Menggapai Kemuliaan Muslimah dengan Bimbingan Salaful Ummah
Rabu, 30 Desember 2009
Kamis, 17 Desember 2009
Upin-Ipin, Ide Kreatif Berdampak Positif
Meski produk tersebut berasal dari tangan-tangan kreatif negeri Jiran, Malaysia tapi patut dijadikan tontonan bagi anak-anak di Indonesia. Tidak hanya pesan-pesan religius yang ditonjolkan di sini. Padahal, sebelum Upin dan Ipin muncul, Indonesia telah terlebih dahulu memiliki film sejenis, yakni Si Unyil. Sayangnya, film yang sempat mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia, saat masih tayang di TVRI itu, tidak dikelola dengan baik.
Artinya, dari segi setting dan sejenisnya monoton. Seandainya film itu dikemas dalam kepingan VCD pasti masih mendapat tempat. Karena saat ini, orang tua sudah mulai memikirkan tayangan yang pas dan cocok dengan usia mereka, sehingga tidak terjebak pada film-film yang mengumbar kekerasan yang ujung-ujungnya anak melakukan 'perlawanan' terhadap apa yang dikatakan orang tua.
Disinilah, siapa yang sedang berkecimpung di film tersebut diharapkan dapat memberikan muatan-muatan yang mendidik dan dikemas dengan kondisi yang terjadi saat ini. Harapannya anak tidak bosan dan dapat menerima apa yang dimaksud dalam cerita tersebut. Jika tidak, maka anak-anak yang sebagai generasi penerus akan 'dicekoki' dengan tayangan-tayangan yang berbau pornografi dan tayangan kekerasan setiap jamnya.
Ini merupakan tantangan dari produser untuk lebih kreatif lagi dalam membuat suatu tayangan yang berbasis anak-anak, yang sekaligus menggabungkan antara kesenangan, pendidikan, hiburan, dan pesan-pesan moral yang ada dalam setiap episode-nya.
Rabu, 16 Desember 2009
Membongkar Kejahatan AS (4)
ANTHRAX JUGA BUATAN AS
Mau tahu “penyakit” apa saja yang diciptakan Amerika ? Ternyata, penyakit anthrax untuk sapi yang bisa menewaskan manusia juga hasil pengembangan AS. Bahkan termasuk penyakit syphilis, Jerry D Gray, berikut lanjutan tulisan tersebut.
Pada Awal 1940-an
Amerika Serikat dan Inggris mulai melakukan kerjasama dalam pengembangan “Bom Anthrax” yang mereka rencanakan untuk dijatuhkan di kota-kota di Jerman. Target potensial termasuk juga
Karena Jerman menyerah sebelum bom-bom anthrax ini diuji pada penduduk Jerman, (target non militer) bom biologis itu kemudian dijatuhkan di pedesaan Gurnard, sebuah pulau di sebelah barat laut Skotlandia. Sebagian besar sapi dan penduduk desa mengidap penyakit parah dan kemudian tewas, dan pulau tersebut tak berpenghuni hingga lebih dari 45 tahun.
Saya merasa bahwa bom-bom tersebut secara khusus diciptakan untuk musuh (Jerman). Jenis manusia seperti apakah yang ingin menghapuskan seluruh penduduk hanya untuk mencoba sejenis bom di akhir perang dunia kedua? Jawabannya sangat mudah. Pemerintah Amerika Serikat dan Inggris pada saat itu jelas bukanlah manusia.
Apakah Anda sudah mulai mendapatkan gambaran yang jelas? Pemimpin kita, yang telah kita pilih untuk menduduki jabatan itu, bukanlah manusia dan tidak memiliki perhatian terhadap kehidupan manusia, hanya bibir mereka yang mengatakan bahwa mereka peduli, sementara tindakan mereka memperlihatkan hal yang berbeda.
Pada akhir masa Perang Dunia II, Amerika Serikat mempekerjakan ratusan dokter-dokter Nazi dan Jepang yang telah melakukan eksperimen-eksperimen yang sadistis dan tidak manusiawi terhadap para tahanan perang. Tentara Amerika adalah diantara yang menjadi korban eksperimen mereka.
Salah satu dokter sadis yang telah melakukan berbagai kejahatan terhadap manusia melalui eksperimen-eksperimennya adalah Direktur Angkatan Bersenjata Kerajaan Jepang unit perang-biologi, Dr. Ishii. Dokter inilah yang memerintahkan penggunaan agen-agen kimia dan biologi terhadap tahanan perang tentara Amerika,
Ishii bereksperimen dengan syphilis, typhoid-laced tomatoes, tetanus, plague-infected fleas, selain juga bom-bom bibit penyakit yang dijatuhkan ke penduduk sipil dan tahanan yang diikat telanjang di tiang kayu. Mereka yang mampu bertahan dari eksperimen ini kemudian dibedah untuk diteliti tanpa anestesi, oleh Dr. Shiro Ishii yang kejam dan tak berperikemanusiaan. Angkatan Bersenjata Amerika Serikat dengan semangat mengangkatnya sebagai stafnya.
Pemerintah Amerika Serikat sangat puas menggunakan keahlian Dr. Shiro. Suatu perjanjian kemudian disusun oleh Jenderal Douglas Macarthur. Ishii kemudian menjadi dosen undangan di Angkatan Darat Amerika Serikat di Pusat Senjata-Biologi di Frederick
Selasa, 15 Desember 2009
Prita - Sang Pahlawan Keadilan Pendobrak Kebobrokan
Prita Mulyasari, sekarang bak selebriti, hampir tiap hari muncul di layar televisi kemudian menghiasi berbagai media cetak. Padahal, sebelumnya, tidak ada yang kenal dirinya, kecuali kerabat dan teman dekatnya. Tapi kini, dalam sekejap, gara-gara email senilai Rp 204 juta, hampir seluruh dunia mengetahuinya.
Perjuangan sosok Prita, yang hanya seorang wanita biasa ini patut mendapatkan julukan 'Pahlawan Keadilan'. Ia mampu 'menyihir' pola pikir masyarakat, menggerakan masyarakat hampir seluruh Indonesia untuk menggumpulkan koin peduli 'nasib' Prita. Jika kita boleh berandai-andai, seandainya tidak ada kasus prita, mungkin tidak ada koin peduli, koin keadilan yang merupakan simbol 'perlawanan' rakyat jelata terhadap ketidakadilan yang dialami rakyat kecil.
Suatu hal yang sangat memalukan kondisi penegak hukum di Indonesia, bahkan lebih tepatnya mencoreng nama lembaga yang selama ini menjadi tempat pencari keadilan. Semuanya seakan telah sirna. Sementara itu, dari pihak RS OMNI pun sudah merasakan perlawanan dari masyarakat yang 'dijajah' haknya dan bersatu melawannya. Sehingga mereka mencabut gugatan perdatanya. Dicabut atau tidak, ini merupakan citra buruk dari RS OMNI itu sendiri. Atau mungkin juga saat ini RS OMNI lagi sepi akibat dari 'luka' yang ditimbulkan oleh ulahnya sendiri, sehingga mereka melakukan pencabutan gugatan perdata tersebut.
Saat ini masyarakat sudah tidak mau dibodohi lagi, rakyat sudah tahu mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang harus dibela dan mana yang harus dicerca.
Malu. Itulah mungkin yang dialami RS OMNI International, yang akhirnya kemudian memutuskan untuk mencabut gugatannya. Ia malu, bagaimana dendanya itu hanya dihargai oleh koin-koin yang dikumpulkan -mungkin juga- di pinggir-pinggir jalan.
KOIN MENGHILANG
Entah kebetulan atau tidak, semenjak adanya koin peduli Prita, seakan-akan koin yang beredar di masyarakat semakin sedikit jumlahnya alias menghilang. Bahkan banyak pedagang yang mengeluhkan sulitnya mendapatkan uang recehan (koin) tersebut.
Ini juga bisa jadi akibat adanya aksi besar-besaran untuk menggalang dukungan terhadap nasib Prita Mulyasari dalam bentuk pengumpulan koin peduli. Masyarakat juga mulai berani menyuarakan kebenaran dan keadilan, meski tidak jarang, mereka harus berhadapan dengan 'bogem' mentah dari aparat.
Suara keadilan dari seorang rakyat jelata jelas menunjukkan akan sangat mengerikan jika rakyat kecil secara bersama-sama (bersatu) melawan penegak hukum untuk mendapatkan keadilan yang selama ini jauh dari kehidupan mereka. Contoh kecil beberapa kasus yang membuat kita tertawa geli, seorang koruptor yang telah menghabiskan uang rakyat hukumannya sangat tidak sesuai dengan apa yang diperbuatnya. Belum lagi tempat penahanannya pun 'sangat istimewa'. Tidak jarang mereka masih bisa membawa handphone, atau menikmati berbagai acara di televisi.
tidak demikian dengan nasib rakyat jelata. Gara-gara sebutir buah kakao, mereka berhadapan dengan penegak hukum, kemudian juga gara-gara mengisi batrei handphone yang berada dalam apartemen yang ditempatinya, penghuni ini diteriaki maling.
Ya.... begitulah nasib wong cilik, rakyat jelata, atau apalah namanya, yang pasti keadilan di Indonesia belum dapat dikatakan adil yang sebenarnya. Beberapa diantaranya, keadilan itu milik orang kaya, berduit, mobil mewah, dan sejenisnya.
Senin, 14 Desember 2009
Membongkar Kejahatan AS Dalam Bidang Kesehatan (3)
Dunia Dibohongi Terus-Menerus
Dalam upaya mewujudkan tatanan dunia baru, AS tak segan-segan memusnahkan manusia, tak kecuali penduduknya sendiri. Mengapa ? JERRY D Gray, wartawan, peneliti, penulis buku dan mantan Angkatan
Banyak korban eksperimen- eksperimen awal senjata biologi di Amerika adalah orang-orang Amerika sendiri (laboratorium kelinci percobaan putih). Korban-korban dari program biologi ini termasuk juga ribuan tentara Amerika yang terkontaminasi lewisite, phosgene, dan bom khlor. Uji coba-uji coba ini berhasil dengan baik dan menimbulkan banyak tentara sakit atau tewas. Sebagai dampak langsung dari hal ini, Angkatan Bersenjata Amerika Serikat dan Inggris antara tahun 1916 dan 1918 telah menggunakan 125.000 ton phosgene, mustard gas, dan khlor dalam proyektil yang digunakan untuk melawan tentara Jerman dan menimbulkan kurang lebih 400.000 tewas.
Pada Juni 1916, dalam Perang Somme, kekuatan sekutu menggunakan kombinasi gas phosgene dan khlor sepanjang 17 mil (27,3 km) didepan, yang kemudian menyebar sepanjang 12 mil (19,3 km) di belakang garis pertahanan Jerman membunuh semua orang dan semua hal.
Hal yang disukai lainnya adalah gas mustard. Mulanya, gas mustard, akan menimbulkan iritasi kecil pada mata dan tenggorokan korban, yang kemudian bertambah parah disertai rasa sakit yang dahsyat. Gas mustard adalah agen panas yang melepuhkan, dan menimbulkan pendarahan dan luka-luka dikulit juga paru-paru dan mata. Korban akan menjadi buta, dan potongan-potongan besar kulitnya akan berjatuhan.
Sepanjang tahun 1920-an dan 1930-an, Angkatan Bersenjata Amerika Serikat menggunakan gas mustard terhadap laki-laki, perempuan, dan anak-anak di Filipina dan Puerto Rico yang menentang pendudukan Amerika Serikat. Hal ini terbukti merupakan cara yang sangat efektif untuk mengendalikan
Sejak tahun 1738 hingga 1930-an Amerika Serikat telah menyemprotkan gas dan menyebarkan hampir kepada siapa saja yang mereka tidak sukai, atau yang mereka anggap penting bagi pengembangan program persenjataan biologi dan kimia atas nama ilmu dan agresi. Dunia telah dibohongi terus menerus oleh Amerika Serikat dan sekutunya. “Mengapa anda masih memercayai mereka hingga hari ini?” Tanya Jerry D Gray.
Protokol 1925 (lelucon) disusun untuk melarang penggunaan gas pencekik, beracun, atau lainnya, dan metode-metode perang menggunakan bakteriologi dimaksudkan untuk melindungi kita dari senjata pemusnah massal ini. Tapi kita semua salah…
Pada tahun 1925 pada Konferensi Jenewa bagi Pengawasan Lalu Lintas International atas Senjata (Supervision of the International Traffic in Arms), seperti biasa Amerika Serikat mengambil inisiatif untuk melarang ekspor gas-gas bagi penggunaan dalam peperangan. Atas saran Prancis, diputuskan agar disusun suatu protokol dalam hal dilarangnya penggunaan gas-gas beracun. Dan atas saran Polandia, pelarangan diperluas hingga penggunaan senjata biologi. Ditandatangani pada 17 Juni 1925, Protokol Jenewa menyatakan pelarangan yang sebelumnya tertuang dalam pakta
Di tahun 1931, Dr. Cornelius Rhoads, seorang agen pemerintah yang dikontrak oleh Rockefeller Institute for Medical Investigation, mulai menginfeksi laki-laki, perempuan, dan anak-anak dengan sel-sel kanker. Berikutnya, sebagai Ketua Divisi Senjata Biologi Angkatan Bersenjata Amerika Serikat, dan juga sebagai anggota Komisi Energi Atom, Rhoads menjalankan percobaan radiasi rahasia yang dilakukan terhadap ribuan warga AS yang tidak dicurigai.
Dalam surat-suratnya untuk Departemen Pertahanan, Rhoads secara gamblang menyebutkan “pembasmian” para pemberontak dengan menggunakan “Bom Kuman”. Pada saat ditanya mengenai penduduk Puerto Rico, Dr. Rhoads menulis, “Yang dibutuhkan kepulauan itu bukanlah pekerjaan bagi kesehatan umum, tetapi sebuah ombak pasang,yang dapat menghabiskan seluruh populasi”.
Dr. Rhoads lebih lanjut mengatakan, “Orang-orang
Dr. Rhoads berasosiasi dengan the Rockefeller Institute, sebuah institusi yang dikenal telah memberikan ijinnya untuk melakukan pembunuhan massal terhadap ras-ras non kulit putih, dengan secara sengaja dan sadistis menginjeksi kuman-kuman mematikan. Dia bukan satu-satunya dokter yang berada dalam daftar gaji Rockefeller yang dipertanyakan tujuan dan niatnya.
Pada 1931, Pemerintah Amerika Serikat mulai melakukan eksperimen dengan Siphilis. Korban pertama yang dikenal adalah seorang kulit hitam yang tinggal di
Sepuluh tahun berikutnya, ribuan warga Amerika terekspos berbagai macam agen biologi dan kimia. Ini termasuk 400 tahanan di penjara
Pemerintah Amerika Serikat juga memberikan ijin bagi Komisi Energi Amerika untuk secara rahasia menginjeksi pasien-pasien rumah sakit dengan Plutonium agar mendapatkan “profil” efek jangka panjang. Sebagian besar individu ini menjadi sakit parah dan kemudian meninggal. [Bersambung]
Minggu, 22 November 2009
Membongkar Kejahatan AS (2)
Upaya Amerika merusak kesehatan manusia, bukan cuma melalui virus flu burung. Tapi bisa juga flu babi yang sempat menggegerkan dunia beberapa waktu lalu. Yang sangat aneh, seperti yang terjadi di
SEBELUM Amerika Serikat terbentuk menjadi sebuah Negara, kekuatan yang mengatur dan mengendalikan tanah yang baru tersebut adalah terorisme, pemusnahan massal, dan perang biologi melalui penyebaran kuman-kuman dan penyakit-penyakit terhadap penduduk aslinya. Salah satu penyerangan yang tercatat dalam sejarah adalah yang dilakukan oleh Jenderal Jeffrey Amherst.
Beberapa data yang tertuang dalam the Atlas of the North American Indian, dan the Conspiracy of Pontiac and the Indian War after the Conquest of Canada, menunjukkan bahwa pahlawan militer yang terkenal ini, telah “menyetujui” pendistribusian selimut dan sapu tangan yang telah terkontaminasi bibit cacar untuk digunakan sebagai alat perang wabah penyakit terhadap Indian Amerika. Bahkan, ada bukti tertulis berupa
Dalam suratnya kepada Kolonel Henry Bouquet, Komandan Angkatan Bersenjata Inggris, Jenderal Amherst bertanya, “Tidak bisakah diatur suatu cara bagi pengiriman bibit campak kepada suku-suku Indian yang tidak menyenangkan itu ? Dalam hal ini kita harus menggunakan strategi untuk dapat mengurangi jumlah mereka.” Bouquet menjawab, “Saya akan mencoba untuk menularkan penyakit tersebut kepada mereka melalui selimut-selimut yang akan jatuh ke tangan mereka, dan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak ikut tertular.”
Sangat jelas terdokumentasikan dalam catatan milik William Trent, tertanggal 24 Mei 1763, seorang komandan militer lokal dari Pittsburgh. “Kami memberi mereka dua selimut dan sebuah sapu tangan yang kami ambil dari Small Pox Hospital. Saya harap itu akan menimbulkan dampak yang diharapkan.” Epidemi cacar secara cepat tersebar di antara lelaki, wanita, dan anak-anak suku Pontiac.
Jenderal Amherst sangat terkesan atas hasil yang sangat efektif pada perang kuman tersebut. Sehingga dalam suratnya kepada Kolonel Henry Bouquet tertanggal 16 Juli 1763, dia mengesahkan perang biologi sebagai kebijakan resmi Amerika dan memerintahkan penyebaran selimut-selimut yang terinfeksi campak untuk “memusnahkan para Indian” dan menyarankan agar Bouquet “mencoba metode-metode lain yang dapat memusnahkan ras yang buruk ini.” Dalam suratnya tertanggal 26 Juli 1763, Bouquet menjawab surat Amherst dan mengonfirmasi bahwa “seluruh petunjuk anda akan kami perhatikan.”
Seratus tahun kemudian, secara berkala, penggunaan kuman sebagai senjata dalam peperangan telah menjadi kebijakan AS. Secara berkala, sepanjang abad ke-19, angkatan bersenjata AS menyebarkan selimut-selimut dan benda-benda lain yang telah terkontaminasi bibit penyakit kepada suku asli Amerika, termasuk mereka yang telah ditahan di kamp-kamp konsentrasi (Pemerintah secara resmi menyebut lokasi ini sebagai “wilayah reservasi/reservations”). Tujuan dari serangan biologi ini adalah untuk memusnahkan dan membunuh sebanyak mungkin Indian Amerika, jika tidak menghancurkan mereka semua.
Agen penyebar penyakit yang digunakan tercatat dalam sejara bukan hanya cacar. Saat ini, merekapun menggunakan Variola, yang dapat disimpan dalam kondisi kering, juga kolera dan cacar. Metode penyebaran yang mereka pilih masih melalui penyebaran selimut-selimut dan alat-alat lain yang didistribusikan kepada para Indian.
Di tahun 1900, angkatan bersenjata Amerika Serikat mulai bereksperimen dengan berbagai senjata biologi, sebagian diantaranya digunakan pada tahanan perang baik warga Amerika maupun asing. Para korban termasuk
Di tahun 1915, agen-agen pemerintah mulai melakukan percobaan dengan racun-racun yang dapat menyerang dan menghancurkan otak dan system syaraf pusat. Dua belas orang Amerika yang di tahan di penjara
Pengembangan atau percobaan-percobaan yang intensif atas senjata kimia dan biologi, telah dilakukan secara rutin di Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman.
Dikatakan bahwa sejarah perang biologi dimulai oleh Fritz Haber, seorang ahli kimia terkenal, yang telah mengembangkan gas-gas beracun untuk Jerman selama Perang Dunia Pertama. Sebelumnya, Haber sudah dikenal karena keberhasilannya menemukan proses penyulingan nitrat yang dapat digunakan untuk membuat bahan peledak ataupun pupuk. Selama Perang Dunia Pertama, ia mendedikasikan dirinya bagi pengembangan gas beracun yang dapat dengan mudah membunuh manusia yang bersembunyi di lubang-lubang persembunyian. Gas-gas beracun sudah sangat banyak jumlahnya. Apa yang diusahakan oleh Haver adalah suatu racun yang dapat disebarkan sacara sempurna dalam medan peperangan. Haber melakukan pekerjaannya di Institut Berlin, dan mulai melakukan penyulingan gas khlor, yang tak berapa lama kemudian dilakukan percobaan dalam suatu medan perang.
Pada tahun 1919 dia dianugerahi penghargaan Nobel dalam bidang kimia. Namun demikian, ada bukti sejarah yang menyatakan bahwa Perang Kimia sebenarnya dimulai di Amerika Serikat. Pada tahun 1862, Edwin Stanton, Menteri Peperangan masa Presiden Lincoln, menerima sebuah proposal mengenai Perang Kimia dari Mr. John Doughty dari New York, yang didalamnya digambarkan pula suatu bentuk senjata pengebom. Mr. Doughty menulis , “Diatas ini adalah sebuah proyektil yang telah saya rancang untuk menyerang musuh. Sangat mengerikan apa yang dapat dilakukannya terhadap alat pernafasan, bahkan dalam jumlah yang sangat sedikit saja dapat menimbulkan batuk yang tak terkendali dan tak terhenti. Sebuah proyektil memuat dua atau tiga quart (1 quart = 0.9463 liter) cairan khlor berisi berkubik-kubik gas.
Dia terus menjelaskan panjang lebar menggambarkan potensi dari bom kimianya terhadap kapal-kapal, kota-kota, manusia ditempat persembunyian. “Atas pertanyaan moral yang timbul, saya menemukan jawaban yang agak paradoks, bahwa penggunaannya dapat mengurangi rasa kesukaan atas suatu peperangan dan mengarahkan konflik ke dalam penyelesaian yang lebih tuntas dan berkepastian.” [bersambung]
Kamis, 19 November 2009
Oleh-Oleh Dari Seminar Problematika Dunia Kesehatan (1)
Membongkar Kejahatan AS Merusak Kesehatan Manusia
Minggu, 15 November 2009 yang lalu, digelar seminar bertajuk “Problematika Dunia Kesehatan”. Seminar yang diselenggarakan oleh pengobatan herbal Naturaid Centre kerjasama dengan Pemuda Muhammadiyah ini menampilkan Jerry D Gray, Penulis dan Peneliti dari alumni AU USA. Dihadapan ratusan peserta yang datang dari berbagai daerah di Jatim ini, penulis buku Deadly Mist membeberkan kejahatan AS dalam bidang kesehatan berikut ini :
Flu Burung :
Avian Influenza (flu unggas), biasa dikenal dengan flu burung adalah salah satu virus flu yang paling aneh yang pernah saya tahu atau dengar sepanjang hidup saya. Saya tidak pernah mengetahui adanya suatu virus yang sangat selektif, ia mampu terbang ratusan mil melewati jutaan manusia yang dapat ia tularkan, hanya untuk menularkan pada dua atau tiga orang dan kemudian terbang kembali beberapa ratus mil lagi untuk memangsa korbannya yang lain.
Bahkan media internasional melewatkan berita utama –seperti wabah sebagaimana dibahas di bawah ini – dan memberikan prioritas lebih kepada satu atau dua kasus flu burung. Sebagai seorang jurnalis, saya merasa ini sebagai suatu keanehan.
· Selama bulan Januari tahun (2007) saja, lebih dari 4.800 orang Indonesia terinfeksi oleh demam berdarah dan 75 meninggal dunia.
· Selama tahun 2006, lebih dari 350.000 orang terinfeksi dan sedikitnya 1.500 meninggal dunia karena demam berdarah di seluruh asia.
· Selama setengah tahun pertama tahun 2007 di seluruh Indonesia, tercatat lebih dari 100.000 kasus demam berdarah membunuh 1.100 orang. Pejabat Kesehatan di Jakarta percaya bahwa angka ini akan naik hingga 200.000 pada akhir tahun, bandingkan dengan 114.000 orang yang terinfeksi di tahun 2006. liputan berita internasional mengenai epidemi ini sangat minim. (Catatan kaki 2).
· Ini adalah epidemi yang sangat serius, namun sangat kecil sekali liputannya oleh agen berita internasional. Ketika satu atau dua kasus flu burung diangkat ke permukaan, hal ini secara otomatis menjadi berita utama selama dua atau tiga minggu. Ini sangat tidak lazim. Sepertinya ada suatu hubungan antara flu burung dan media internasional. Saya ingin tahu kira-kira hubungan apa itu ?
Sebelum saya memulai bab ini, saya ingin menjalaskan bahwa saya bukanlah seorang dokter, komentar-komentar dan kesimpulan- kesimpulan saya didasarkan pada bukti-bukti yang ada, pengakuan- pengakuan, pertimbangan- pertimbangan deduktif, logika dan common sense. Dalam banyak hal didalam buku ini, saya yakin kita akan membuat kesimpulan yang sama.
Untuk alasan logis apa pemerintah AS memaksa dan mengancam Indonesia untuk membeli kaki ayam dari mereka ? Mengapa epidemi flu burung dimulai tidak berapa lama setelah pemerintah Indonesia menolak untuk mengimpor kaki ayam dari Amerika Serikat? Ratusan ribu ayam dipotong di Indonesia, sehingga mengalahkan persaingan ayam AS. Saya pribadi merasa ini sesuatu yang aneh.
12 Oktober 2005, Asia Pulse melaporkan bahwa Menteri Pertanian Indonesia Bapak Anton Aprijantono telah menolak pernyataan bahwa pemerintah berencana untuk mengizinkan impor potongan kaki ayam dari negara-negara Amerika dan Eropa. Pak Anton mengatakan, “Rumor yang mengatakan Bahwa Indonesia akan melakukan impor potongan kaki ayam sama sekali tidak memiliki dasar, dan kami akan menolaknya jika kami menerima permintaan dari sekelompok tertentu”. Ia menambahkan bahwa rumor mengenai Indonesia akan mengimpor potongan kaki ayam memang banyak sekali. Selanjutnya ia menjelaskan bahwa ia tidak mengharapkan potongan kaki ayam diimpor, karena presiden sama sekali tidak membahasnya.
Bapak Menteri Anton Aprijantono menjelaskan “Sungguh, kami tidak akan mengimpor potongan kaki ayam, karena produksi domestik kami cukup untuk memenuhi permintaan pasar.” “Bahkan ada tendensi produksi nasional akan berlebih dikarenakan adanya (flu unggas) dan kenaika harga minyak yang lebih dari 100%.
Alasan mengapa Menteri Pertanian menolak untuk mengimpor potongan kaki ayam adalah karena ketidakyakinan apakah ayam-ayam yang dipotong di negara-negara Amerika dan Eropa dikelola dengan cara yang tidak bertentangan dengan hukum Islam.
“Mengelola pemotongan ayam berdasarkan hukum Islam atau tidak adalah isu yang sangat sensitif bagi peternak ayam lokal dan Muslim Indonesia.”. Ia juga mengatakan bahwa para peternak ayam unggas sedang berusaha keras untuk bangkit setelah serangan flu burung. “Jika potongan kaki ayam impor tiba di Indonesia, kondisi para peternak ayam kami akan menjadi semakin parah”.
Bukanlah ini apa yang sebenarnya ingin di capai oleh Tatanan Dunia Baru rekayasa AS. Pertama mereka menghancurkan bisnis anda (industri ayam, flu burung) kemudian mereka menyuplai anda dengan ayam-ayam mereka yang sangat mungkin merupakan hasil produk genetik sehingga menimbulkan efek terhadap kondisi kesehatan anda secara keseluruhan. Jika misalnya, Indonesia tidak mengikuti rekomendasi yang penuh tekanan dari pemerintah AS, maka mereka akan menghentikan pengiriman ayam-ayam ini (dan mungkin produk-produk lainnya) sehingga menaikkan harga lokal dan menghasilkan krisis karena kurangnya suplai ayam, suplai yang sekarang mereka (USA) kendalikan. Menteri Pertanian sangat bijaksana dengan menolak untuk mengimpor potongan kaki ayam dari Amerika Serikat. Saya sangat ingin tahu siapa yang sebenarnya mengendalikan ekspor potongan kaki ayam di Amerika Serikat.
Pada 5 Mei 2008, sekelompok dokter yang berpengaruh telah membuat suatu draf yang mengejutkan mengenai daftar rekomendasi untuk menentukan pasien mana yang dibiarkan untuk meninggal dunia selama pandemi flu burung atau bencana lainnya. Catatan daftar yang disarankan tersebut dihimpun oleh militer, Departemen Keamanan Dalam Negeri, Pusat Pengendalian dan Pencegahan penyakit, Departemen Kesehatan, Departemen Pemerintah, dan kelompok-kelompok medis. “Sebagai persiapan, rumah sakit- rumah sakit harus menunjuk tim triage dengan tugas seperti Tuhan yang menentukan siapa yang akan dan tidak akan mendapat perawatan yang dapat menyelamatkan jiwanya,” kata salah satu anggota tim.
Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari menuduh World Health Organization (WHO) dan Amerika Serikat melakukan konspirasi dalam pengumpulan sample virus flu burung dan produksi vaksin-vaksinnya.
“Saya tidak membuat-buat cerita. Saya mendasarkan buku saya dari pengalaman saya sendiri. Ada bukti-bukti yang nyata mengenai hal ini,” Siti Fadillah Supari mengatakannya dalam suatu diskusi mengenai buku barunya yang baru beredar Saatnya Dunia Berubah, Tangan Tuhan di balik Flu Burung.
“Saya katakan pada WHO bahwa mekanisme mereka dalam mengumpulkan virus-virus dari negara-negara berkembang sangat tidak adil. Cara yang sama sebuah negara imprialis memperlakukan koloninya”.
Pada saat itu, katanya, pertanyaannya membuat Amerika Serikat marah dan ia kemudian menyampaikan kecurigaannya atas “konspirasi antara WHO dengan negara superpower.”
Ibu Siti (Menteri Kesehatan Indonesia) menolak cara diplomatik untuk mengurangi ketegangan yang terjadi antara Indonesia dan WHO. “Diplomasi di mata negara-negara superpower, berarti kita harus melakukan apa yang mereka ingin kita lakukan.”
Ibu Siti Fadillah Supari selanjutnya marah ketika mengetahui bahwa sample flu burung yang ia kirimkan digunakan secara eksklusif oleh 15 orang ilmuwan di Laboratorium Amerika Serikat di Los Alamos.
Seorang peneliti biodefense di Kementrian Pertahanan, Isro Samiharjo, mengatakan kepada para tamu bahwa Pemerintah AS menggunakan Los Alamos untuk mengembangkan senjata biologi (ini benar!).
Menteri Kesehatan Indonesia (Siti Fadillah Supari) adalah seorang wanita pemberani karena telah melawan WHO dan Amerika Serikat. Dunia memerlukan banyak orang sepertinya di posisi-posisi yang berpengaruh untuk melayani dan melindungi mereka yang tidak bersalah dari mereka-mereka yang hanya peduli atas keuntungan dan ambisi rasis. Menteri Kesehatan Indonesia berdiri tegak untuk negara demi negaranya dan kemanusiaannya, dengan tanpa peduli atas dampak negatif terhadap dirinya dan kariernya. Dia melakukan semua ini untuk rakyat Indonesia, dia melakukan semua ini untuk warga dunia. Di mata saya beliau adalah pahlawan bagi seluruh warga Indonesia. Semoga Allah mengaruniai Indonesia dengan orang-orang seperti beliau.
Reaturs
Laboratorium Media Angkatan Laut AS (NAMRU) “tidak transparan” dalam operasinya
(Mei 07, 2008)
“Kami tidak tahu apa yang terjadi dengan virus-virus flu burung yang kita kirimkan.”
(Menteri Kesehatan Indonesia, Siti Fadillah Supari)
“Indonesia berusaha untuk membela kepentingan negara-negara miskin dengan menolak untuk berbagi sample virus flu burung dengan Negara Barat dan terkunci dalam kesalahfahaman budaya atas isu tersebut”. Menteri Kesehatan mengungkapkannya pada hari Rabu. Siti Fadillah Supari lebih lanjut mengatakan dalam wawancaranya, bahwa laboratorium Media Angkatan Laut AS (NAMRU) yang berada di Indonesia untuk melakukan penelitian atas penyakit-penyakit tropis sama sekali tidak memberikan keuntungan apapun pada negara tuan rumah, dan tidak transparan dalam operasinya. Menteri mengatakan bahwa Laboratorium Media Angkatan Laut AS di Jakarta telah menerima sample virus dari seluruh bagian Indonesia, tetapi sekarang sudah dihentikan. “Kami tidak tahu apa yang terjadi dengan virus-virus yang kami kirimkan itu.”
OBAT FLU BURUNG RACUN BAGI REMAJA
Pada 13 Mei 2008, kecemasan timbul terhadap efek samping dari obat flu burung Tamiflu terhadap remaja. Tamiflu adalah anti virus untuk influenza umum A dan B yang dibuat oleh Hoffman La Roche’s di Swiss, tetapi digunakan juga untuk melawan flu burung. Walau demikian, kekhawatiran telah muncul tentang kemungkinan obat tersebut menimbulkan kerusakan mental bagi remaja. Walaupun obat ini menjadi satu-satunya obat yang terakreditasi oleh WHO (World Health Organization) sebagai obat efektif melawan virus H5N1, Pemerintah Jepang dan Korea melarang obat tersebut diberikan kepada remaja.
Badan Makanan dan Obat-obatan Korea mengumumkan bahwa obat tersebut tidak diperkenankan untuk diberikan kepada para remaja antara 10 hingga 19 tahun, kecuali dalan kondisi yang sangat mendesak. Keputusan Pemerintah ini dikeluarkan setelah Badan Kesehatan Jepang melarang obat ini diberikan kepada para remaja pada bulan Maret 2007.
“Sepertinya rekan-rekan keluarga Bush menerima banyak kontrak yang menguntungkan, terima kasih pada flu burung. Apakah ini suatu kebetulan ? Apakah flu burung diciptakan sebagai alat untuk mengendalikan populasi, dan sekaligus membuat perusahaan-perusahaan farmasi “tertentu” menjadi semakin kaya ?
Sejak saat itu, ada 1.268 kasus perilaku luar biasa yang dilaporkan, dan 85% adalah remaja. Mereka dilaporkan melakukan bunuh diri dengan cara melompat dari gedung-gedung atau mobil.
Pada 19 Mei 2008, GlaxoSmith Kline Plc, Produsen obat-obatan terbesar di Eropa, memenangkan izin untuk menjual vaksin flu pra-pandemi yang bernama Prepandix, terjual di 29 negara untuk melindungi rakyatnya dari virus sebelum atau pada awal pandemi.
Peringatan para Ilmuwan terhadap Epidemi Flu Burung
(27 Mei 2008)
Para ilmuwan memperingatkan pada hari senin bahwa keturunan flu burung telah maju mendekati pengembangan ciri-ciri yang dibutuhkan untuk menciptakan suatu epidemi di kalangan manusia. Para peneliti yang menganalisa sample virus yang bernama H7N2 yang dapat beradaptasi lebih baik pada mamalia hidup.
Para ilmuwan mengidentifikasi turunan kedua H7 yang dapat menimbulkan Pandemi
(27 Mei 2008)
Menurut para ilmuwan Amerika, Flu burung turunan H5N1 sejauh yang ini telah membunuh 241 orang bukan satu-satunya yang dapat menciptakan pandemi. Para ilmuwan telah menemukan bahwa beberapa turunan H7 sudah mulai berevolusi menjadi turunan yang dapat secara mudah menginfeksi manusia.
Dari contoh diatas, dapatkah anda melihat bagaimana para master manipulasi pikiran melalui media berusaha menakut-nakuti setengah penduduk dunia ? Begitu orang-orang mulai menanggapi epidemi flu burung dengan seksama, mereka akan mulai membeli obat-obatan flu burung untuk memproteksi diri. Ini sangat manusiawi. Sifat manusia adalah mereka takut mati dan akan melakukan apapun untuk melindungi diri mereka. Sehingga dalam kasus ini, mereka akan melakukan vaksinasi dan membeli banyak obat-obatan sebagai usaha preventif, tanpa menyadari anak-anak remaja akan berakhir melakukan bunuh diri karena efek samping dari tamiflu. Sementara perusahaan- perusahaan farmasi “besar” menciptakan jutaan dolar. Disamping potensi berbahaya dari efek sampingnya, tamiflu belum pernah terbukti efektif melawan flu burung, hanya WHO yang menyatakan demikian, walaupun bukti-bukti menunjukkan sebaliknya.
Flu Burung Lebih Mematikan Daripada 10 Bom Hidrogen
(31 Mei 2008)
Para ilmuwan mengkhawatirkan sifat alami penyakit ini (influenza burung), setelah menjadi pandemi, dapat lebih mematikan daripada sepuluh bom hidrogen.
Ini lagi sebuah contoh teror media yang sempurna. Judul berita ini jelas menyatakan bahwa flu burung, begitu ia menjadi epidemi, akan menimbulkan kerusakan lebih dahsyat dari 10 bom hidrogen. Ini sepenuhnya merupakan spekulasi tidak berdasar fakta (sebuah kampanye untuk membuat orang takut). Jika anda meledakkan bom hidrogen di New York, kerusakannya tentu sangat parah, tetapi jika bom tersebut diledakkan di Kutub Utara, hampir tidak akan ada korbannya. Contoh yang sama mungkin dapat diterapkan terhadap flu burung, jika virus tersebut benar-benar bermutasi menjadi virus yang mematikan seperti yang digembar-gemborkan oleh WHO dan media internasional pada dunia (dan mengingatkannya pada kita setiap hari sepanjang tahun), dan lokasinya terpencil dan terisolasi, maka kerusakan yang akan ditimbulkannya tentu juga minimal.
Petunjuk-petunjuknya sangat mengerikan, yaitu jika anda telah membaca enam bab pertama dari buku ini, anda akan melihat suatu pola mulai terbentuk. Ada beberapa kasus flu burung yang dilaporkan secara besar-besaran oleh media diseluruh dunia dengan disertai peringatan- peringatan oleh WHO mengenai kemungkinan akan terjadinya epidemi global. Dengan yang sebenarnya, dan mereka mengikuti langkah-langkah pencegahan yang direkomendasikan oleh pemerintah mereka dan WHO. Vaksin diproduksi secara massal oleh perusahaan- perusahaan farmasi (pilihan) yang biasanya memiliki ikatan dengan nazi Jerman, keluarga Bush, dan teman-teman mereka.
Uang kita kemudian terperas habis, suatu epidemi yang kekuatannya tak terbayangkan benar-benar terjadi, (makin sedikit manusia), orang-orang non kulit putih, orang-orang dengan penyakit, dan orang-orang yang melawan Tatanan Dunia Baru terbunuh. (Lady Diana secara luas mengumumkan posisinya yang menentang Tatanan Dunia Baru, dan ia kemudian tewas dua minggu kemudian). Dengan setengah penduduk dunia dalam keadaan sakit atau sekarat, Tatanan Dunia Baru akan dapat bergerak dengan lebih bebas mengatur planet ini. Mereka benar-benar ada dan kita harus menanggapi hal ini dengan serius, sebelum semuanya terlambat. (bersambung)
