BROSUR PMC Cell - Klik Gambar di Bawah Ini

BROSUR PMC Cell - Klik Gambar di Bawah Ini
PMC Cell - Master Pulsa Electric

Menggapai Kemuliaan Muslimah dengan Bimbingan Salaful Ummah

Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Oktober 2009

Sang Waktu


Di sebuah kantor "bonafide", jam 07.00 Wib suasana masih terlihat sepi. Hanya ada dua tiga karyawan santai sambil ngrumpi di depan pesawat televisi. Mereka asyik bercanda, bahkan tertawa lepas, seakan tak punya beban tanggungan pekerjaan. Kadang bernyanyi, sepertinya tak menyadari bahwa itu sebuah kantor tempatnya bekerja. Kadang tertawa ngakak, seperti di rumah sendiri.


Sejurus kemudian, sebuah sedan yang tak asing lagi tentunya bagi karyawan, masuk halaman. Beberapa karyawan yang lagi santai itu, sontak terkejut dan mematikan TV lalu berhamburan ke meja masing-masing, pura-pura memainkan tut keyboard komputer, seakan-akan sedang sibuk menyelesaikan tugasnya.

Waktu tidak pernah terlepas dari kehidupan manusia. Setiap detik, menit, jam bahkan tahun selalu menjadi perhatian kita. Bahkan, dalam sebuah hadits Nabi menyebutkan, "Pergunakan lima waktumu, sebelum datang lima waktumu yang lain tiba .". Sehingga, kita harus mampu mempergunakan sang waktu se-efisien mungkin.

Bagi bisnisman, kehilangan waktu semenit saja berarti kehilangan jutaan bahkan miliaran rupiah. Demikian juga bagi pekerja, baik itu pekerja kantor atau pekerja berat. Mereka harus pandai-pandai menyiasati waktu, pekerjaan apa yang harus saya kerjakan hari ini, agar tidak membebani pekerjaan esok harinya.

Namun demikian, dengan adanya pengaturan waktu tersebut, maka setiap pekerjaan diharapkan akan dapat terselesaikan pada saat yang cepat, tepat dan cermat.

Suatu fenomena di dalam masyarakat, khususnya Indonesia, seperti yang terlukis dalam fenomena di atas bahwa dalam masyarakat sering menunda-nunda suatu pekerjaan. Yang lebih memprihatinkan lagi, istilah ABS (asal bapak senang) masih saja jadi "idola". Artinya, misalnya seorang pekerja kantor apabila sang "juragan" berada di kantor, ada saja yang dikerjakan. Bahkan, karena saking bingungnya pekerjaan yang tidak semestinya dikerjakan, dicandak (dilaksanakan). Nggak tanggung-tanggung, rekan sesama karyawan pun, kalau perlu "disikutnya", demi terlihat apik di depan sang juragan.

Sementara, saat sang juragan tidak ada di tempat, mereka lagi asyik "ngrumpi", tidak bergairah mengerjakan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan hari itu. Akibatnya, pekerjaan menumpuk, kemudian saat darurat bisanya marah dan main perintah. Ironisnya, yang diperintah itu justru atasannya. Tidak lucu memang, tapi itulah yang sering terjadi.

Tidak hanya di perusahaan, di pemerintahan pun demikian. Karena "anak buah" yang akan diperintah terlihat sibuk, sang pejabat pun mengurusi pekerjaan yang seharusnya dilakukan anak buahnya. Bahkan, ada sebagian orang, yang sebaliknya. Mereka bekerja tanpa memperhitungkan waktu, sampai-sampai tidak sempat berfikir untuk menikah. Baru setelah usia di atas kepala tiga, mereka kebakaran otak. Karena pikirnya, "no time for love" dan "time is money" alias tidak kenal cinta sebelum meraih kejayaan.

Untuk mengatasi hal-hal yang tidak diinginkan seperti gambaran di atas, tentunya menyadarkan kita tentang arti penting sang waktu dalam kehidupan kita. Dalam keadaan yang demikian itu, kita harus melihat diri kita sendiri, tanamkan rasa tanggung jawab dan memiliki pada perusahaan tempat kita mengais rupiah. Bagaimanapun juga, jika perusahaan gulung tikar (baca: rugi, tutup), tentu kita juga kahilangan pekerjaan.

Masih jelas dalam ingatan kita, unjuk rasa (baca: demo) kasus PHK di DI (PT. Dirgantara Indonesia), PHK diberbagai perbankan. Bagaimana seandainya terjadi pada diri kita? Perlu kesadaran dalam bekerja, Anda untung dapat gaji, perusahaan juga tidak dirugikan.

Kembali kepada sang waktu, untuk dapat bekerja secara maksimal, ada beberapa hal yang dapat dijadikan acuan. Sehingga pekerja dapat diselesaikan secara optimal, yakni: Kerjakanlah tugas yang Anda sukai terlebih dahulu daripada yang tidak Anda sukai. Kerjakanlah pekerjaan yang telah Anda ketahui caranya lebih cepat, daripada yang tidak Anda ketahui. Kerjakanlah tugas yang Anda anggap paling mudah terlebih dahulu kemudian yang sulit. Kerjakanlah tugas yang memakan waktu lebih cepat daripada yang lama. Kerjakanlah pekerjaan yang bahan-bahannya sudah tersedia. Kerjakanlah tugas-tugas yang telah direncanakan daripada yang di luar rencana. Tanggapi keinginan orang lain sebelum keinginan kita sendiri. Kerjakan hal-hal (tugas) yang mendesak sebelum hal-hal penting yang lain. Siap menghadapi hal-hal yang darurat atau kritis. Kerjakan tugas yang menarik terlebih dahulu daripada yang tidak menarik.

Dengan memperhatikan beberapa hal penting tersebut di atas, Anda diharapkan mampu menyelesaikan tugas dan tanggung jawab dengan tepat dan tanpa beban. Buatlah suasana kerja yang menyenangkan, jangan ada miscomunication di antara karyawan, apalagi karyawan dengan atasan.

Sehingga, tidak menambah dan menumpuk beban kerja, dan pikiran menjadi lebih tenang. Hidup lebih menyenangkan, kerja enak dalam suasana kebersamaan. ***