Menggapai Kemuliaan Muslimah dengan Bimbingan Salaful Ummah
Minggu, 17 Agustus 2008
Menulis Cerpen Bagi Pemula
SEBUAH karya tulis cerpen mempunyai nilai hiburan yang relatif bagi pembacanya. Pembaca yang memang sedang benar-benar ingin menghibur diri tanpa banyak berpikir akan menyukai tulisan cerpen yang benar-benar sangat khayal dan jauh dari kenyataan. Tapi pembaca yang menyukai kisah-kisah nyata baru dapat terhibur oleh cerpen yang nyata. Tulisan cerpen yang nyata dan kelihatan benar-benar telah terjadi masih mungkin hanya berasal dari sekedar khayalan.
Berbagai ide, gagasan dan rencana yang akan anda tulis sudah ada di kepala dan terasa siap untuk dituangkan dalam sebuah kertas atau file tulisan. Tapi ketika tangan anda memegang alat tulis sambil menatap kertas kosong atau ketika jari anda sudah berada diatas keyboard komputer dan menatap layar monitor yang masih kosong, pada saat itu tak ada sebuah hurufpun yang muncul. Terasa tak ada kata yang tepat untuk mengawali tulisan anda.
Mengawali sesuatu hal terkadang dirasakan amat sulit bagi sebagian orang. Tapi bila anda tak mengawali sesuatu berarti anda telah mengubur satu semi satu keinginan anda. Untuk mengawali sebuah penulisan yang idenya telah ada di kepala anda diperlukan sebuah pemicu. Pemicunya adalah sebuah keberanian untuk ngawur (berbuat salah). Setelah anda merasa berani untuk ngawur maka kata demi kata akan segera meluncur hingga membentuk kalimat dan akhirnya menjadi alenia. Usahakan untuk tidak meneliti dahulu tulisan anda. Fokuskan pada tulisan anda dan teruslah menulis. Terlampau banyak pertimbangan tentang apapun akan menghalangi keluarnya tulisan yang akan anda tulis.
Setelah menulis hingga 4 sampai 5 alenia (atau bahkan kurang) mungkin berhenti. Bila berhenti sejenak dan akhirnya dapat meneruskannya hingga menjadi tulisan, maka takkan ada masalah. Tapi bila benar-benar berhenti dan tak ada kemauan lagi untuk meneruskannya, berarti anda terhalang oleh diri anda sendiri.
Ada kemungkinan anda berhenti bukan karena kehabisan bahan tulisan tapi karena sebuah pertimbangan baru yang munculnya secara tiba-tiba dan merusak konsentrasi. Bisa jadi anda merasa bahwa yang anda tulis masih belum selesai itu akan menjadi hasil tulisan yang buruk. Disini diperlukan sebuah usaha untuk berani terus menulis dan menyelesaikannya menjadi sebuah tulisan yang anda inginkan. Biarkan orang lain yang menilai tulisan anda.
Bila alasan anda berhenti menulis karena kekurangan atau bahkan kehabisan bahan padahal tulisannya belum sesuai dengan yang anda inginkan maka berusalah untuk menggalinya lebih dalam. Sebenarnya bahan tulisan itu tidak ada habisnya meskipun telah anda tulis sebelumnya. Hanya saja, bahan-bahan itu takkan keluar dengan sendirinya seperti 'popup ajaib di internet'. Bahan-bahan itu mungkin luput dari pengamatan atau ingatan anda. Dan memang menjadi tugas bagi penulis untuk menggali bahan-bahan itu.
Ada banyak cara yang dipakai penulis untuk menggali bahan-bahan yang diperlukannya dalam sebuah tulisan. Bila tulisan anda berasal dari pengalaman anda, coba ingat-ingat kembali pengalaman anda. Hal ini memang agak susah terutama bila pengalaman itu sudah terjadi lampau sekali, tapi bukan tidak mungkin untuk diingat. Cobalah untuk mengingat tiap detil dari kejadian yang menjadi pengalaman anda tersebut. Lalu angkat tiap detil yang baru anda ingat itu kedalam tulisan. Bisa juga anda bumbui dengan fantasi anda. Fantasi yang anda miliki juga dapat menggantikan detil-detil kejadian yang telah anda lupakan.
Ada juga penulis yang menggali bahan-bahan tulisannya berasal dari pengamatan. Penulis-penulis profesional banyak berasal dari orang-orang yang berlatar belakang jurnalis. Tidak hanya karena menulis adalah pekerjaannya tapi yang lebih dari itu mereka sudah terbiasa dan terlatih dalam mengamati segala kejadian. Bahkan kejadian yang sering dianggap orang pada umumnya sebagai rutinitas bisa menjadi tulisan yang sangat menarik.
Pengamatan bukan berarti hanya membuka mata lalu mengamati suatu kejadian begitu saja. Pengamatan untuk memperoleh bahan tulisan membutuhkan perhatian khusus pada apa yang anda amati. Dengan memperhatikan hal-hal yang anda amati, selanjutnya munculkan kesan, reaksi, atau pertanyaan kedalam benak anda. Semakin anda merasa penasaran berarti anda telah menggali makin dalam. Kemampuan mengamati segala sesuatunya secara mendalam tidak dapat diperoleh dengan mudah, perlu latihan dan kesabaran. "Latihan Pengamatan" kedengarannya sepele tapi bila anda memahami maknanya mungkin anda akan berkata lain.
Saya anggap pembaca artikel ini adalah orang dewasa atau memang ingin lebih dewasa karena tuntutan lingkungan dan sebagainya. Dan karena kedewasaan itu terkadang kita sudah melupakan cara hidup sebagai anak-anak. Lihatlah perilaku seorang anak. Setiap kali seorang anak mengamati sesuatu yang baru, ia pasti akan berusaha untuk mempelajarinya, menanyakannya atau bahkan menirunya. Untuk melatih pengamatan anda dalam mencari bahan-bahan tulisan tak ada salahnya bila anda mendengarkan anak kecil yang ada dalam diri anda.
Setiap orang dapat belajar menjadi pengamat yang lebih baik hanya dengan memperhatikan lingkungannya. Peluang memperoleh bahan tulisan sebenarnya cukup banyak meskipun hanya memperhatikan segala aktivitas, tingkah laku, ucapan dan semuanya yang berhubungan dengan orang disekitar anda, dimanapun juga anda berada.
Seseorang dapat menulis dengan baik soal sebuah kisah bila mengalami sendiri pengalaman dalam kisah itu. Hal ini benar tapi tidak selalu tepat. Banyak orang-orang terkenal yang ingin mengeluarkan biography dirinya sendiri tapi masih membutuhkan penulis. Si penulis meskipun tak mengalami sendiri pengalaman dan kisah-kisah yang ditulis tetap dapat membuahkan hasil tulisan yang baik. Ini semua karena si penulis mampu merekam, bahkan menyerap semua bahan untuk tulisannya.
Setelah anda menyadari soal pentingnya pengamatan dalam memperoleh bahan cerita anda, saya rasa menuangkannya dalam bentuk tulisan akan menjadi lebih mudah. Dengan menambahkan cerpen anda dengan bumbu-bumbu dari fantasi anda, dapat membuat cerita anda menjadi semakin lebih hidup.
Langkah berikutnya setelah tulisan yang anda buat dianggap selesai adalah menelitinya kembali. Disini anda akan memperbaiki konsep 'ngawur' yang saya jelaskan sebelum ini. Perhatikan aturan-aturan penulisan yang baku. Sebaik-baiknya cerita yang anda hasilkan tapi bila anda tak memperhatikan aturan seperti tanda baca, huruf besar-kecil, ejaan dan sebagainya niscaya hasil cerita anda juga sia-sia belaka.
Yang harus selalu diingat oleh penulis adalah, mereka menulis untuk dibaca oleh orang lain. Dan berharap bahwa orang lain mempunyai pemahaman sebagaimana si penulis harapkan. Kecuali anda memang tak ingin mempublikasikan karya anda.
Uraian dalam artikel ini hanya bersifat memotivasi anda untuk segera menulis dan memperbanyak menulis untuk berlatih. Bisa jadi uraian saya ini adalah sebuah hasil dari konsep 'ngawur' yang telah saya ungkapkan. Teruslah belajar menulis dari berbagai bahan dan sumber, terutama dari orang-orang yang sudah berpengalaman di bidang penulisan. Terus terang saya belum termasuk di dalamnya. (dari berbagai sumber)
Nulis Cerpen Tidak Semudah Menulis Artikel, Benarkah?
SETIAP penulis pasti punya kecenderungan yang berbeda-beda. Ada penulis yang lebih cocok menulis karya ilmiah seperti yang dimuat di jurnal-jurnal kampus, atau menulis cerpen, dan sebagainya. Banyak orang yang mengira bahwa untuk menjadi penulis novel, harus “lulus” dulu sebagai penulis cerpen. Padahal faktanya, ada sejumlah penulis - seperti Novia Syahidah - yang justru mengawali karir sebagai penulis novel. Sementara penulis novel remaja, Leyla Imtichanah, mengaku lebih mudah menulis novel daripada cerpen.
Itu adalah beberapa contoh yang membuktikan bahwa setiap penulis punya kecenderungan dan keunggulan yang berbeda-beda. Masalahnya, selama ini kita seperti “dipaksa” untuk menulis jenis tulisan tertentu, padahal belum tentu kita suka.
Di sebuah komunitas penulisan, hampir semua anggota baru dituntut untuk bisa menulis cerpen, padahal banyak di antara mereka yang merasa lebih sreg menulis artikel. Menurut saya, kuranglah tepat jika sebuah komunitas/lembaga penulisan memaksa para anggota mereka seperti itu.
Jadi saya kira, mbak Rahmayanti tak perlu gusar atau sedih. Mungkin Anda memang lebih cocok jadi penulis nonfiksi seperti artikel, esai, dan sebagainya. Cobalah untuk lebih fokus pada tulisan-tulisan nonfiksi. Tapi bukan berarti penulisan fiksi seperti cerpen atau novel ditinggalkan. Boleh saja tetap dilakoni. Tapi berikanlah prioritas pada jenis tulisan yang paling Anda kuasai.
Memaksakan diri dalam hal apapun, tentu bukan sesuatu yang baik, bukan?
Semoga sukses, ya…. (dari berbagai sumber)
Sabtu, 16 Agustus 2008
AKU DATANG PESONA
Oleh: Bejo Daroini
Laut seribu sejamban untukmu
Detik sobek untuk nafas.
Tak lepas
Bersampan,
Menyelam,
Timbul tenggelam.
Laut sejuta berjamban
Perahu ini milikmu!
Turuti angin menuntun layar
Disulam empat puluh hari setelah malam surga ayah ibu.
Semoga mengerti,angin kan kembali.
Turuti saja batu merasuk dasar palung.
Agar sadari kau kan hidup bersama matahari.
Oh, samudra berpelangi warna
Aku datang pesona!
12 Agustus '08
Laut seribu sejamban untukmu
Detik sobek untuk nafas.
Tak lepas
Bersampan,
Menyelam,
Timbul tenggelam.
Laut sejuta berjamban
Perahu ini milikmu!
Turuti angin menuntun layar
Disulam empat puluh hari setelah malam surga ayah ibu.
Semoga mengerti,angin kan kembali.
Turuti saja batu merasuk dasar palung.
Agar sadari kau kan hidup bersama matahari.
Oh, samudra berpelangi warna
Aku datang pesona!
12 Agustus '08
Jumat, 15 Agustus 2008
Janji Palsu Para Kadal
Jika saya terpilih jadi bupati, maka pendidikan akan gratis, lapangan pekerjaan saya buka luas-luas. Sehingga tidak ada lagi yang namanya rakyat miskin. Kami juga akan memberikan subsidi pada rakyat yang tidak mampu. Yang lebih penting lagi, gaji saya setiap bulan akan kami alokasikan untuk warga tidak mampu sebanyak 10 prosen.
ITULAH janji yang didengar Kang Brodin saat mengikuti kampanye setiap calon dalam pemilihan kepala daerah yang akan dilaksanakan secara langsung (Pilkadal). Mereka meneriakan perubahan dalam kepemimpinannya. Namun lain halnya yang dilakukan Kang Brodin, ia malah tidak optimis dengan apa yang disampaikan para Jurkam.
“Gimana Kang, kampanyenya bagus ya,” kata Markuat pada Kang Brodin setelah usai mengikuti kampanye salah satu kandidat.
“Iya sich bagus isinya, nggak tau realisasinya setelah menjabat!,” jawab Kang Brodin.
“Lho kok kamu nggak optimis gitu sich terhadap perubahan yang dibawakan para juru kampanye (Jurkam),” protes Markuat.
”Lho gimana lagi, wong namanya jurkam ibarat dodolan jamu (jualan jamu). Bagaimana ia dapat menjual jamunya sampai habis? Ya tentunya mempromosikan dengan mengatakan, jamu ini cocok bagi pekerja berat. Sekali minum, pegal-pegal di tubuh langsung hilang,” terang Kang Brodin sambil melangkahkan kakinya diikuti Markuat.
”Maksudmu apa Kang? Aku kok ra paham?,” tanya Markuat.
”Maksudku, saat ini mereka mengatakan perubahan untuk menarik simpati rakyat, sehingga mendapat banyak dukungan. Tapi setelah terpilih, rakyat kecil yang selalu ditindas dan diperas,” jelasnya.
”Lho kok bisa gitu?,”
”Lha contoh saja, di desa kena pajak penerangan jalan umum atau PJU. Tapi lihat! Disana tidak ubahnya seperti kuburan. Di jalan dapat terang karena arus listrik dari warga. Lalu kemana larinya pajak PJU?,” ganti Kang Brodin bertanya ke Markuat.
”Ya... aku nggak tau Kang. Aku aja wong ndeso kok,”
”Yang jelas pajak PJU makin nggak jelas bagi rakyat kecil. Tapi di kota lihat aja, byar padhang njinglang,” ungkap Kang Brodin.
”Jadi rugi dong aku beberapa kali ikut pemilihan, kalau hasilnya ternyata menguntungkan orang-orang tertentu,” lambahnya.
”Oh... gitu ya...,” ujar Markuat singkat.
Tanpa terasa, langkah mereka sudah sampai di depan warung Mbok Darmi. Ternyata di sana sudah ada Cak Semprul dan Cak Hasan sedang menikmati nasi pecelnya Mbok Darmi. Setelah mengucap salam mereka pun masuk ke warung itu. ”Lho Mbok sekarang juga jualan nasi toh?,” tanya Kang Brodin.
”Ya... coba-cobalah Kang, sekalian untuk nama penghasilan. Soalnya beban hidup semakin menjepit,” ujar Mbok Darmi.
”Iya Kang, nasi pecelnya uenak tenan,” Cak Semprul mempromosikan nasinya Mbok Darmi.
”Cak pean promosi nasinya si mbok dibayar piro?,” ledek Kang Brodin disambut tertawa teman-teman yang lain.
”Ya dech Mbok, buatkan dua ya, sama Markuat,” pesannya
”Inilah salah satu oleh-oleh dari kampanye, ternyata benar apa yang dikatakan Kang Brodin. Perubahan yang didengung-dengungkan jurkam, terbukti. Mbok dari dulu sampai sekarang tidak ada perubahan, tetap jualan di warung ini he... he... he....,” kata Markuat sambil cengegesan.
”Ooh... memang tadi kamu ikut to kampanye di alun-alun?,” tanya Cak Hasan.
”Iya Cak, ternyata semua seperti bakul jamu. Bagaimana supaya dagangannya laku, sikut sana sikut sini, yang penting lawan politiknya jatuh tersungkur,” kata Markuat.
Setelah jadi, lanjut Markuat, mereka hanya melambaikan tangan. “Alias da... da... poh!,” ujar Markuat.
“Kamu itu keseringan nonton film Teletubies, Mar,” ledek Mbok Darmi.
“Ya... itulah mental sebagian besar para politisi negeri ini, Mar. Bahkan pada Pemilu sekitar tahun 1982, mereka janji mau ngaspal jalan kampung, ternyata baru diaspal tahun 2006. Itupun aspalnya banyak gronjalannya alias tidak rata. Trus baru beberapa bulan dipakai, e.... ternyata sudah rusak,” kata Cak Semprul.
“Hanya beberapa pemimpin hasil Pilkadal yang konsisten. Bahkan banyak diantaranya yang kini jadi tersangka korupsi, tidak peduli itu yang masih menjabat maupun yang sudah tidak menjabat. Jika ada bukti mereka akan masuk juga. Itu yang ketahuan, bagaimana dengan yang tidak ketahuan? Bisa jadi jumlahnya lebih besar,” tambah Kang Brodin.
“Bagaimana kalau kita Golput saja?,” ajak Markuat memprovokasi teman-temannya.
”Itu tidak baik. Nanti rugi sendiri lho!,” sela Mbok Darmi seraya memberikan bungkusan nasi pecel pada Kang Brodin dan Markuat.
“Rugi gimana, Mbok?,” tanya Markuat.
“Kalau nggak milih, jika ada kesalahan pada pejabat kamu juga jangan menyalahkan. Salahnya nggak milih, juga nggak punya hak untuk protes. Itu artinya acuh terhadap kondisi bangsa,” terangnya.
“Lha terus.....!,”
“Ya... pilih aja. Dari sekian calon, pasti ada yang lebih baik. Cari aja yang lebih sedikit kesalahannya, atau pilih calon yang baru, yang belum tau kepemimpinannya,” saran Mbok Darmi.
”Bagus juga sarannya, Mbok. Ya otomatis nambah pekerjaan kita. Karena tiap hari jika ada kampanye kita harus datang untuk mengetahui program kerja masing-masing calon,” kata Markuat.
”Ndak usah ikut kampanye.... emang dengan ikut kampanye yang di rumah bisa kenyang. Yang penting kerja dulu! Kalo nggak kerja siapa yang ngasih makan keluarga peno-peno semua. Iya kalau peno pada makan di sini, tapi bagaimana dengan anak dan istri pean?,” celetuk Mbok Darmi.
”#@#?????!!!$##$$$,” mereka pun dibuat pusing. ***
Warning Dari Allah
Alam mulai berulah, banjir, tanah longsor, gempa dan lumpur panas merupakan ‘warning’ dari Allah terhadap ummat-Nya di dunia. Namun sayang, banyak yang tidak menyadarinya. Memang benar apa yang pernah dikatakan ustadz, “manusia tempatnya lupa dan dosa”. Apalagi jika sudah mereguk kenikmatan dunia.
PAGI itu, di desa tempat tinggalnya Cak Hasan sedang ramai membicarakan lumpur di Porong, Sidoarjo yang belum juga ada tanda-tanda akan mampet (tertutup). Kemudian beralih pada topik banjir yang melanda di beberapa daerah, seperti Jakarta dan luar Jawa.
Ia pun kemudian meneruskan perjalanannya menyusuri jalanan desa tempat kelahirannya. Di sepanjang jalan, ia merenungkan apa yang telah didengar dari para warga. Tiba-tiba ia pun dikejutkan oleh suara yang memanggil namanya.
”Cak! Cak Hasan!,” panggil Markuat dari kejauhan sambil berlari-lari kecil menghampirinya.
”O.... kamu toh yang memanggil aku tadi. Ada apa dan dari mana?,” tanya Cak Hasan setelah Markuat dekat.
“Ndak... ndak ada apa-apa. Aku habis jalan-jalan keliling kampung, sekalian melihat-lihat tanaman tebuku. Cak Hasan sendiri mau kemana?,” jawab Markuat sambil balik bertanya.
”Aku juga dari jalan-jalan. Ya... ngobrol sama warga, biar nggak ketinggalan jika ada kabar baru tentang kampung kita ini,” kata Cak Hasan. Sejurus kemudian mereka pun melanjutkan langkah kakinya menyusuri jalanan yang masih basah oleh embun pagi.
”Cak, enaknya pagi-pagi gini menikmati kopi panas dengan pisang goreng pasti nikmat,” usul Markuat.
”Iya... ya.... kadang encer juga otakmu, Mar,” ledek Cak Hasan.
“Siapa dulu dong! Markuat sekuat macan, eh salah sekuat Superman,” saut Markuat tanpa merasa diledek oleh Cak Hasan.
”Ayo kita ke warung biasanya, warung kita mangkal tempat diskusi,” ajak Cak Hasan. Mereka pun bergegas menuju arah warung Mbok Darmi. Maklum di desa itu tidak ada warung lain selain warung kopinya Mbok Darmi ini.
Di tengah jalan, mereka bertemu dengan Cak Semprul yang sedang asyik membersihkan selokan di depan rumahnya. ”Cak Semprul! Kadengaren bersih-bersih selokan segala, emang mau ada air bah apa?,” sindir Markuat.
”Ya... siapa tau nanti kalo hujan desa kita banjir, dengan demikian kan aman kita. Air bisa lancar mengalir,” jawab Semprul sambil terus membersihkan selokan.
”Iya Cak, tak bantu ya! Ayo Mar kita bantu, setelah selesai kita sama-sama cangkru’an di warungnya Mbok Darmi,” ajak Cak Hasan pada Markuat.
”Boleh... makasih ya mau bantu-bantu. Tapi ati-ati nanti kotor lho!,” ucap Semprul singkat. Sejenak kemudian ketiganya asyik bersih-bersih selokan itu.
“Sudahlah sesama saudara harus saling membantu, apalagi ini untuk kebaikan bersama,” kata Cak Hasan mulai menceburkan kakinya ke selokan.
Setelah beberapa jam kemudian, akhirnya pekerjaannya selesai. “Ayo dibersihkan dulu, nanti setelah itu kita sama-sama ke warungnya Mbok,” ajak Semprul.
Keduanya pun mengikuti langkah kaki Semprul menuju rumahnya. Mereka bertiga pun kemudian membersihkan kaki dan tangannya. Lalu melangkah ke arah warung Mbok Darmi untuk sekedar ngobrol sambil menikmati kopi pagi hari.
Sesampainya di warung Mbok Darmi, ternyata Kang Brodin sudah terlebih dulu nyruput kopi di warung itu. “Assalamu’alaikum semuanya, apa kabarnya hari ini? Dari mana aja kalian kok baru nongol, bersamaan lagi? Emang ada apa?,” cerocos Kang Brodin menyambut kedatangan ketiga temannya.
”Waduh kamu, Kang. Ternyata sudah terlebih dulu di warung. Trus tanyaknya seperti tembakan granat, tanpa hentinya,” potong Cak Hasan.
”Iya dech.... jawab aja yang kalian inget!,” kata Brodin mengalah.
”Kami dari jalan-jalan, kemudian bersih-bersih selokan, kemudian ke warung Mbok, kemudian....,” belum selesai sudah dipotong sama Kang Brodin.
”Kemudian ketemu aku... kamu kalo nyindir ya nyindir... jangan ikut-ikutan nyerocos panjang kayak sepur,” ujar Brodin agak kesel.
”Emang kenapa kok pakek acara bersih-bersih segala?,” tanya Kang Brodin.
”Ya ini khan mau musim hujan. Jadi siap-siap biar nggak kebanjiran seperti Jakarta atau Surabaya,” ujarnya.
”Itu namanya manusia nggak tau diri!,” celetuk si Mbok.
”Nggak tau diri gimana Mbok?,” tanya Semprul.
“Ya nggak tau kalo itu merupakan peringatan dari sang Pencipta. Banjir, gempa, longsor itu merupakan peringatan bahwa manusia di dunia itu sudah banyak dosanya. Dan Allah itu memperingatkan melalui kejadian alam. Masak nggak nyadari?,” papar Mbok Darmi sambil memberikan kopi dan pisang goreng.
“Iya... ya.... itu khan bisa jadi peringatan dari Pencipta!,” kata Markuat mendukung.
“Bukan bisa jadi, tapi memang kejadian alam itu semuanya peringatan. Seperti gunung meletus dan bencana alam lainnya. Termasuk kematian, itu juga peringatan dari-Nya. Cuma manusia itu yang nggak menyadari, nggak tau diri, atau pura-pura nggak tau. He....he...he....,” celetuk Mbok Darmi seraya tertawa cekikikan.
”Nah lho, yang pasti itu kiamat makin dekat, dan kematian juga makin dekat. Umur kita ini juga makin berkurang, bukan bertambah,” Kang Brodin menimpali kata-kata Mbok Darmi.
”Untuk itu, mari kita tobat bersama-sama,” ajak Mbok Darmi.
”$#!#$??!!$#$$%%$%,” Markuat, Kang Brodin, Cak Semprul, dan Cak Hasan melonggo. ***
Kamis, 14 Agustus 2008
Balada Ryan dan 106 Terpidana Mati Menunggu Eksekusi

Terbongkarnya aksi nekat sosok Ryan (Very Idam Henyansyah) yang menghabisi sedikitnya 11 nyawa manusia, membuat bulu kuduk setiap yang mendengarnya merinding. Apalagi kabarnya, saat ini di lingkungan sekitar rumah tempat tinggal Ryan terdengar suara aneh yang kerap meghantui warga. Pantaskah hukuman mati tetap diterapkan di Indonesia?
BARU-baru ini Mbok Darmi dikejutkan dengan berita yang menyatakan Komnas HAM menyetujui adanya penghapusan hukuman mati. Persoalannya sepele, yakni hanya karena hidup dan mati seseorang itu hanya Sang Pencipta yang berhak untuk mengaturnya. Si Mbok pun bingung dan pusing tujuh keliling. Persoalannya bukan karena ia kehilangan barang berharga, ia pusing dan bertanya-tanya, ditaruh di mana otak mereka itu?Sebagaimana diketahui oleh Mbok Darmi, hukuman mati itu sudah ada sejak jaman dahulu. Hal itu berlaku, bukan karena unsur balas dendam atau alasan yang lainnya. Tapi persoalan untuk mengatur kehidupan. ”Sehingga manusia itu tidak seenak udel-nya sendiri. Jika hukuman mati dihapuskan, siapa yang bertanggung jawab terhadap nasib dan kejahatan yang terjadi di muka bumi?,” pikir Mbok Darmi.
”Wong ada hukuman mati saja masih banyak orang yang saling membunuh. Bagaimana nanti jika benar-benar hukuman mati dihapus? Pasti hukum rimba yang berlaku. Dan tentunya yang meminta hukuman mati dihapus, itu sudah bukan otak manusia, tapi otak hewan yang akhirnya saling paten tinaten (saling bunuh membunuh –red),” pikiran Mbok Darmi terus menerawang jauh entah kemana. Pikirannya tidak karuan menyaksikan tingkah polah manusia ’tidak’ pintar yang sok keminter.
Karena asyik melamun, ia tidak menyadari Cak Hasan sudah berdiri di depan pintu yang mengucap salam sejak tadi. Tapi karena asyik dengan lamunannya, si Mbok sampai-sampai tidak mendengar salam dari Cak Hasan.
”Assalamu’alaikuuuuuuuuuuuuuummm!!!,” kali ini Cak Hasan mengucap lebih keras lagi. Baru setelah mengucapkan salam agak keras Mbok Darmi geragapan dan serta merta menjawabnya dengan terkejut.

”Wa...waalaikumsalam! eh Cak Hasan maaf lho Cak tadi nggak dengar,” jawab Mbok Darmi seraya mempersilakan Cak Hasan Masuk.
”Kok ngelamun Mbok? Ada apa?,” tanya Cak Hasan.
”Ach.... Nggak kok Cak. Mbok cuman heran campur geli melihat berita di tivi,” jawabnya.
”Emang berita apa’an Mbok?,” tanya Cak Hasan penasaran.
”Itu lho.... masak hukuman mati minta dihapus. Aku aja yang orang kecil pingin tertawa jadinya,”
”Memangnya kenapa?,”
”Lha iya masak mencari sensasi kok ya macam-macam. Sekarang ini banyak orang pintar tapi bodoh,”
”Maksud si Mbok?,”
”Lha iya toh. Mereka itu ngaku Islam, tapi tidak ngerti Islam itu yang bagaimana. Wong di Islam sendiri juga ada hukuman mati. Memang sich yang namanya hidup dan mati di tangan Allah. Dan mereka yang dihukum mati, berarti juga telah ditakdirkan oleh Allah seperti itu. Gitu aja kok repot,” terang Mbok Darmi menirukan gaya Gus Dur.
Belum lagi diskusi itu berlanjut, tiba-tiba terdengar sura salam dari luar, ”Assalamu’alaikum....,”
”Wa alaikumsalam....,” jawab Mbok Darmi dan Cak Hasan hampir bersamaan.
Ternyata yang datang Kang Brodin. Ia tampak tergopoh-gopoh datang ke warung Mbok Darmi. ”Ada apa Kang kok terburu-buru seperti dikejar-kejar maling,” tanya Mbok Darmi.
”Itu lho Mbok, Ryan si jagal manusia terancam hukuman mati!,” seru Kang Brodin.
”Aduh Din... Din.... tak kira ada apa. Kalo cuman berita Ryan yang terancam hukuman mati itu sudah basi. Wong sekarang yang lagi in itu beritanya beberapa orang minta hukuman mati dihapus kok,” jelas Cak Hasan.
“Lho kok aneh? Yen dihapus terus orang membunuh seenaknya gitu?,” tanya Kang Brodin malah kaget.
“Ya ndak toh, mereka maunya minta dihukum seumur hidup,” jawabnya.
“Lho.... lho.... lho...!!!,”
“Kok pean malah lho lha lho lho aja? Emang kenapa?,” tanya Cak Hasan.
”Mbok kopi ya. Lha kalo gitu orang membunuh 100 orang juga mintanya dihukum seumur hidup? Ini hukum apa namanya, harga nyawa hanya diganjar seumur hidup. Edan tenan opo?,”
”Nah kamu jadi heran toh? Makanya kalo soal Ryan dihukum mati itu sudah basi. Ini baru namanya berita,” ejek Cak Hasan.
”Ya itulah namanya manusia, jaman sekarang itu ternyata banyak orang yang salah kaprah. Bukan ahlinya ikut bicara soal yang tidak ia mengerti. Akibatnya ngawur semua. Negoro malah gak karu-karuan. Yen ngene terus, yo ayo awak’e tobat jama’ah wae,” ajak Mbok Darmi.
”Maka dari itu, kalau milih pemimpin harus dilihat dulu nasabnya, jangan asal pilih yang ganteng, yang tenar tapi ternyata tidak tahu aturan. Itu lebih berbahaya. Untuk itu dalam memilih pemimpin teliti dulu. Jangan seperti membeli kucing dalam karung. Eh... nggak tahunya kucingnya kakinya hanya dua,” sindir Mbok Darmi yang sejak tadi jadi pendengar setia. ***
Langganan:
Postingan (Atom)