BROSUR PMC Cell - Klik Gambar di Bawah Ini

BROSUR PMC Cell - Klik Gambar di Bawah Ini
PMC Cell - Master Pulsa Electric

Menggapai Kemuliaan Muslimah dengan Bimbingan Salaful Ummah

Tampilkan postingan dengan label Poligami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Poligami. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Oktober 2009

Inayah, Perusak Keharmonisan Rumah Tangga

Jangan salah persepsi dulu! Inayah di sini bukan seorang gadis penggoda, juga bukan gadis cantik nan seksi. Juga bukan (maaf) janda cantik nan genit yang lama tidak merasakan sentuhan tangan seorang lelaki. Tapi Inayah di sini adalah sebuah judul sinetron yang ditayangkan di televisi swasta, Indosiar.

Sebelumnya, judul sinetron ini adalah 'Hareem', karena mendapat teguran dari KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) dan beberapa tokoh agama, akhirnya judulnya diganti dengan Inayah. Meski demikian, tayangannya tidak berubah. Selain itu, ceritanya mulek (baca: membingungkan). Kenapa membingungkan? Karena yang isinya meluluh pertengkaran, iri, dengki, bahkan mengajari perbuatan yang tercela seperti meracuni atau bahkan mencelakai anggota keluarga sendiri.

Salah satunya, saat adegan pemotongan slang (pipa) LPG. Bagaimana sinetron ini 'meracuni' pemirsanya untuk selalu debat kusir, saling cemburu, dan menyingkirkan satu dengan yang lainnya.

Jelas di sini adanya unsur pemutarbalikan fakta. Maksud saya, dalam agama manapun dan dalam kitab manapun, yang namanya hidup berumah tangga adalah untuk menciptakan keharmonisan rumah tangga, saling berbagi, saling pengertian, saling menjaga perasaan, atau pun saling tolong-menolong dalam kehidupan berumah tangga.

Jadi jelaslah, dalam sinetron Inayah itu, ada semacam 'pencekokan' nilai-nilai kebencian di dalam rumah tangga. Ini tidak dapat disangkal lagi, pasalnya apa yang menjadi tontonan dan kehiduapn disekitarnya akan sedikit banya mempengaruhi prilaku seseorang. Jelas pula sinetron Inayah tidak mendidik, tidak memberikan bimbingan yang positif.

Alangkah baiknya jika sang sutradara memperhatikan itu. Disamping itu, alangkah bijaksananya jika para pemain (artis/aktor) sinetron itu memperhatikan bobot dan alur cerita sebelum teken kontrak. Bukan sekedar hanya memburu honor (HR) yang gedhe tanpa memperhatikan norma dan efek yang ditimbulkan dari sinetron tersebut.

Dari beberapa episode sinetron Inayah, tampak jelas tujuannya adalah menyoroti salah satu persoalan yang saat ini menjadi perbincangan orang banyak, yakni isu POLIGAMI. Tapi mengapa di sinetron itu digambarkan, dalam rumah tangga yang suaminya lebih dari satu itu penuh konflik. Tidakkah kita dapat mengaca pada kehidupan yang lebih positif. Coba potren kehidupan poligaminya Puspo Wardoyo, yang sukses dengan mengembangkan warung Ayam Bakar Wong Solo.

Bahkan di Kertosono, Jawa Timur, juga ada seseorang yang sebelumnya memiliki satu istri kehidupannya biasa-biasa saja. Tapi saat ia memutuskan untuk menambah istri satu lagi, kehidupannya semakin baik. Dan akhirnya istri pun menyetujui jika suaminya beristri empat (Poligami). Ini tidak pernah diekspos, tidak pernah diangkat dalam sebuah sinetron yang berdasarkan kisah nyata.

Sayangnya, sinetron hanya mengambil sisi negatifnya dan itu hanya berupa rekayasa belaka. Jika mau jujur, setiap lelaki pasti ingin memiliki lebih dari satu istri. Jika mau sadar, saat ini perselingkuhan dimana-mana, prostitusi pun merajalela. Jika itu terus dibiarkan, semua pun akan menerima akibatnya.

Sinetron Inayah, merupakan 'penghinaan' kepada Islam, yang notabene memperbolehkan poligami. Sinetron Inayah, perupakan ajang untukmengadu domba diantara anggota keluarga. Sadar atau tidak, yang saban hari berada di depan televisi menyaksikan sinetron ini, langsung atau tidak langsung, lambat laun akan terpengaruh juga dengan kebencian dan pembodohan terhadap masyarakat.

Sadarlah bagi sutradaranya, pemainnya dan seluruh pihak yang terlibat didalamnya. Jika sampai ada keluarga yang berantakan gara-gara melihat sinetron Inayah, Saudara juga menanggung dosanya yang akan Anda dipertanggungjawabkan kelak.

Sebelum terlambat, kepada masyarakat .... saya hanya bisa menghimbau untuk tidakm melihat tayangan sinetron ini, jika tidak ingin keluarga Anda berantakan.

Saya juga mohon maaf, jika dalam tulisan ini ada yang salah.

Minggu, 25 Oktober 2009

Mbok Darmi dan Klub Poligami

Beberapa hari terakhir, banyak media, baik itu cetak maupun elektronika membahas keberadaan klub poligami yang ada di Bandung. Akibatnya tentu bisa ditebak, ada yang pro dan tidak sedikit yang kontra. mengapa hal itu terjadi?


Mbok darmi sedang sendiri, ia mulai bersih-bersih tempat jualannya yang pagi itu baru aja usai diguyur hujan lebat. Sambil terus memasang telinga dan sesekali mata melirik ke arah tivi-nya yang dwi warna, ia terus asyik menata meja dan dagangannya. Ia terlihat serius dengan tivi-nya, yang saat itu lagi mengupas soal berdirinya klub poligami.

"Waduh.... wong-wong soyo edan ...... wong poligami kok ya dipersoalkan. Jelas-jelas ada tuntunannya. Kok ya banyak orang yang nggak setuju," pikir Mbok Darmi sambil terus bersih-bersih.

Dalam diamnya, ia terus berpikir, kenapa wanita takut suaminya poligami. Bahkan malah lebih memilih mengijinkan suaminya ke lokalisasi? Mereka lebih takut kehilangan suami daripada dosa yang mereka tanggung nantinya. Mereka lebih memilih cinta dunia daripada akhiratnya. Edan... bener-bener jaman wis edan tenan.

Itulah yang menjadi pikiran Mbok Darmi di pagi buta itu. Ia pun semakin bingung dengan pola pikir orang jaman sekarang. "Apa sekarang sudah banyak orang pintar, atau sebaliknya?," pikiran Mbok Darmi semakin ngelantur yang dipikirnya.

Tiba-tiba, tanpa disadari Cak Hasan dan Kang Brodin sudah berada di depan pinti warungnya. Mbok Darmi agak terkejut mendengar salam orang yang sudah di dekatnya. "Assalamu'alaikum....," ucap Cak Hasan dan Kang Brodin hampir bersamaan.

"Eh.... Wa alaikumsalam.... eh.. sampeyan toh! Tumben kok pagi-pagi sudah kesini?," tanyak Mbok Darmi.

"Iya Mbok, ini lho kan baru hujan, jadi ya cari yang hangat-hangat gitu lho!," saut Kang Brodin.

"Bener Mbok. Dingin-dingin enaknya minum kopi hangat plus makanan ringan khasnya, pisang goreng. Pasti enak tenan, Mbok," tambah Cak Hasan.

"Yo wis... monggo duduk dulu, tak buatkan kopi,"

"Lho Mbok, pean kok yo mengikuti berita klub poligami?," tanya Cak Hasan.

"Lha emang kenapa? Nggak boleh toh?," jawab Mbok Darmi sambil mempersiapkan cangkir untuk membuat kopi.

"Ya nggak gitu Mbok!!! Emang Mbok ini setuju toh?," saut Kang Brodin yang sejak tadi hanya sebagai pendengar.

"Ya... sebenarnya setuju. Soalnya sekarang



bersambung