Menggapai Kemuliaan Muslimah dengan Bimbingan Salaful Ummah
Sabtu, 08 November 2008
Amrozy CS Tidak Pernah Mati
INNALILLAHI wa innailaihi roji’un. Minggu, 09 November 2008 jam 00.15 WIB, bertempat di Nusa Kambangan, Cilacap, Jawa Tengah, ketiganya meninggal dunia di hadapan regu tembak dari Brimob. Mereka dieksekusi dengan tuduhan telah melakukan aksi terorisme, yang sengaja dihembuskan negara asing (anti Islam) untuk menghina dan menjelek-jelekkan ummat Islam sebagai teroris.
Padahal, mereka sendiri melakukan aksi terorisme di beberapa negara seperti Afghanistan, Irak, dan lainnya. Lalu kenapa mereka masih bebas berkeliaran hingga saat ini? Mereka yang seharusnya diseret ke pengadilan internasional, karena telah menciptakan kerusakan, menciptakan perang, dan mengadu domba ummat di dunia.
Eksekusi yang dilakukan terhadap kakak-beradik Ali Ghufron – Amrozy dan juga Abdul Aziz atau yang lebih dikenal dengan Imam Samudra, menunjukkan betapa lemahnya ukhuwah di antara ummat Islam. Mengapa demikian? Bagaimana tidak, di Indonesia yang diklaim memiliki ummat Islam terbesar di dunia, ternyata hanya beberapa ’gelintir’ saja jumlahnya. Yang terbanyak justru –mohon ma’af– Islam ’karbitan’. Sehingga nasib ketiganya harus berakhir di depan regu tembak. Karena tidak banyak yang membelanya.
Namun demikian, yakinlah bahwa mereka termasuk pejuang dan pahlawan Islam, karena mereka telah mengorbankan jiwa, raga, dan pikirannya untuk berjuang menegakkan Islam. Mereka berjuang untuk menghapus kemungkaran dan kemaksiatan di muka bumi. Mereka memiliki power (kekuatan) untuk melawan.
Sebagaimana diketahui, motto dalam Islam adalah hidup mulia atau mati syahid. Kemudian juga, rubahlah sesuatu kemungkaran dengan kekuatan jika kita memiliki, jika tidak maka berdo’alah agar mereka kembali ke jalan yang benar. Dan ini merupakan selemah-lemahnya iman. Lain halnya yang dilakukan Amrozy CS, mereka memiliki power dan keberanian, dan mereka pun telah siap menanggung resiko sebagai akibat dari apa yang telah mereka lakukan. Termasuk menghadapi bukan lagi eksekutor –tidak lebih dari Algojo- yang siap dengan moncong senapannya. Mereka tidak gentar sama sekali menghadapinya, karena itulah jalan menuju kehidupan yang abadi.
Keyakinan sosok Amrozy, Imam Samodra, dan Ali Ghufron patut dijadikan tauladan dalam menapaki hidup di dunia. Mereka tidak gentar dengan sesama manusia, selama berada di jalan yang diyakininya akan kebenarannya. Suatu sikap yang harus ditanamkan pada diri kita sejak dini.
Sebagaimana juga pahlawan-pahlawan pejuang kemerdekaan yang tidak gentar dan bahkan rela mati untuk kemerdekaan negara. Ketiganya juga demikian. Mereka rela mati demi untuk memperbaiki kondisi moral bangsa yang sedang mengalami kemrosotan moral. Hal itu terbukti, bagaimana remaja yang tanpa malu lagi sedang melakukan adegan pornografi.
Seperti yang penulis temui di salah satu warnet yang ada di Jombang, Jatim Kamis (06 November 2008) jam 18.15 WIB hingga malam. Sepasang remaja berlainan jenis sedang –maaf– bercumbu di salah satu ruang warnet tersebut. Bahkan lebih gila lagi, yang perempuan mengenakan jilbab. Na’udzubillahimindzalik.
Ini membuktikan bahwa kita semua belum masuk ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan -red). Jika demikian, tepatlah kiranya kalau tidak salah sebuah hadits yang menyatakan ”Islam datang dalam keadaan asing, dan suatu saat akan dianggap asing pula. Maka berbahagialah bagi orang-orang yang dianggap asing”.
Hal itu dapat diartikan, apa yang dilakukan Amrozi CS yang mengenakan sorban, berjenggot panjang, mungkin saat ini dianggap asing. Padahal, dalam Islam telah disebutkan peliharalah jenggotmu, dan perpendeklah kumismu. Karena itu membedakan antara orang muslim dengan yang tidak. Bagi orang diluar Islam, mereka lebih suka memanjangkan kumis. Sementara bagi ummat Islam diajurkan memanjangkan jenggot. Namun sekarang, banyak diantara kita ummat Islam yang turut memanjangkan kumis dan memangkas jenggot. Ini sudah menunjukkan hal itu. Sementara orang yang memanjangkan jenggot dianggap aneh ataupun asing. Ironis bukan?
Bagaimana menurut Saudara?***
Empat Kejanggalan Bom Bali II
Meski pemerintah Australia mengaku tak begitu menanggapi laporan bahwa ada warga Bali memperingatkan para turis untuk menghindari lokasi-lokasi menarik yang sering dikunjungi oleh warga asing menjelang ledakan bom di Bali Sabtu (1/10) malam. Namun tak urung pihak otoritas Australia, Senin (3/10) kemarin nampaknya agak terganggu dengan munculnya isu-isu di tengah masyarakat menyangkut analisa bom Bali II.
Sebagaimana diberitakan, dua warga Australia yang tengah berlibur di Bali mengatakan mereka diberitahukan untuk menjauhi dari pusat kawasan Kuta, yang menjadi lokasi peledakan bom Bali I di tahun 2002 lalu dan satu dari dua lokasi yang menjadi sasaran serangn bom Sabtu malam lalu.
Kepada radio nasional, seorang pria asal Perth bernama Darren Humble mengatakan seorang penjaga keamanan bar memberitahukan seorang tamu hotel dimana dia tinggal mengenai kemungkinan serangan teror.
Sementara itu, seorang eksekutif pengiklanan, Mick Colliss, mengatakan kepada stasiun radio di Sydney bahwa seorang temannya yang memiliki jaringan dengan organisasi kriminal di Bali memperingatkan dia untuk segera keluar dari Kuta.
Komisioner Polisi Federal Australia, Mick Keelty, mengatakan pengakuan-pengakuan tersebut akan diselidiki, namun begitu dia mengatakan sangat sulit untuk bereaksi terhadap rumor-rumor tersebut.
"Rumor dan fakta cukup berbeda dan ini adalah situasi yang sulit yang kita hadapi sekarang ini," jelasnya kepada televisi Channel Nine.
Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer mengatakan dia tidak tahu jika rumor-rumor tersebut dapat ditanggapi secara serius.
"Saya hanya dapat mengatakan kepada kamu apa yang orang ketahui dan yang pasti ada rumor setiap hari setiap minggu. Satu hal adalah kamu tidak tahu bagaimana menanggapinya secara serius," ujar Downer kepada radio ABC.
Empat kejanggalan
Sementara itu, hari-hari ini, meski sebagaian masyarakat Indonesia mengecam peledakan itu, sebagaian juga masih diliputi dengan tanda tanya besar menyangkut empat kejanggalan dalam bom Bali di Jimbaran dan Kuta, 1 Oktober kemarin.
Dalam sebuah acara ‘To days dialogue’ Metro TV pukul 11.30 yang dipandu reporter Najwa Shihab yang menampilkan pakar intelejen Juanda, Kepala Divisi Humas Polri Brigjen (Pol) Soenarko D Ardanto dan warga masyarakat, menggariskan ada beberapa kejanggalan yang patut dipertanyakan dalam peledakan tersebut.
Dalam dialog itu, dipertanyakan empat kejanggalan kejadian Bom Bali II yang oleh Australia sudah buru-buru dituduhkan diotaki Jamaah Islamiyah (JI) itu.
Beberapa kejanggalan yang sempat didialogkan dalam diskusi itu adalah;:
Pertama, hasil rekaman video amatir yang menunjukkan pelaku bom Bali.
Sebagaimana diketahui, di masyarakat dan media massa, kini beredar video amatir koleksi keluarga yang menunjukan dengan sangat detil pelaku pengebom.
Dalam diskusi itu, sempat dipertanyakan, keanehan dalam shooting video yang tadinya diakui adalah video koleksi keluarga. Pasalnya, jika itu video keluarga, sangat nampak detil si pelaku yang saat ini diakui Polri sebagai tersangka. Di mana dalam shootingan video itu nampak tindakan si pelaku dari duduk, berjalan hingga bom diledakkan.
Kejanggalan kedua, peserta dialog juga mempertanyakan mengapa hasil video itu yang telah diberikan pada pihak keamanan Indonesia itu justru datang dari Australia.
Kejanggalan ketiga, beberapa hari sebelum terjadi ledakan, para pecalang (keamanan adat Bali) telah mengingatkan para turis akan ada ledakan.
Kejanggalan keempat, beberapa hari sebelum kejadian beberapa masyarakat juga memperingatkan turis untuk tak memasuki daerah itu.
Pengamat intelejen Juanda sempat mempertanyakan dan bahkan mengaku kecewa mengapa aparat keamanan buru-buru menyebut pelakukan adalah Dr. Azhari dan Moh Nurdin M Top.
“Tidak benar polisi terburu-buru menuduh Dr. Azhari dan Mohammad Nurdin M Top,” ujar Juanda. Sebab menurutnya, tidak bisa ditarik kesimpulan bahwa ada kesamaan antara bom Bali I dengan bom Bali II.
Apalagi, menurutnya, ada kepentingan tinggi pihak Australia kepada Indonesia dalam hal ini. Kabarnya, beberapa menit setelah peristiwa pengeboman beberapa aparat intelijen Australia sudah langsung sampai di lokasi. Benarkah? [dari berbagai sumber]
Jangan Ada Sayang Diantara Kita
PERNYATAAN di atas dalam kaca mata Islam, seharusnya bukan untuk ditujukan pada remaja yang lagi kasmaran. Jika hal itu terjadi, maka ‘kiamat’ bagi kaum Hawa. Tidak hanya sekedar menyesal, bisa jadi lebih dari, ia ditinggal pacarnya setelah ‘madu’-nya habis diambilnya.
Itulah gaya pacaran remaja saat ini. Motto-motto yang tidak tepat pun dipakai ’senjata’ untuk menaklukkan wanita. Sejuta ’jurus’ rayuan gombal pun diucapkan dengan manisnya. Siapa yang rugi? Tentu lebih banyak di pihak wanitanya. Kenapa demikian? Karena mereka akan kehilangan ’kehormatan’ yang selama ini dijaganya, yang selama ini dibentengi hanya akan ’dipersembahkan’ pada lelaki yang nantinya menikahinya. Jika kemudian hal itu terjadi, lalu hamil, siapa yang rugi?
Motto di atas, lebih tepatnya ditunjukan pada peningkatan rasa nasionalis atau untuk meningkatkan silaturrahmi. Bagaimana seseorang itu lebih mengenal Islam, kemudian mendalami dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika tak kenal maka ia tak akan sayang pada Indonesia, jika tak sayang pada Indonesia, tentu tak cinta. Demikian juga dengan soal agama. Orang Islam sendiri aja nggak peduli sama Islam, bagaimana orang lain yang diluar Islam akan peduli dan simpati.
Untuk itu, bagi remaja, mari kita bersama-sama membuat gerakan ’Jangan Ada Sayang Diantara Kita!’ kalau itu hanya dilambari kepentingan dunia dan hanya nafsu belaka. Karena jika hal itu dilakukan, Insya Allah tidak akan bertahan lama. Karena cinta karena gincu akan segera layu, cinta karena harta akan segera musnah. Gincu dan harta tidak ada yang kekal. Semua akan berganti, seiring dengan perputaran sang waktu. Dari detik ke menit, lalu jam. Dari hari ke minggu, bulan, dan tahun. Semuanya ada masanya sendiri-sendiri.
Jika hanya cinta dan nafsu yang bergelora, maka keindahan masa pacaran, akan musnah saat saudara telah memasuki jenjang pernikahan. Sebagaimana hilanganya masa-masa pacaran yang telah dilaluinya.
Sebenarnya, ada satu hal yang akan melekatkan kelanggengan dalam urusan cinta. Niatkan segalanya karena untuk ibadah pada sang Kholiq, Allah SWT. Tidak hanya dalam urusan cinta, tapi dalam segala tindakan, seperti belajar, bekerja, menolong orang, atau sekedar membantu orang kesusahan. Bahkan yang terkecil, saat tangan Saudara sedang menari-nari di atas keyboard. Niatkan untuk ibadah, sehingga hati dan pikiran kita dapat terjaga dari hal-hal yang tidak disukai oleh Allah.
Semua perlu usaha, semua perlu do’a, semua perlu semangat. Yang terpenting, kita tingkatkan tali silaturahmi, mari kita saling bahu membahu, tolong menolong kepada sesama. Kita tidak harus mengenal seseorang terlebih dahulu dalam menolong, jika kita menyadari ’Semua Muslim adalah Saudara’. Untuk itu jangan ada ’sayang’ diantara kita, kalau hanya membawa mala petaka, tapi yang ada adalah persaudaraan, ukhuwah Islamiyah.
Karena sayang dan cinta, merupakan satu paket yang akan membawa mala petaka jika tidak pandai-pandai dalam menjalankannya. Sebagaimana kita tahu, sudah berapa ribu bayi yang lahir menjadi ’yatim-piatu’ tanpa ayah dan ibu, karena mereka lari dari tanggung jawab. Bagaimanapun, cinta dan sayang tak dapat dikendalikan jika nafsu sudah ikut ambil bagian.
Bagaimana menurut Saudara?
Jumat, 31 Oktober 2008
Aku Malu ‘Mengaku’ Islam
Menyaksikan acara Debat yang digagas salah satu televisi swasta nasional, TVOne, Kamis (11/09/2008), saya jadi ingin tertawa, geli, dan lucu. Bagaimana tidak? Sudah jelas undang-undang itu dibuat untuk kebaikan dan melindungi kaum wanita kok ya yang menolak itu pihak yang dilindungi. Kalau tidak diatur, mau jadi apa generasi kita? Wong diatur saja masih banyak yang melanggar, apalagi kalau tidak diatur? Mau jadi apa generasi selanjutnya?
KATANYA aktivis perempuan, katanya sebelum adanya RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi sudah menyuarakan penolakannya terhadap pornografi. Tapi ternyata kok ya menolak adanya RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi yang rencananya mau di-dok pada Selasa (23/09/2008). Heran dech jadinya pemirsa. Acaranya sich bagus, tapi isinya cocok kalau dikatakan tidak lebih hanya ‘Debat Kusir’. Alias debat yang hanya buang-buang energi, tanpa ada hasil yang nyata.
Apalagi saat itu menghadirkan salah satu aktivis perempuan –katanya sich dalam textline dibawah namanya– plus berjilbab lagi. Jika dilihat dan didengarkan, aku sendiri rasanya malu. Pasalnya jika ia Islam dan muslimah, tentunya akan setuju dengan busana yang santun dan menutup aurat. Apalagi hal itu tidak mengundang syahwat laki-laki hidung belang.
Apakah ia rela jika anaknya mengikuti trend –yang katanya modern– dengan memakai baju super ketat plus menampakkan udel (pusar -red)-nya. Jika jawabnya setuju, tentu perlu dipertanyakan ‘jilbab’ yang dikenakannya. Masak anak sendiri dibiarkan dengan pakaian seperti itu?
Jadi jangan heran jaman yang katanya era globalisasi –tapi menurutku kok jadi ngombalisasi–ini akan ada yang namanya jaman purba jilid ke-II. Bagaimana saat ini dapat kita lihat di jalan-jalan, di mall, atau yang lainnya. Mereka datang dengan mobil mewah, handphone keluaran terbaru, ditambah lagi cincin emas menghiasi tangan dan daun telinganya. Tapi sayangnya untuk membeli secuil kain untuk menutup paha, dada, dan lainnya tidak mampu (maaf jika tidak berkenan dengan penyebutan bagian-bagian tubuh tersebut). Dunia memang sudah aneh!
Dengan berpakaian (bukan berbusana lho!) di atas lutut, terus belahan pakaian atas menonjolkan putihnya kulit, ditambah lagi dengan ketatnya pakaian hingga membentuk lekuk tubuh. Mana ada lelaki yang tidak tertarik, kemudian melirik, dan akhirnya menarik untuk kemudian berbuat yang nggak-nggak.
Intinya, sumber dari terjadinya berbagai tindak asusila itu juga akibat dari ulah wanita itu sendiri. Lalu ada yang protes, masak anak yang masih berumur empat tahun juga diperkosa? Apakah anak kecil itu juga gara-gara memperlihatkan auratnya? Nah yang ini pun jangan dipandang anak kecilnya! Tapi lihat dulu alurnya alias ceritanya sebelum ia ketemu anak kecil sebagai pelampiasan.
Bisa jadi si lelaki bejat tersebut sebelumnya melihat orang dewasa yang berpakaian minim. Karena nafsu yang sudah mentok di ubun-ubun dan bingung mencari pelampiasan. Bisa jadi jika dilampiaskan pada wanita dewasa yang memakai pakaian minim, ia di penjara. Akibatnya mencari ’mangsa’ yang belum mengerti apa-apa. Atau bisa juga akibat ia menonton video porno, karena setan burik sudah menang perang yang berkecamuk dalam hati, akhirnya pelampiasannya anak ingusan, alias anak bau kencur, bin anak kecil.
Wis toh nggak usah sulit-sulit. Agama itu mudah, tapi jangan dipermudah. Agama itu tidak sulit, tapi jangan dipersulit. Maksudnya yang mudah itu jangan lagi digampangno. Bisa jadi nanti kena batunya –bukan mendo’akan lho!– tapi setidaknya dalam setiap tindakan harus berhati-hati, apalagi menyangkut akhidah.
Apalgi berdasarkan penelitian, Indonesia termasuk urutan pertama pengakses internet yang mengakses gambar-gambar porno alias cybersex. Karena begitu gampangnya kita dapat mengaksesnya. Ini merupakan salah satu cara orang barat untuk merusak moral tidak hanya remaja, lebih dari itu dan lebih parah lagi adalah moral bangsa. Itulah berbagai cara orang barat untuk menghancurkan Islam.
Jika kita sebagai orang Islam tidak peduli dengan moralitas kita sendiri, bagaimana orang lain mau mengakui keberadaan kita. Sekarang saja sudah terbukti, dibeberapa negara ada yang melarang pemakaian jilbab. Jika hal ini dibiarkan, maka akan membawa dampak buruk bagi dunia Islam dan ummat muslim.
Kemudian juga bukti lain tentang semakin maraknya pornografi di Indonesia. Berapa banyak video dalam format 3GP dengan ‘artis’ remaja Indonesia beredar luas di masyarakat. Ini juga sebagai akibat dari tayangan-tayangan yang mempertontonkan pornografi secara bebas. Akibatnya, saat ini tontonan jadi tuntunan dan tuntunan jadi tontonan. Artinya, sinetron, musik dan sejenisnya saat ini jadi tuntunan dan panutan remaja. Mereka rela merubah penampilan sehingga mirip dengan idolanya.
Sedangkan tuntunan jadi tontonan. Banyak sekali saat ini tabligh akbar yang digelar, dan pengunjungnya berjubel. Tapi yang datang itu tidak mendengarkan isi ceramahnya. Mereka hanya nongkrong, bahkan tidak jarang yang pacaran. Setelah selesai, ya nggak tahu apa dech isinya ceramah tadi.
Ironis bukan? Sangat kontras sekali dengan ajaran yang ada dalam Islam. Dan akhirnya, kututup wajah ini dengan kedua telapak tanganku, karena aku malu ’mengaku’ Islam.
Bagaimana menurut Anda? ***
Amrozi Cs ‘Pahlawan’ Islam
Rencana eksekusi terhadap Amrozi Cs yang akan dilaksanakan awal November 2008, merupakan ‘pembunuhan’ karakter terhadap Islam. Sebagaimana kita tahu, dalam Islam dikenal, jika kita mempunyai kekuatan maka lawanlah segala bentuk kemungkaran. Dan jika kita tidak berani, berdo’a dan mengingkari kemungkaran itu jalan terakhir. Yang terakhir ini menunjukkan selemah-lemahnya iman seseorang.
SEMENTARA Amrozi Cs, mereka memiliki kekuatan dan mereka gunakan kekuatan tersebut. Seperti halnya FPI (Front Pembela Islam), mereka memiliki kekuatan, maka mereka pun membubarkan setiap kegiatan yang melanggar syariat Islam, meskipun Indonesia bukan negara Islam. Tapi sudah jelas, bahwa yang berjuang untuk mencapai kemerdekaan sebagian besar adalah andil dari pejuang Islam.
Bahkan dalam pembukaan UUD 1945 juga disebutkan, atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan… Ini semakin komplit bagi ummat muslim di Indonesia untuk berjuang bersama-sama membela kebenaran dan melawan kemungkaran.
Kita juga harus ingat, motto umat Islam adalah Isy’ Karimah, aumut Syahidan (Hidup Mulia, atau Mati Syahid). Di sinilah kita sebagai ummat Islam dan muslim harus mamilih. Maksudnya, dapatkah kita hidup mulia. Jika tidak dan dikhawatirkan malah membuat keonaran di muka bumi, lebih baik jatuh pada pilihan yang kedua. Dan mungkin juga itulah yang dipilih Amrozi Cs. Insya Allah mereka jika jadi dieksekusi termasuk syuhada’.
Jika sampai Amrozi Cs jadi dieksekusi pada awal November 2008, maka ini menunjukkan tidak mampunya ummat Islam yang ada di Indonesia untuk melindungi ummatnya. Sebagaimana kita tahu, bagaimana Amerika yang melindungi warganya, meskipun dalam posisi yang salah. Seperti saat meng-‘eksekusi’ negara Afganistan dan Irak.
Indonesia –yang katanya negara besar– ternyata hanya mampu ‘membantai’ warga negaranya sendiri. Tidak hanya itu, bisanya hanya mengeruk harta warga negaranya. Salah satu buktinya adalah keberadaan TKI (tenaga kerja Indonesia), mereka berjuang di negeri orang hanya agar dapat hidup layak. Pasalnya di negeri sendiri sudah tidak ada lagi kenyamanan dan kesempatan kerja. Tapi apa yang didapat setelah samapi di tanah air?
Mereka harus merogoh saku dalam-dalam untuk memberi ’peminta-minta’ di bandara atau sejenisnya. Padahal, mereka telah banyak menyumbangkan devisa pada negara.
Kembali lagi pada kasus rencana eksekusi mati di hadapan regu tembak terhadap Amrozi Cs. Jika memang mereka akan dieksekusi pada awal November, maka tidak hanya ummat muslim yang kehilangan, Indonesia pun ‘seharusnya’ juga kehilangan. Kenapa demikian? Amrozi Cs merupakan warga negara terbaik yang dimiliki Indonesia. Mereka yang tanpa bekal ilmu kemiliteran mampu menciptakan bom dasyat, seharusnya dididik dan dibina untuk angkatan perang. Mereka pejuang sejati tanpa pamrih.
Sementara angkatan perang kita? Tidak sedikit untuk masuk hanya untuk ‘gagah-gagahan’, dapat pekerjaan tetap dengan gaji ekstra. Sementara jika ada kemungkaran dibiarkan, tanpa ada upaya menghentikan atau menghapusnya. Contoh konkritnya, prostitusi yang nyata-nyata dilarang ternyata masih bebas berkembang. Kemudian judi juga masih merajalela di mana-mana.
Jadi jangan heran jika Indonesia saat ini semakin suram, banyak bencana dan musibah. Itu semua bukan kecelakaan biasa, atau hanya bencana yang tanpa sebab akibat. Banjir itu tidak hanya karena hutan gundul akibat ditebangi secara liar. Lebih dari itu, itu semua adalah peringatan bagi kita manusia yang telah banyak berbuat dosa, telah menyia-yiakan sebagai khalifah fil ardi (pemimpin di muka bumi).
Kita saat ini tidak ubahnya seperti jaman jahiliyah terdahulu, sayangnya saat ini dikemas menjadi jahiliyah ‘modern’. Lihat saja gaya pacaran remaja saat ini, sudah berani main peluk dan cium di muka umum. Nggak percaya? Lihat saat hari Sabtu malam (malam Mingguan –istilah anak muda), di sekitar alun-alun, dan bahkan di sepanjang jalan depan Perpustakaan Mastrip, SMAN 3 hingga tugu Pancasila. Anak muda cowok-cewek berjajar berpasang-pasangan. Kemudian ke utara depan makam. Pokoknya tambah seru aja melihat pemandangan di sana.
Tidak hanya di situ, jalan dari alun-alun Jombang ke utara. Sepanjang jalan ini, terutama malam Minggu, pasti ada motor yang mangkal di sana dan berduaan di atas motornya. Tidak sedikit diantara mereka yang berpelukan (seperti teletubis kali ye!).
Ini membuktikan moral dan akhlak remaja kita sudah mulai luntur. Ini juga tergantung dari ke dua orang tuanya dalam mendidik soal agama. Inilah yang saat ini diperjuangkan oleh pejuang-pejuang Islam yang kini akan dieksekusi oleh negaranya sendiri.
Seharusnya kita turut prihatin, bukan ikut mengecamnya. Karena, bagaimanapun juga mereka adalah saudara-saudara kita. Sebagaimana dalam Al-Qur’an, sesungguhnya sesama muslim adalah Saudara.
Bagaimana menurut Saudara? ***
Penjajahan Moral Mengintai
Awas! Penjajahan Moral Mengintai
Seharusnya kita harus lebih hati-hati terhadap pergaulan dan kegiatan anak-anak, atau adik kita. Pasalnya, penjajahan terhadap moralitas bangsa saat ini sedang gencar-gencarnya dilakukan oleh bangsa barat. Salah satunya dengan menyediakan content, baik gambar maupun clip video porno.
JIKA kita teliti dan waspada, tidak ada salahnya orang tua itu berkunjung ke warnet. Di sanalah kita akan tahu, bagaimana remaja kita mampu berjam-jam duduk di depan komputer untuk mengakses internet. Jika yang diakses untuk mencari bahan tugas belajar sich nggak apa-apa. Tapi tahukah kita, apa yang mereka akses?
Cybersex. Ya itulah nama kerennya pornografi di internet. Mungkin tidak banyak yang dengar istilah itu. Tapi bagi yang doyan ngenet, istilah itu sudah tidak asing lagi. Mereka seperti kena narkoba, jika tidak mengakses situs porno kepalanya jadi pusing atau uring-uringan.
Ya... mereka sudah seperti kecanduan untuk mengaksesnya. Bahkan beberapa diantaranya sudah menghukumi ’wajib’ ngakses situs tersebut. Apalagi ada guyonan ’tombo ngantuk-tombo ngantuk’ yang dipopulerkan Host Empat Mata Tukul Arwana, saat melihat wanita cantik. Inilah trend remaja yang semakin mengkhawatirkan. Tidak hanya itu, beberapa diantaranya, bahkan anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) sungguh sangat mengkhawatirkan.
Ternyata, software pemblokiran situs porno tidak sepenuhnya dipatuhi oleh pengusaha warnet. Salah satu contohnya saja, warnet di pusat kota Jombang, ternyata tidak dilengkapi dengan software anti situs porno. Padahal, software tersebut diberikan secara cuma-cuma alias gratis. Meskipun software tersebut tidak efektif, setidaknya dapat mengurangi pengakses pornografi. Karena bagi yang doyan ngenet, tidak ada yang tidak bisa dibobol meski sudah diblokir. Mereka pun punya motto tersendiri ’Selama itu buatan manusia, harus bisa dibobol. Soal kita juga manusia’.
Ada hal yang mengejutkan, dalam sebuah hasil penelitian yang meneliti pengguna internet disebutkan bahwa sebagian besar yang pernah mengakses internet pernah membuka situs porno meski sekali. Mereka juga mengungkapkan, Indonesia termasuk dalam urutan teratas yang doyan ngakses situs porno tersebut. Sungguh sudah sangat mengkhawatirkan kondisi remaja kita.
Untuk itu, sudah saatnya para orang tua untuk menyempatkan mendampingi putra-putrinya saat mengakses internet untuk mencari bahan keperluan sekolahnya. Dengan cara ini, setidaknya dapat meminimalisir pengakses situs porno –ini bukan menuduh putra-putri Bapak/Ibu sebagai pengakses. Tapi apa salahnya jika kita hati-hati dan waspada, serta njagani agar mereka tidak mengakses situs tersebut.
Tidak ada salahnya kita waspada, karena dengan waspada kita bisa selamat. Ada pepatah Jawa yang sangat baik bagi kita semua ’Sak bejo-bejone wong kang lali, isih bejo wong kang eling lan waspodo’.
Kita hanya bisa saling mengingatkan untuk hati-hati dan waspada. Karena dengan saling mengingatkan kita semua dapat selamat. Mengingatkan bukan berarti kita menyalahkan. Karena banyak sekali yang menyalahartikan mengingatkan. Akibatnya saling salah kaprah dan menyadi fatal akibatnya. Untuk itu, ingatkan kita semua, dan sadari bahwa mengingatkan itu untuk keselamatan dan kebaikan kita juga.
Ok! Mari kita budayakan hidup saling mengingatkan untuk menuju kebaikan.
Bagaimana menurut Saudara? ***