saut Ka Djin yang juga kepingin segera meminum es itu.

"Kamu kok diam saja, Gel. Ayo pesen apa kamu?," ujar Ka Chung yang melihat Togel hanya berdiam diri mematung.

"Tapi, aku tidak boleh membeli es sama ibuku. Katanya nanti sakit," jawab Togel.

"Kamu kan haus. Jadi ya minum aja nggak apa-apa. Ibu kamu kan di rumah, tidak bakal tahu," bujuk Ka Chung.

"Iya Gel, masak kami minum kamu tidak. Apalagi kamu juga haus," terang Ka Djin menimpali.

Sejenak Togel berfikir, ia dibuat bimbang oleh kedua temannya itu. Hatinya bertarung, satu pihak menyuruhnya membeli es, karena ibunya pasti tidak tahu. Sedangkan di lain pihak, hatinya berkata ia akan membohongi ibunya dan mengingkari janjinya untuk tidak membeli es.

Dalam kebimbangan itu, kemudian ia pun memilih untuk membeli es. Walaupun ia sadar hal itu telah melanggar janjinya pada ibunya.

Saat pulang, ia ditanya oleh sang ibu soal uang sakunya. Si anak menjawab, uang sakunya untuk jajan selain es lilin. Sang ibu pun percaya, karena ia tidak melihat langsung. Selain itu, anak sekecil itu mana mungkin berbohong tanpa menyelidiki kebenaran yang diucapkan anaknya.

Suatu fenomena yang sering kita temui saat ini. Tidak hanya orang dewasa yang pandai berbohong, anak kecil pun dengan polosnya dapat menilep kejujuran. Masyarakat yang terkenal dengan budaya ketimuran ini, kini sudah mencoba kebarat-baratan. Aneh memang, tapi itulah ilustrasi negeri ini. Bangsa yang sedang terpuruk ini mencoba bangkit kembali. Tapi, para penguasa rupanya tidak siap. Artinya, baik moral maupun sumber dayanya masih rendah. Mereka rela menari-nari di atas rakyatnya sendiri. Contoh konkritnya, lihat anggota dewan yang sebentar lagi lengser, mereka mencoba mencari keuntungan dengan berbagai cara. Baik itu dengan pesangon, atau gaji ke-13.

Sementara itu, rakyat menjerit karena harga pupuk dan obat-obat pertanian melangit. Sedangkan saat panen, harga gabah turun drastis. Sepertinya, petani yang mayoritas sebagai mata pencarian sebagian besar masyarakat hanya sebagai "mesin politik" yang hanya dimanfaatkan sebagai obyek kampanye. Setelah itu, janji tinggallah janji, yang terpenting ia telah duduk di kursi yang selama ini menjadi impiannya.

Persis seperti anak SD di atas, setelah apa yang ia capai berhasil, tak peduli "rambu-rambu" pengatur yang ia buat sendiri harus dilanggarnya. Ia hanya bilang, peraturan diciptakan untuk dilanggar. Kalau tidak ada pelanggaran, buat apa membuat peraturan. Bingung bukan?

Itulah keunikan sang penguasa, inginnya setiap langkah geraknya hukum jadi alatnya. Alat untuk meraih keuntungan pribadi. ***

Sang Waktu


Di sebuah kantor "bonafide", jam 07.00 Wib suasana masih terlihat sepi. Hanya ada dua tiga karyawan santai sambil ngrumpi di depan pesawat televisi. Mereka asyik bercanda, bahkan tertawa lepas, seakan tak punya beban tanggungan pekerjaan. Kadang bernyanyi, sepertinya tak menyadari bahwa itu sebuah kantor tempatnya bekerja. Kadang tertawa ngakak, seperti di rumah sendiri.


Sejurus kemudian, sebuah sedan yang tak asing lagi tentunya bagi karyawan, masuk halaman. Beberapa karyawan yang lagi santai itu, sontak terkejut dan mematikan TV lalu berhamburan ke meja masing-masing, pura-pura memainkan tut keyboard komputer, seakan-akan sedang sibuk menyelesaikan tugasnya.

Waktu tidak pernah terlepas dari kehidupan manusia. Setiap detik, menit, jam bahkan tahun selalu menjadi perhatian kita. Bahkan, dalam sebuah hadits Nabi menyebutkan, "Pergunakan lima waktumu, sebelum datang lima waktumu yang lain tiba .". Sehingga, kita harus mampu mempergunakan sang waktu se-efisien mungkin.

Bagi bisnisman, kehilangan waktu semenit saja berarti kehilangan jutaan bahkan miliaran rupiah. Demikian juga bagi pekerja, baik itu pekerja kantor atau pekerja berat. Mereka harus pandai-pandai menyiasati waktu, pekerjaan apa yang harus saya kerjakan hari ini, agar tidak membebani pekerjaan esok harinya.

Namun demikian, dengan adanya pengaturan waktu tersebut, maka setiap pekerjaan diharapkan akan dapat terselesaikan pada saat yang cepat, tepat dan cermat.

Suatu fenomena di dalam masyarakat, khususnya Indonesia, seperti yang terlukis dalam fenomena di atas bahwa dalam masyarakat sering menunda-nunda suatu pekerjaan. Yang lebih memprihatinkan lagi, istilah ABS (asal bapak senang) masih saja jadi "idola". Artinya, misalnya seorang pekerja kantor apabila sang "juragan" berada di kantor, ada saja yang dikerjakan. Bahkan, karena saking bingungnya pekerjaan yang tidak semestinya dikerjakan, dicandak (dilaksanakan). Nggak tanggung-tanggung, rekan sesama karyawan pun, kalau perlu "disikutnya", demi terlihat apik di depan sang juragan.

Sementara, saat sang juragan tidak ada di tempat, mereka lagi asyik "ngrumpi", tidak bergairah mengerjakan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan hari itu. Akibatnya, pekerjaan menumpuk, kemudian saat darurat bisanya marah dan main perintah. Ironisnya, yang diperintah itu justru atasannya. Tidak lucu memang, tapi itulah yang sering terjadi.

Tidak hanya di perusahaan, di pemerintahan pun demikian. Karena "anak buah" yang akan diperintah terlihat sibuk, sang pejabat pun mengurusi pekerjaan yang seharusnya dilakukan anak buahnya. Bahkan, ada sebagian orang, yang sebaliknya. Mereka bekerja tanpa memperhitungkan waktu, sampai-sampai tidak sempat berfikir untuk menikah. Baru setelah usia di atas kepala tiga, mereka kebakaran otak. Karena pikirnya, "no time for love" dan "time is money" alias tidak kenal cinta sebelum meraih kejayaan.

Untuk mengatasi hal-hal yang tidak diinginkan seperti gambaran di atas, tentunya menyadarkan kita tentang arti penting sang waktu dalam kehidupan kita. Dalam keadaan yang demikian itu, kita harus melihat diri kita sendiri, tanamkan rasa tanggung jawab dan memiliki pada perusahaan tempat kita mengais rupiah. Bagaimanapun juga, jika perusahaan gulung tikar (baca: rugi, tutup), tentu kita juga kahilangan pekerjaan.

Masih jelas dalam ingatan kita, unjuk rasa (baca: demo) kasus PHK di DI (PT. Dirgantara Indonesia), PHK diberbagai perbankan. Bagaimana seandainya terjadi pada diri kita? Perlu kesadaran dalam bekerja, Anda untung dapat gaji, perusahaan juga tidak dirugikan.

Kembali kepada sang waktu, untuk dapat bekerja secara maksimal, ada beberapa hal yang dapat dijadikan acuan. Sehingga pekerja dapat diselesaikan secara optimal, yakni: Kerjakanlah tugas yang Anda sukai terlebih dahulu daripada yang tidak Anda sukai. Kerjakanlah pekerjaan yang telah Anda ketahui caranya lebih cepat, daripada yang tidak Anda ketahui. Kerjakanlah tugas yang Anda anggap paling mudah terlebih dahulu kemudian yang sulit. Kerjakanlah tugas yang memakan waktu lebih cepat daripada yang lama. Kerjakanlah pekerjaan yang bahan-bahannya sudah tersedia. Kerjakanlah tugas-tugas yang telah direncanakan daripada yang di luar rencana. Tanggapi keinginan orang lain sebelum keinginan kita sendiri. Kerjakan hal-hal (tugas) yang mendesak sebelum hal-hal penting yang lain. Siap menghadapi hal-hal yang darurat atau kritis. Kerjakan tugas yang menarik terlebih dahulu daripada yang tidak menarik.

Dengan memperhatikan beberapa hal penting tersebut di atas, Anda diharapkan mampu menyelesaikan tugas dan tanggung jawab dengan tepat dan tanpa beban. Buatlah suasana kerja yang menyenangkan, jangan ada miscomunication di antara karyawan, apalagi karyawan dengan atasan.

Sehingga, tidak menambah dan menumpuk beban kerja, dan pikiran menjadi lebih tenang. Hidup lebih menyenangkan, kerja enak dalam suasana kebersamaan. ***

Sejarah Negeriku


Sejarah .....

Dunia mengakuinya!!!

Mulai ekonomi, politik, sosial, budaya

Kau tulis hitam di atas putih

Hingga orang mengerti kehidupan dulu dan kini

Tapi ......

Sejarah tak selamanya enak dibaca

Karena sekarang

Sejarah dapat dirubah

Sesuka sang penguasa

Dijadikan alat

Untuk mempertahankan posisi

Saat aku melihat fenomena wajah negeriku kini, aku mulai teringat saat aku mempelajari Sejarah Nasional Indonesia (SNI) di bangku sekolah dasar. Saat itu, yang tercermin rasa nasionalisme, berjuang mengusir penjajah, maut siap menghadang di depan mata. Intinya, berjuang untuk kemerdekaan negeri, tempat aku dilahirkan dan dibesarkan.

Seiring dengan perjalanan negeriku, aku mulai berfikir, di manakah sejarah negeriku kini? Yang hitam bisa jadi putih, yang putih bisa dibalik hitam. Dan, ternyata sekarang jelas, penjajah negeriku tiada lain negeriku sendiri. Setelah sekian lama dijajah Jepang dan Belanda serta Inggris, cerita kakekku, kini tiba saatnya menjajah negeri sendiri.

Bahkan, guru sejarah pun dibuat bingung, apalagi muridnya. Sejarah kian tak jelas, buram dan beberapa orang hanya bisa meraba-raba sejarah. Bahkan, rasa nasionalisme pun mulai pudar. Anak-anak yang berseragam merah-putih pun sudah disuguhi tayangan-tayangan televisi yang menjauhkan diri dari nasionalime.

Saat kubuka lembaran-lembaran buku sejarah, ternyata kata orang, itu sudah usang. Layaknya perubahan cerita sejarah, dari Orde Lama ke Orde Baru, yang terlihat Orde Lama hanya jeleknya saja. Demikian pula saat era Reformasi berkumandang, Orde Baru yang dulu diagung-agungkan dengan berbagai keberhasilan membangun sebuah negeri, ibarat pesawat jatuh, langsung nyungsep menjadi bahan cemoohan, hinaan atau hujatan.

Akibatnya, negeriku hanya dijadikan bahan guyonan negara adi kuasa yang memiliki power dan dijadikan alat untuk memperkuat barisan negara-negara besar. Yang lebih menyedihkan lagi akibat hilangnya rasa nasionalisme, negeriku kini menjadi jajahan lagi. Penjajahan secara halus, penjajahan ekonomi dan moral.

Secara ekonomi, negeriku kaya akan hasil bumi. Namun, negara adidaya seperti USA dan Negeri Sakura, Jepang yang mengolahnya. Selain itu, lebih parah lagi, kita lebih suka produk luar dari pada produk dalam negeri. Hal ini menunjukkan, kita belum 'pede' kalau tidak memakai produk luar negeri. Konsumtif sengaja diciptakan oleh produsen. Akibatnya, cinta produk Indonesia hanya sebatas slogan semata.

Bahkan, tidak hanya penjajahan dibidang ekonomi saja, moral pun diserang. Lihat kembali ulah blo'on Shin Chan, salah satu contohnya. Lalu tayangan film barat yang sedikit banyak telah masuk ke sel-sel sendi culture negeriku. Kalau tidak ada keinginan dari seluruh elemen masyarakat, tentu tidak akan berhasil membendung gelombang penghancur moral, pemusnah budaya ketimuran negeri.

Lihat cara putri pertiwi bersolek kini, cara berjalan saat sekarang dan bagaimana pergaulannya. Bebas, itu mungkin ungkapan yang pas. Walau tidak semuanya. Ia mulai berdandan ala You can see atau pakai rok tinggi di atas lutut tanpa risih. Seakan pemandangan seperti itu sudah 'wajib' hukumnya untuk dilakukan.

Ironis memang, mengenal budaya sendiri ogah-ogahan. Tapi mengadopsi budaya luar untuk merusak budaya sendiri secara terang-terangan, tanpa rasa sungkan. Rasa malu yang ditanamkan oleh orang tuanya, seakan kikis oleh rasa ingin tahu. Rasa dosa yang dilarang agama, seakan sirna oleh rasa ingin mencoba.

Sejarah, ternyata mampu merubah segalanya dalam sekejap. Bahkan, membutakan mata dari peristiwa silam. Kini yang perlu dipertanyakan, layakkah sejarah negeriku saat ini dipelajari? Sejarah yang mana kita tularkan kepada anak-cucu kita, karena setiap pergantian tahta selalu diiringi perubahan cerita.

Setiap episode selalu berubah, menurut berbagai versi selalu terjadi revisi. Siswa SD pun bingung dengan pelajaran sejarah.

Sehingga sempat hinggap dalam benakku, sejarah yang perlu dipelajari adalah sejarah keluarga. Bukan keluarga siapa-siapa, tapi keluarga negeriku. Kalau tidak bisa, ya keluarga orang tua, kakek-nenek, hingga mbah buyut kita sendiri. Karena aku terinspirasi suatu kata bijak menyatakan, dunia tanpa kenangan takkan ada kemajuan. Sehingga generasi keluarga kita tidak musnah.

Sejarah, sejarah, semoga kau tak ternoda oleh perusak bangsa. Semoga kau tidak jadi alat penguasa, tapi jadilah dirimu sendiri sejarah. Lalu, mana sejarah yang benar? ***

Minggu, 25 Oktober 2009

Mbok Darmi dan Klub Poligami

Beberapa hari terakhir, banyak media, baik itu cetak maupun elektronika membahas keberadaan klub poligami yang ada di Bandung. Akibatnya tentu bisa ditebak, ada yang pro dan tidak sedikit yang kontra. mengapa hal itu terjadi?


Mbok darmi sedang sendiri, ia mulai bersih-bersih tempat jualannya yang pagi itu baru aja usai diguyur hujan lebat. Sambil terus memasang telinga dan sesekali mata melirik ke arah tivi-nya yang dwi warna, ia terus asyik menata meja dan dagangannya. Ia terlihat serius dengan tivi-nya, yang saat itu lagi mengupas soal berdirinya klub poligami.

"Waduh.... wong-wong soyo edan ...... wong poligami kok ya dipersoalkan. Jelas-jelas ada tuntunannya. Kok ya banyak orang yang nggak setuju," pikir Mbok Darmi sambil terus bersih-bersih.

Dalam diamnya, ia terus berpikir, kenapa wanita takut suaminya poligami. Bahkan malah lebih memilih mengijinkan suaminya ke lokalisasi? Mereka lebih takut kehilangan suami daripada dosa yang mereka tanggung nantinya. Mereka lebih memilih cinta dunia daripada akhiratnya. Edan... bener-bener jaman wis edan tenan.

Itulah yang menjadi pikiran Mbok Darmi di pagi buta itu. Ia pun semakin bingung dengan pola pikir orang jaman sekarang. "Apa sekarang sudah banyak orang pintar, atau sebaliknya?," pikiran Mbok Darmi semakin ngelantur yang dipikirnya.

Tiba-tiba, tanpa disadari Cak Hasan dan Kang Brodin sudah berada di depan pinti warungnya. Mbok Darmi agak terkejut mendengar salam orang yang sudah di dekatnya. "Assalamu'alaikum....," ucap Cak Hasan dan Kang Brodin hampir bersamaan.

"Eh.... Wa alaikumsalam.... eh.. sampeyan toh! Tumben kok pagi-pagi sudah kesini?," tanyak Mbok Darmi.

"Iya Mbok, ini lho kan baru hujan, jadi ya cari yang hangat-hangat gitu lho!," saut Kang Brodin.

"Bener Mbok. Dingin-dingin enaknya minum kopi hangat plus makanan ringan khasnya, pisang goreng. Pasti enak tenan, Mbok," tambah Cak Hasan.

"Yo wis... monggo duduk dulu, tak buatkan kopi,"

"Lho Mbok, pean kok yo mengikuti berita klub poligami?," tanya Cak Hasan.

"Lha emang kenapa? Nggak boleh toh?," jawab Mbok Darmi sambil mempersiapkan cangkir untuk membuat kopi.

"Ya nggak gitu Mbok!!! Emang Mbok ini setuju toh?," saut Kang Brodin yang sejak tadi hanya sebagai pendengar.

"Ya... sebenarnya setuju. Soalnya sekarang



bersambung

Sabtu, 10 Oktober 2009

Bencana, Siapa Yang Salah?

Bencana yang melanda Indonesia akhir-akhir ini, seharusnya disikapi dengan merenungkan apa yang telah terjadi di muka bumi. Jika kita mau lebih bijak menyikapinya, tentu saja setiap bencana itu bukan saja karena kondisi alam. Lebih dari itu, karena sikap dan tingkah laku manusia yang tidak lagi mau mengindahkan norma-norma agama.

Mengapa demikian? Jawabnya karena prilaku manusia yang sudah di luar batas dan norma-norma agama. Bagaimana sekarang ini prostitusi merajalela, bahkan mereka berani terang-terangan menentang peraturan yang tidak berpihak pada mereka. Tidak sedikit dari mereka yang melakukan aksi telanjang di tempat umum. Tidak itu saja, perjudian, minuman keras ataupun pencurian juga marak dilakukan.

Suatu fenomena yang jika diruntut, tidak jauh berbeda dengan kondisi jaman para nabi. Dan akhirnya mereka pun akan dihapuskan dari muka bumi dengan berbagai bentuk dan cara. Salah satunya dengan memberikan 'lampu hijau' atau 'warning' kepada mereka melalui berbagai bencana. Sungguh ironis memang, jika semua orang tidak menyadari hal itu. Mereka masih beranggapan karena itu merupakan akibat dari alam yang tidak bersahabat dengan manusia.

Jika kita lihat dan kita amati, mereka yang berduit baru terketuk hatinya untuk menyumbangkan sebagian hartanya untuk korban bencana yang telah disiarkan dan diberitakan secara besar-besaran dimedia. Tapi kenapa mereka baru mengulurkan tangan saat bencana sudah terjadi?

Bukankah sebelumnya mereka dapat menyumbangkan dan hasilnya dapat diberikan kepada yang tidak mampu, sehingga dapat memperbaiki kondisi ekonomi mereka. Kesejahteraan ummat dapat terwujud. Jika kita lihat, dalam sepekan saja, sumbangan korban dapat mencapai miliaran hingga triliunan rupiah. Kenapa itu tidak dilakukan saat kondisi yang baik dengan mengulurkan kepada yang miskin?

Tidak itu saja, kondisi ini diperparah dengan pelaksanaan ibadah haji yang kuotanya sudah habis hingga sekitar lima tahun ke depan. Padahal, jika kita amati, masih banyak anak yatim piatu dan kaum fakir yang ada di sekitar mereka lebih membutuhkan. Apakah hanya karena predikat 'Haji' kemudian melalaikan kondisi sekitar lingkungan? Mudah-mudahan tidak demikian. Pasalnya jika itu terjadi, maka amat berat cobaan yang akan ditanggungnya.

Semoga tulisan sedikit ini dapat menggungah hati kita semua untuk memulai dengan satu langkah untuk lebih memperhatikan lingkungan tepat kita tinggal terlebih dahulu. Untuk saling membantu saudara-saudara kita yang belum beruntung. Semoga dengan yang demikian itu dapat mengurangi perampokan, pencurian, dan perbuatan maksiat lainnya.

Sebagaimana diketahui juga, untuk memberantas miras pun sebenarnya tidak sulit, jika mereka mau dengan menutup pabrik atau rumah produksinya, sehingga tidak perlu lagi harus melakukan razia ke warung-warung. Yang terpenting adalah bagaimana menghapus kemaksiatan itu dari akarnya, bukan langsung dari ranting-ranting atau dahannya. Wallahu 'alam.

Minggu, 26 April 2009

Caleg = Calone Gendeng

Pagi itu suasana di desa tempat tinggal Mbok Darmi berangsur-angsur pulih dari keramaian saat pemilu legislatif. Mereka kini kembali ke rumah masing-masing untuk bekerja sesuai dengan pekerjaannya. Demikian juga dengan Mbok Darmi, ia pun kembali membuka pintu warungnya yang ditutup saat melakukan pencontrengan 9 April 2009 yang lalu.

“Waduh… kalo gini mending nggak ikut caleg, daripada gendeng (baca: stres) seperti itu,” gerutu Mbok Darmi seorang diri yang sedang membersihkan warungnya sambil nonton teve.

Kebetulan saat itu di teve menayangkan pola tingkah aneh para calon wakil rakyat yang mendapat suara minim. Cara yang dilakukannya pun juga tergolong unik, mulai yang melakukan aksi bunuh diri hingga yang terserang virus depresi (stress).

Sebagai salah satu pemilih, ia prihatin melihat beberapa calon wakil rakyat yang jika terpilih nanti mewakili aspirasi rakyat. “Wong kalah gitu aja sudah gendeng, bagaimana nanti kalo mewakili pendukungnya? Seharusnya kalo sudah siap maju nyaleg, seharusnya sudah siap segala-galanya, termasuk siap tidak mendapat suara,” gerutunya makin kesel.

Sedang asyik-asyiknya membersihkan warungnya, Mbok Darmi dikejutkan oleh suara di depan pintu warungnya. “Assalamu’alaikum……!!!!,” suara salam terdengar dari luar membuyarkan lamunannya.

“Wa’alaikumsalam……eh… Kang Brodin. Kadengaren pagi-pagi sudah menampakkan batang hidungnya?,” sapa Mbok Darmi setelah mengetahui yang datang pelanggan tetap warungnya.

“Iya Mbok… daripada bengong di rumah. Emang yang lain belum ke sini toh?,” Kang Brodin balik bertanya.

“Ya belum lah Kang, biasanya khan agak siang atau sore,” saut Mbok Darmi.

“Tak amati sejak tadi kok si mbok melamun terus, mukanya itu lho cemberut. Emang ada apa mbok?,” tanyanya dengan nada menyelidiki.

“Nggak ada apa-apa Kang, itu lho cuman heran sama tingkah caleg-caleg yang nggak jadi yang ditayangkan di teve semakin tambah aneh-aneh saja?,” jelasnya.

“Iya lah Mbok, mereka khan sudah habis banyak. Trus niat mereka bukan berjuang untuk rakyat, tapi bagaimana mendapatkan kedudukan, jabatan, dan tentunya pundi-pundi rupiah yang berlimpah dengan jalan 4 D,” ungkap Kang Brodin yang mantan aktivis ini.

“Apa sich Kang 4 D itu?,” tanya si Mbok yang nggak paham singkatan itu.

“4 D itu datang, duduk, diam, duit,” jelas Kang Brodin.

“Lebih edan lagi, ada juga caleg yang gagal itu ngemplang pengusaha sablon dan stiker. Bahkan ada juga yang menarik lagi bantuannya yang diberikan untuk pembangunan tempat ibadah ataupun masyarakat. Ya emang dasarnya ngasih bantuan tidak ikhlas alias berharap dapat suara. Untung mereka nggak jadi. Coba kalo jadi, pasti yang diperhatikan lebih dulu bagaimana ‘modal’ awal kembali yang ujung-ujungnya korupsi,” kata Mbok Darmi.

“Wah makin cerdas aja si mbok,” puji Kang Brodin.

Sebelum melanjutkan ‘diskusi’ kecil-kecilan ala warung Mbok Darmi, tak disangka ada seseorang yang datang. Dua orang yang taka sing lagi bagi Mbok Darmi dan Kang Brodin. Mereka adalah Markuat dan Cak Sholeh. “Assalamu’alaikum….!!!,” ucap mereka berdua.

“Waalaikumsalam……!!!,” saut Mbok Darmi dan Kang Brodin hamper bersamaan.

“Tumben Kang kok pagi-pagi sudah ada di warung Mbok Darmi? Hayo…. Mau ngapeli si mbok ya!!!,” goda Markuat.

“Enak aja…. Siapa juga yang ngapeli si mbok. Ya kamu itu yang mau ngapeli si mbok! Kamu cemburu toh kalo aku datang ke sini?,” ganti Kang Brodin yang menuding Markuat.

“E… sudah…. sudah…. Masak gitu aja mau berantem. Apa bedanya kalian sama caleg atau pendukung yang tidak puas lalu berantem hanya untuk memperebutkan suara,” cegah Cak Sholeh.

“Baru datang dan belum apa-apa kok mau berantem hanya persoalan sepele,” lanjutnya.

“Mbok buatkan kopi, yang agak manis ya…,” pinta Cak Sholeh.

“Aku juga Mbok…,” saut Markuat.

“Wis yang sudah ya sudah nggak usah berantem. Lebih enak kalau kita itu hidup damai tanpa ada persoalan dan hidup berdampingan,” pinta Cak Sholeh.

“Iya Cak makasih nasihatnya. Mar…. aku minta maaf ya….,” pinta Kang Brodin.

“Nggak apa-apa Kang, seharusnya aku yang salah menggoda sampean,” kata Markuat.

“Nah gitu dong….!!! Enak khan tanpa ada yang merasa benar. Semua merasa salah jadi persoalan cepat selesai,” papar Cak Sholeh.

“Iya Cak, seandainya juga para caleg itu bisa menerima apapun hasilnya dari pileg (baca: pemilu legislatif), mungkin bisa mengurangi caleg stres,” katanya.

“Lho kok diseret-seret ke Pileg toh Kang?,” tanya Cak Sholeh.

“Iya Cak, soalnya tadi aku sama si mbok mbahas masalah itu,”

“O…. gitu toh. Tidak hanya itu, seharusnya mereka juga menyadari harus ada yang menang dan kalah dalam ‘pertarungan’. Terus yang terpenting siapa suruh mereka mengeluarkan uang puluhan hingga ratusan juta,” sambung Cak Sholeh.

“Ada yang lebih puuueeennting lagi!,” seru Markuat tiba-tiba.

“Apa’an tuch!,” tanya Kang Brodin dan Cak Sholeh hamper bersamaan.

“Mereka seharusnya saat pendaftaran dilakukan tes IQ dan Psikotest. Sehingga dapat diketahui kondisi kejiwaan masing-masing caleg. Nah jika tidak memenuhi maka tidak diterima pendaftarannya,” seru Mbok Darmi sambil mengaduk kopi pesanan pelanggan warungnya.

“Betul itu Mbok. Itu yang tadi mau tak sampaikan,” seru Markuat yang idenya itu ternyata diungkapkan Mbok Darmi.

“Wah…. Si mbok sekarang makin cerdas, makin pinter!!!,” puji Cak Sholeh sambil tepuk tangan diiringi dua sahabat karibnya.

“Kalo gitu kenapa si mbok tidak nyaleg aja? Khan banyak dari kalangan bawah yang daftar. Ada seorang loper koran, tukang becak, hingga service barang elektronika,” usul Kang Brodin.

“E… lha dalah kok aneh-anehi. Itu namanya ngowah-owahi adat. Jadi apa Negara nanti kalo kursi diduduki orang-orang seperti si mbok,”

“Waduh mbok, jangan merendah gitu dong. Semua orang bisa jadi anggota dewan kok,” dukung Markuat.

Setidaknya, tambah Kang Brodin, dapat lebih memperhatikan rakyat kecil. Pasalnya sudah merasakan pahit getirnya menjadi orang kecil. “Wis toh ojo nambah ngelu sira iki. Saya sudah cukup dari jualan ini aja,” tolak Mbok Darmi.

“Yo wis yen ngunu Mbok. Diajak maju kok ra gelem. Aku juga tidak memaksa,” kata Cak Sholeh.

“Ini kopinya. Tapi ngomong-ngomong, jadi anggota dewan itu enak toh?,” tanya Mbok Darmi seraya menyodorkan kopi pesanan.

“Ha…..ha…..ha…….!!!!,” ketiga pelanggan setia warung Mbok Darmi pun tertawa meledak. ***