BROSUR PMC Cell - Klik Gambar di Bawah Ini

BROSUR PMC Cell - Klik Gambar di Bawah Ini
PMC Cell - Master Pulsa Electric

Menggapai Kemuliaan Muslimah dengan Bimbingan Salaful Ummah

Senin, 14 April 2008

Membela Yang Bayar



Dengan membawa bendera demokrasi, kandidat calon bupati, gubernur, dan presiden mengumbar janji. Bahkan calon kepala desa pun ikut-ikutan untuk mendapatkan suara. Padahal, akibat yang ditimbulkan sangat dasyat. Sesama tetangga tidak akur, bahkan saling cemoohan, gara-gara beda dukungan.


HAL inilah yang membuat bingung Mbok Darmi. Ia khawatir jika orang-orang yang selama ini ngopi di warungnya beda pilihan, bisa-bisa mereka tidak lagi nongkrong di warungnya. Kekhawatiran Mbok Darmi cukup beralasan, karena warung itu satu-satunya mata pencahariannya.

”Gimana ya ini kalo Cak Hasan, Kang Brodin, Cak Semprul, dan Markuat beda pilihan? Bisa-bisa mereka sudah nggak ke warung ini lagi, nggak mau kumpul lagi,” guman Mbok Darmi dalam hati. Belum hilang lamunannya, ia dikejutkan oleh suara yang tidak asing lagi di telinganya yang memesan secangkir kopi.

Assalamu’alaikum.... Kopi Mbok, seperti biasanya,” pinta Cak Hasan yang langsung duduk di kursi panjang di warung itu.

”O... Cak Hasan, Wa ’alaikumsalam. Iya Cak, tunggu sebentar ya,” kata Mbok Darmi agak terkejut.

”Ada apa Mbok, kok ngelamun?,” tanya Cak Hasan penasaran.

”Ach! ndak kok Cak,” jawab Mbok singkat.

”Jangan bohong lho Mbok! Bohong itu dosa, apalagi membohongi diri sendiri,” pancing Cak Hasan agar Mbok Darmi mau cerita.

”Cak Hasan ini bisa aja...,”

”Lho bener lho Mbok, membohongi diri sendiri itu dosa,” sambil cengar-cengir melihat si mbok yang salah tingkah.

”Anu Cak, aku khawatir,”

”Khawatir apa Mbok?,”

”Khawatir jika dalam pemilihan bupati nanti kalian ada perbedaan,”

”Ha...ha...ha...emang kenapa? Khan beda pendapat itu lumrah. Terus apa hubungannya kekhawatiran si Mbok dengan perbedaan itu,”

”Aku khawatir nanti kalian jadi nggak akur lagi, kemudian tidak mau lagi mampir ke warung ini,” jawab Mbok Darmi polos.

”Aduh Mbok cuman itu toh persoalannya. Ya nggak lah Mbok, masak gara-gara pemilihan bupati terus kita nggak akur. Itu salah Mbok,” jelas Cak Hasan.

”Ini Cak kopi pesanannya. Tapi itu sudah banyak kejadiannya lho Cak!,” tambah Mbok Darmi.

Assalamu’alaikum....,” Markuat dan Kang Brodin datang secara bersamaan.

Wa ’alaikumsalam....,” saut Mbok Darmi dan Cak Hasan hampir bersamaan seperti dikomando.

”Eh...kalian berdua, mau pesen kopi juga?,” tanya Mbok Darmi.

”Iya Mbok. Kali ini kopi manis aja ya Mbok,” pesan Kang Brodin.

”Saya juga Mbok,” Markuat juga ikut-ikutan Kang Brodin.

”Kadengaren kompak nich!,” seru Mbok Darmi.

”Ya iya lha Mbok, kita kan sehati he....he....he....,” jawab Kang Brodin sekenanya sambil tertawa cekiki’an.

”Kang, ini lho si Mbok khawatir jika kita beda pilihan, katanya kita tidak akan ke seni lagi,” kata Cak Hasan.

”Bener itu Mbok yang dibilang sama Cak Hasan?,” tanya Kang Brodin.

”Iya nanti siapa yang beli kopi di sini. Kalau nanti beda pilihan, kalian tidak akur, gimana ayo?,” jawab Mbok Darmi.

“Aduh Mbok.... kita ini sudah susah, jangan mau diadu sama yang memanfaatkan hanya untuk cari dukungan. Lihat yang ikut kampanye itu, kasihan mereka! Mereka hanya dijadikan alat untuk mendukung dan membela yang bayar. Akibatnya dengan tetangga sebelah tidak saling kenal,” kata Kang Brodin.

”Makanya itu si mbok khawatir seperti itu,” seru si Mbok.

”Nggak Mbok, kita akan tetap tidak lupa sama kopinya si Mbok. Iya khan Kang Brodin dan Markuat,” tutur Cak Hasan menenangkan Mbok Darmi.

”Iya dong,” jawab mereka berdua.

”Seharusnya, kalau dibilang demokrasi kenapa pakai kampanye segala. Siapa yang mencalonkan silakan, kemudian setelah diseleksi, khan bisa langsung dilakukan pemilihan. Jadi tidak mengorbankan orang kecil. Kita sudah susah, eh.... diadu domba dengan sesama tetangga tidak akur gara-gara beda pilihan. Mereka harus sadar untuk datang ke TPS, itu namanya demokrasi. Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat,” keluh Mbok Darmi soal pemilihan bupati secara langsung.

”Bukan dari rakyat, oleh rakyat, tapi untuk pejabat,” sambung Mbok Darmi menyindir.

”Ya itulah Mbok mencari massa, biar banyak dukungannya. Bahkan mereka rela mengeluarkan uang untuk membayar siapa saja yang mau datang. Biar kelihatan pendukungnya banyak,” celetuk Markuat.

”Nah yang ini tidak pair,” saut Mbok Darmi.

”Fair Mbok, bukan pair,” kata Cak Hasan membenarkan.

”Ya itu maksudku. Maklum lidahnya orang tua sering keseleo,” lanjut si Mbok.

”Aku juga setuju usulan Mbok tadi. Tidak perlu ada kampanye, rakyat langsung memilih. Atau kalau ada kampanye khan ada banyak cara, bisa lewat spanduk dan baliho, koran, atau radio,” sambung Kang Brodin.

”Sehingga tidak mengorbankan rakyat kecil. Masak rakyat kecil hanya dipermainkan, jika butuh seperti perhatian. Saat sudah jadi, giliran rakyat kecil ditendang. Apes-apes dadi wong cilik!,” seru Mbok Darmi.

”Ya itulah nasib wong cilik seperti kita-kita ini. Sudah susah, trus harga kebutuhan nggak pernah turun. Kalo ada pemilihan kita hanya dijadikan obyek penderita,” keluh Markuat.

”Kalo gitu khan kita nggak usah ribut-ribut lagi soal pemilihan bupati. Biar kita nggak jadi korban, bagaimana kalau kita usulkan ke KPUD untuk menghilangkan kampanye, yang ada debat terbuka antar kandidat. Itu pasti lebih seru dan tidak mengorbankan rakyat kecil,” usul Cak Hasan pada yang ada di warung Mbok Darmi.

”Setuju......................!!!,” saut semua yang ada di warung itu hampir bersamaan. ***

Tragedi Gembok



Di Malang, Jawa Timur, panti pijat memberlakukan karyawan wanitanya untuk mengenakan celana khusus dengan pengaman berupa gembok. Tapi di Jakarta, hal itu dianggap melecehkan kaum hawa.

KANG Brodin bingung mendengar berita di televisi yang menyatakan menolak pemberian gembok pada celana khusus bagi para karyawan panti pijat. Padahal itu sudah dilakukan beberapa tahun yang lalu. Penolakan itu mencuat saat Pemkab Malang berencana memberlakukan peraturan pemakaian gembok pada panti pijat, setelah mengetahui efektifitas gembok tersebut untuk menghindari pelecehan pada wanita.

Karena tidak menemui jawaban, ia pun mendatangi tempat berkumpulnya teman-temannya di warung Mbok Darmi. Ternyata di sana pun ia hanya mendapati Mbok Darmi seorang diri yang sedang melamun.


“Assalamu’alaikum…..!!!,” Kang Brodin menyapa Mbok Darmi.

”Waalaikumsalam!! Eh.... Kang Brodin. Tumben pagi-pagi sudah nongol?,” jawab Mbok Darmi.

”Iya Mbok, daripada bengong di rumah. Tolong buatkan kopi Mbok,” pesannya.

”Baik Kang, sebentar ya....,” bergegas Mbok Darmi bangkit dari duduknya dan menuju ke belakang untuk membuatkan secarngkir kopi.

”Kang aku heran lho melihat berita di televisi,” kata Mbok Darmi sambil mengaduk kopi.

”Heran gimana Mbok?,”

”Masak pemakaian gembok pada tukang pijat dipersoalkan, padahal itu khan untuk keselamatan dan mengurangi prostitusi. Bahkan para pejabat di Jakarta, baik yang laki-laki maupun yang perempuan menyatakan itu pelecehan terhadap wanita,”

”Nah.... ini yang tadi juga aku pikirkan. Karena tadi nggak ada yang tak ajak mikir, lalu aku ke warung si Mbok!,” terang Kang Brodin.

Sejenak perbincangan mereka terhenti, karena ada orang yang mampir ke warung si mbok.

”Assalamu’alaikum.....!!!,” kata orang itu mengucap salam.

”Waalaikumsalam,” jawab Kang Brodin dan Mbok Darmi bersamaan.

”Eh... ternyata sudah ada Kang Brodin di sini,” saut orang yang baru datang.

”O...a...lah..... kamu toh Cak, tak kira siapa?,” ujar Kang Brodin pada tamu yang datang ke warung Mbok Darmi. Ternyata yang datang Cak Hasan yang biasanya memberikan ’fatwa’ terhadap permasalah yang menjadi bahan diskusi si warung itu.

”Kok terlihat tegang, emang apa yang sedang jadi perbincangan kalian?,” tanya Cak Hasan.

”Gini lho Cak, masak panti pijat yang mengharuskan karyawannya memakai gembok pada celana khusus dipersoalkan? Apalagi dianggap melecehkan wanita? Apa ini dunia nggak terbalik,” jelas Mbok Darmi.

”Oh... itu toh persoalannya. Itu khan anggapan mereka. Jadi, anggap saja pemimpin kita yang tidak tahu malu, tidak punya moral, dan lainnya,” tegas Cak Hasan.

”Lho... lho... kok gitu toh Cak, jangan kasar-kasar nanti dituntut seperti yang dialami group musik Slank lho!,” kata Mbok Darmi mewanti-wanti.

”Lha gimana lagi Mbok? Masak mau melindungi kehormatan wanita malah disalahkan. Malah adalagi himbauan jika berhubungan badan dengan bukan pasangan resmi disediakan alat pengaman (baca: kondom). Apa itu bukan lebih melecehkan wanita? Apa itu bukan berarti meyetujui wanita hanya sebagai pemuas nasfu belaka?,”

”Sabar Cak! Sabar Cak! Iki diskusi apa ngajak berantem sih?,” kata Mbok Darmi.

”Bener apa yang dikatakan Cak Hasan, Mbok. Berarti mereka yang menyatakan itu pelecehan, mereka sebenarnya tidak memiliki moral. Buktinya, di televisi beberapa waktu yang lalu saja diberitakan, sudah pakai gembok saja ada yang berusaha merobek celana yang didesain khusus itu. Tidak hanya itu, ada juga yang membuat duplikat kunci. Lha bagaimana kalau tidak pakai gembok? Pasti wanita itu sudah jadi ’mangsa’ laki-laki yang mencari kesenangan semata,” terang Kang Brodin.

”Makanya prostitusi di Indonesia tidak dapat dilibas, tidak dapat ditutup. Lha wong pemimpinnya saja tidak setuju pada orang yang berbuat baik. Padahal wanita yang memakai gembok juga enjoy saja dengan gembok itu. Bahkan mereka banyak yang setuju karena dapat menghindari tangan-tangan nakal para lelaki iseng,” lanjut Cak Hasan.

Cak Hasan terus saja menerangkan segi negatif dan positifnya. Setelah itu Mbok Darmi berkata, ”Kalau begitu lebih banyak manfaatnya daripada segi negatifnya. Segi negatifnya, paling-paling pelanggan yang ke panti pijat hanya iseng semata sudah tidak datang”.

“Tapi wanita pemijatnya khan dapat lebih konsentrasi dan tanpa khawatir digoda atau diajak yang nggak-nggak,” tambah Kang Brodin.

“Ada lagi,” lanjut Cak Hasan.

”Apa itu?,” tanya mereka bersamaan.

”Buatkan aku kopi dulu, baru tak lanjutkan,” kata Cak Hasan membuat penasaran keduanya.

”Iya dech tunggu bentar,” saut Mbok Darmi sambil bergegas membuatkan kopi Cak Hasan. Setelah selesai, segera memberikannya pada Cak Hasan.

”Ini kopinya,” katanya.

”Iya Mbok, makasih ya,”

”Terus lanjutkan!,” pinta Mbok Darmi nggak sabar.

”Sabar dong, ini juga mau ngopi dulu. Uuuupppppsssshhh accch!!!,” Cak Hasan nyruput kopi pesanannya.

”Gini lho, ada satu bukti lagi. Pada berita di televisi beberapa waktu yang lalu, ternyata ada anggota DPR yang tertangkap diduga menerima suap. Anehnya lagi, saat ditangkap, anggota DPR itu ditemani wanita, yang dalam berita itu diduga seorang PSK,” terangnya.

“Ha.... yang Cak Hasan katakan itu benar toh?,” tanya si mbok keheranan.

“Lho lha iya toh, wong itu juga ditayangkan di televisi. Bahkan di koran juga ditulis. Malah yang anggota DPR itu juga suami dari salah satu penyanyi dangdut terkenal di negeri ini,” lanjutnya.

“Wah... wah... wah... ini bisa bahaya. Jangan-jangan pejabat yang melakukan rapat atau kunker ke luar daerah juga ada yang melakukan seperti itu. Ingin bersenang-senang dengan PSK dengan mencari lokasi di luar daerahnya?,” kata Kang Brodin.

“Jangan gitu dong Kang. Meski demikian, tidak semuanya khan wakil kita yang duduk di kursi empuk demikian. Ya moga-moga yang baik lebih banyak daripada yang tidak,” kata Cak Hasan bijaksana. ***

Minggu, 24 Juni 2007

opini-Potret Buram Kampus Para Praja

Potret Buram Kampus Para Praja


Oleh: DEWI HARIYATI, SE
Penulis adalah Pengajar di MA Darul Hikmah Diwek Jombang dan tergabung dalam Komunitas Penulis Jombang (KPJ) dan Kominutas Penulis Lesehan (KOPEL) Jombang


Perubahan nama kampus tidak mengubah perilaku. Kekerasan tetap menjadi tradisi yang dijaga. Dan, yang membuat publik jengkel, kematian demi kematian siswa di sekolah itu awalnya selalu ditutup-tutupi pihak kampus. Oleh karena itu, kita tidak boleh menunggu waktu terlalu lama. Nyawa manusia terlalu sayang untuk dikorbankan para ‘tukang jagal’ yang berkedok intelektual. IPDN harus dibubarkan. Kampus itu bisa untuk sekolah yang lebih bermanfaat bagi kebutuhan bangsa di masa depan.



Ada seorang anak yang kelihatan sakit-sakitan. Setelah sembuh dari panas, ia batuk. Kemudian sakit pilek, lalu sakit diare dan seterusnya. Sepertinya anak itu tidak lepas dari sakit yang dideritanya. Kemudian oleh sang ibu namanya diganti. Kata orang Jawa, ia tidak kuat membawa nama yang diberikannya.

Setelah diganti, anak tersebut tidak sakit-sakitan. Ia sehat dan dapat bermain-main dengan teman-teman sebayanya. Bahkan, ia tumbuh dewasa dan jadi anak yang cerdas dan pandai. Terlepas dari kebenaran, ia tidak sakit-sakitan setelah diganti namanya. Tapi hal itu nyata, dan sering terjadi di lingkungan sekitar kita.

Demikian juga dengan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN). Terlepas dari seperti yang terlukis dalam contoh di atas, yang pasti STPDN telah diubah namanya menjadi Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Sayangnya, setelah diganti nama agar tidak ‘trauma’ terhadap nama STPDN, ternyata IPDN tidak jauh lebih baik dari STPDN.

Keduanya sama-sama telah menelan korban jiwa. Sistem pendidikan ala militer yang diterapkan di IPDN, tanpa dibekali dengan pengetahuan kemiliteran. Akibatnya, mereka (kakak kelas, senior) saling hantam, saling pukul kepada adik kelasnya (yuniornya) seperti sasak (alat latihan tinju) yang siap dihantam bagian mana saja. Bahkan, di Media Indonesia Online (Senin, 09/4/2007) diungkapkan bahwa (ma’af) alat kelamin Cliff Muntu pecah. Tentu hal itu akibat kerasnya pukulan dari seniornya. Ini membuktikan, bahwa ‘hukuman’ itu tanpa dilatar-belakangi pengetahuan yang cukup, mana bagian tubuh yang membahayakan jiwa dan mana yang tidak.

Institut ‘Premanisme’ Dalam Negeri
Sebagai masyarakat, kita tentu prihatin terhadap kekerasan yang terjadi di IPDN. Pasalnya, di IPDN yang menciptakan tenaga-tenaga yang bekerja di pemerintahan itu, ternyata secara tidak langsung menciptakan pegawai-pegawai yang bermental ‘premanisme’. Bagaimana tidak, mereka yang berangkat dari warga sipil, sebagai pelayan masyarakat dan bukan untuk bertempur di medan perang, dilatih dengan kekerasan.

Tidak hanya itu, sesama pelajar diciptakan untuk saling beradu badan. Bagaimana hal itu bisa menciptakan tenaga-tenaga yang profesional. Bisa jadi yang terjadi nantinya bermental korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) seperti yang terjadi saat ini.

Pendidikan sekelas IPDN, tidak seharusnya dilakukan dengan kekerasan. Tapi ditanamkan cinta tanah air, anti KKN dan sejenisnya. Sehingga mereka kelak dapat membawa warga yang dipimpinnya menuju kesejahteraan, bukan sebaliknya. Jika hal itu terus terjadi, maka yang terjadi IPDN akan memunculkan alumni-alumni yang tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan preman.

Hal itu jelas sangat kontradiksi dengan tujuan pendidikan nasional, serta tujuan IPDN yang diharapkan akan muncul pemimpin berwibawa dan disegani karena menghargai masyarakat, bukan karena arogansinya. Saat ini, masyarakat menganggap IPDN bukan lagi Institut Pemerintahan Dalam Negeri, tapi Institut ‘Premanisme’ Dalam Negeri.

Karena jika dilihat, tentu hal itu tidak dapat dipungkiri. Bagaimana sesama siswa IPDN saling pukul, yang tentunya secara tidak langsung akan mempengaruhi tingkah lakunya dan akan terbawa saat mereka sudah diterjunkan ke masyarakat.

Tidak hanya itu, bahkan beredar berita yang menyebutkan di IPDN telah terjadi aktifitas free sex (seks bebas) di lingkungan praja. Terlepas berita miring itu benar atau tidak, seharusnya dari pihak institut seharusnya juga mengetahui hal itu. Jika hal itu benar, mau dibawa ke mana negara ini jika dipimpin oleh pemimpin yang tak bermoral.

Yang lebih mengherankan lagi, kasus Cliff Muntu, praja asal Manado. Aneh jika pihak institut tidak mengetahui kejadian itu. Kita semua tahu, jika ada kejadian di lingkungan sekolah, sedikit banyak pihak sekolah akan mengetahuinya. Apalagi tindakan kekerasan yang sudah diluar batas kemanusiaan. Manusia diperlakukan seperti hewan, ditinju dan ditendang. Namun sayangnya, mereka sepertinya tidak mau tahu. Hingga akhirnya seorang Cliff Muntu menjadi korban pertama yang ‘terekspos’, semenjak STPDN reinkarnasi menjadi IPDN.

Karena, semenjak ganti menjadi IPDN, media yang memberitakan berita miring tentang IPDN nyaris tidak ada sama sekali. Padahal, jika ditilik banyak yang tidak tahan kemudian tidak melanjutkan dan lebih memilih meninggalkan ‘predikat’ praja daripada menahan sakit yang teramat.

Satu hal yang sangat juga sangat mengherankan, negara yang menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika, ternyata di IPDN hal itu ditepis. Ini terlihat dari adanya pembeda barak (asrama) yang dihuni masing-masing daerah. Di IPDN jelas terpampang nama-nama daerah asal praja di masing-masing asrama. Hal ini bisa jadi memicu kecemburuan sosial. Kenapa dalam IPDN penuh keganjilan?

Sejak tahun 1990, tercatat sebanyak 35 praja yang meninggal karena kekerasan oleh seniornya. Bahkan ada yang mengatakan data itu bisa membengkak, karena ada yang tidak terekspos.

Rekaman gambar yang ditayangkan di beberapa televisi, misalnya, memperlihatkan penganiayaan yang dilakukan senior pada para siswa juniornya secara bertubi-tubi, baik tendangan maupun pukulan. Yang membuat kita tak percaya, pukulan dan tendangan itu diarahkan berulang kali ke bagian-bagian tubuh yang mestinya dilindungi, misalnya bagian ulu hati.

Dalam rekaman itu terlihat jelas, mereka yang dihajar terhuyung-huyung dan mengaduh kesakitan, terus dihajar lagi. Sebagaimana layaknya rekaman, pastilah gambar itu bagian amat kecil dari apa yang sesungguhnya terjadi dalam keseharian kampus IPDN.

Yang mengherankan, kekerasan di sekolah yang dibiayai dengan uang rakyat itu tetap dibiarkan selama bertahun-tahun. Padahal, setelah kematian seorang siswa bernama Wahyu Hidayat pada 2003, pada 2004 STPDN berubah menjadi IPDN. Ini gabungan STPDN dengan Institut Ilmu Pemerintahan.

Meski kasus Cliff Muntu sudah di tangan pihak berwajib, dan sedikitnya enam praja dijadikan tersangka, namun hal itu belum menyelesaikan masalah. Bagaimana dengan pihak Rektor IPDN yang merupakan pemimpin di tempat tersebut? Seharusnya ia juga dimintai pertanggung-jawaban. Bagaimanapun juga, semenjak mereka (para praja) masuk ke IPDN, praktis rektor dan dosen menjadi ‘orang tua’ mereka. Sehingga pendidikan, kesehatan dan keperluan sehari-hari mereka juga menjadi perhatian institut. Tidak adil kiranya, kasus meninggalnya Cliff Muntu hanya dibebankan kepada tersangka saja.

Yang paling bertanggung jawab juga adalah pihak IPDN yang selama ini dipercaya untuk mendidik, sehingga mereka menjadi praja yang profesional dan cakap dikemudian hari. Jika tidak, bukan tidak mungkin akan terjadi lagi kasus Cliff-Cliff yang lainnya.***

opini-Cermin Berbagai Macam Tayangan TV

Cermin Berbagai Macam Tayangan TV

Smack Down dan Kekerasan Anak, Siapa Yang Salah?


Oleh: MOCH. CHABIB ES, SE
Penulis adalah Alumni FE Univ. Darul 'Ulum Jombang, Koordinator Komunitas Penulis Lesehan (KOPEL) Jombang dan tergabung dalam Komunitas Penulis Jombang (KPJ)


"Ma, belikan itu lho!," pinta anaknya yang baru duduk di bangku kelas V MI pada ibunya saat melihat tayangan sponsor seorang anak sedang menggunakan laptop.
"Beli apa sih?," tanya ibunya belum mengerti.
"Itu lho bu, yang seperti dipakai anak itu," jawab anak itu seraya menunjuk ke arah layar tv.
"Oh itu, laptop toh! Belum waktunya nak!," saut ibunya.
Seperti tidak mau tahu, sang anak pun terus merenggek untuk dibelikannya. Ternyata penjelasan itu pun tidak mempan untuk meredam keinginan anaknya.



Itulah yang terjadi pada salah satu keluarga, bagaimana tayangan televisi begitu besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa anak. Tidak hanya film untuk dewasa, film anak-anak pun juga perlu disikapi, seperti film Shinchan dan variannya yang sangat mudah mempengaruhi jiwa anak.

Melihat begitu besarnya pengaruh acara televisi terhadap perkembangan dan tingkah laku anak, maka perlu adanya jam khusus yang diberlakukannya. Sehingga kasus seperti terbunuhnya siswa kelas 6 SD di Bandung yang diakibatkan di-"smack down" temannya tidak lagi terjadi.

Sebagaimana diketahui, akibat meninggalnya siswa yang di-"smack down" itu, mematik reaksi dari berbagai kalangan. Mereka meminta acara itu dihentikan, karena dapat mempengaruhi jiwa anak untuk meniru adegan tersebut. Sebenarnya, siapa yang salah atas kematian siswa tersebut? Pihak pengelola televisi, orang tua atau lembaga penyiaran?

Terlepas dari penghakiman terhadap siapa yang salah, kejadian tersebut merupakan indikasi, bahwa acara-acara yang ditayangkan di televisi sangat besar pengaruhnya terhadap jiwa dan perkembangan anak. Anak akan berusaha meniru apa yang dilihatnya. Lalu tugas siapa mengawasi dan membimbing anak?

Bercermin dari kasus Smack Down, pihak stasiun televisi (dalam hal ini, LATIVI) juga tidak dapat disalahkan. Pasalnya, mereka menayangkan acara itu ada beberapa alasan. Mungkin karena jam 21.00 WIB sudah merupakan jam tayang untuk orang dewasa, lalu juga untuk menarik minat pemirsa sebanyak-banyaknya. Jika acara itu menduduki rating tertinggi, juga akan berpengaruh pada pemasukkan iklan. Jika ia disalahkan, (tanpa memihak pihak televisi), lalu bagaimana dengan acara-acara sejenis, bahkan bagaimana dengan adegan kekerasan dalam sinetron lainnya yang merupakan produksi dalam negeri. Tidak hanya itu, bagaimana dengan tayangan di siang hari yang mempertontonkan baju minim atau adegan ciuman dan seterusnya? Apakah ini juga tidak perlu disikapi?

Untuk itu, jika menyikapi acara televisi, perlu disikapi secara menyeluruh. Tidak sepenggal-sepenggal, atau hanya karena adanya kejadian yang sudah memakan korban.

Satu contoh lagi, tingginya kasus perkosaan terhadap anak yang dilakukan remaja dewasa atau anak-anak. Sebagian besar mereka melakukan karena setelah melihat adegan di televisi atau VCD. Hingga saat ini pun acara yang menampilkan baju minim dan bermesraan pun masih ditayang di siang hari. Itu pun harus disikapi.

Sebagai bagian akhir dari tulisan ini, sebenarnya yang seharusnya berperan aktif untuk mengawasi dan mengarahkan anak itu orang tua. Sebagaimana kita ketahui, setiap tayangan di televisi, sudah diberikan peringatan oleh pihak pengelola televisi. Bahkan dalam sebuah seponsor pun yang menayangkan adegan berbahaya juga telah diberikan penjelasan bahwa pelaku yang melakukan adegan itu sudah professional dan ahlinya, serta ada peringatan tayangan 17 plus, atau BO (bimbingan orang tua), dan SU (segala umur).

Peringatan itu, selayaknya sudah membuktikan bahwa setiap tayangan itu seharusnya disesuaikan dengan usia serta harus didampingi orang tuanya untuk memberikan penjelasan pada anaknya. Dari pengamatan, memang banyak yang perlu diperhatikan. Karena saat ini, tayangan film maupun sinetron yang mengumbar kekerasan pun tidak memperhatikan jam tayang. Jam 19.00 WIB pun ada yang menampilkan adegan pembunuhan, perkosaan dan bentuk kriminal lainnya.

Satu contoh lagi, pada acara Panji Sang Penakluk, itu pun juga sangat berbahaya bagi anak. Tidak menutup kemungkinan anak akan meniru adegan yang dilakukan sang Panji, yang kadang sangat membahayakannya. Salah satunya dengan memegang ular yang sangat ganas dan siap menggigit Panji. Meskipun diacara itu telah diberi peringatan, "Jangan Meniru Adegan Ini Sangat Berbahaya".

Tapi, karena tayangan itu dilakukan oleh seorang Panji, yang identik dengan anak kecil. Yang diamati sepintas memang untuk tayangan anak-anak, maka bisa jadi anak akan meniru adegan tersebut.

Untuk itu, peran semua elemen, baik itu keluarga, pemerintah atau lembaga penyiaran harus menyikapi kondisi ini. Tidak jarang, tayangan televisi yang merupakan cikal bakal timbulnya persoalan itu. Bagaimana menurut Anda? ***

Opini Catatan Awal Tahun 2007

Catatan Awal Tahun 2007
2007, Indonesia (Belum) Lepas Dari Bencana



Oleh: MOCH. CHABIB ES, SE
Penulis adalah Alumni FE Univ. Darul 'Ulum Jombang, Koordinator Komunitas Penulis Lesehan (KOPEL) Jombang dan tergabung dalam Komunitas Penulis Jombang (KPJ)


Bencana yang terjadi di Indonesia beberapa waktu yang lalu, ternyata tidak dijadikan introspeksi. Hal ini terbukti dari berbagai bencana yang terus-menerus menyusul dan melanda negeri tercinta. Apakah ini tandanya Pencipta sudah tak sayang pada ummatnya, atau bencana itu peringatan dari-Nya.



Sepanjang tahun 2006, Indonesia sepertinya tidak pernah putus dari berbagai bencana. Baik itu bencana alam, kerusuhan, konflik partai, hingga konflik di pemerintahan. Sayangnya, kejadian yang terjadi sebelumnya tidak pernah dipakai untuk mawas diri, introspeksi, atau berkaca.

Seharusnya kita semua bercermin pada berbagai bencana yang terjadi, sehingga ibarat pepatah -kita tak terjatuh untuk ketiga kali di lubang yang sama. Namun sayang, bencana itu dianggap sebagai hal yang lumrah tanpa mau melihat apa sebenarnya yang terjadi di balik bencana. Jika kita tilik, bencana yang terjadi di
Indonesia merupakan "warning" dari sang Pencipta.

Mengapa "warning" dari Allah? Bagaimana tidak, seperti yang terjadi pada bencana lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo. Salah satu foto yang berhasil diabadikan oleh kamera Samuel Johnson Sutanto, salah satu anggota Timnas Penanggulangan Lumpur Lapindo di Sidoarjo, saat ledakan pipa gas milik Pertamina di kawasan Lumpur Lapindo. Subhanallah, foto itu menunjukkan suatu kejadian yang luar biasa. Jika dilihat dengan seksama, jilatan api dari ledakan itu membentuk lafadz Allah.

Sebenarnya kejadian yang menunjukkan kebesaran Allah itu sudah beberapa kali terabadikan. Bahkan, dalam foto satelit bencana gelombang Tsunami di
Sri Lanka, juga jika diamati membentuk lafadz Allah. Suatu kejadian yang merupakan petunjuk akan kebesaran Ilahi. Demikian juga yang terjadi di Yogyakarta, 8 Juni 2006 lalu. Fotografer Bagus Kurniawan berhasil mengabadikan wedhus gembel di Gunung Merapi yang juga jika diamati dengan teliti menyerupai lafadz Allah. Suatu keajaiban pada kejadian alam yang menunjukkan, bahwa bencana itu merupakan peringatan bagi kita semua. Berbagai bencana saat ini menimpa Indonesia, baik bencana moral maupun fisik.

Kini di tahun 2007, kita seharusnya bercermin terhadap berbagai bencana tersebut. Bukan sebaliknya malah memperkeruh kondisi bangsa yang 'belum' stabil ini. Dipenghujung tahun 2006 pun konflik kian panas, mulai skandal video porno salah satu anggota
DPR RI dengan seorang penyanyi dangdut, kemudian isu 'menggoyang' kekuasaan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla. Dan terakhir pembentukan berbagai partai politik (Parpol) seperti Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura)-nya Jendral (Purn) Wiranto dan partainya para Kades, yakni Partai Paguyuban Kepala Desa dan Perangkat Desa (Parade) se-Nusantara yang diketuai H Sudir Santoso, SH.

Hal itu menunjukkan betapa tidak puasnya mereka terhadap pemerintahan sekarang ini. Namun, bisa jadi ketidak-percayaan itu dikarenakan 'sentimen' pribadi karena kegagalan dalam politik. Sehingga membentuk barisan 'sakit hati', yang hanya mengoreksi kelemahan dan kekurangan pemerintahan saat ini.

Bahkan diawal tahun berbagai bencana bertubi-tubi mengawali tahun baru 2007. Kasus hilangnya pesawat penumpang Adam Air yang hingga kini belum ditemukan. Kemudian kasus kapal Senopati Nusantara yang menewaskan puluhan penumpang dan ratusan yang belum ditemukan.

Diakui atau tidak, memang penyebab rusaknya kehidupan disebabkan karena harta, tahta dan wanita. Dan itu terbukti dengan beberapa kasus yang selama ini terekspos di media. Namun demikian, sedikit diantara mereka yang berani menyuarakan kebenaran meskipun itu pahit sekalipun.

Bencana tidak hanya yang berkenaan dengan kerusakan yang berbentuk fisik, seperti gedung ambruk, atau longsor dan banjir. Tapi lebih luas lagi, bencana merupakan hal yang tidak menyenangkan hati seseorang itu dapat dikategorikan bencana. Apalagi menyangkut moral.

Selama ini, orang hanya menyebut bencana jika terjadi gunung meletus, banjir bandang, gelombang pasang dan sejenisnya. Tapi terbunuhnya salah seorang siswa SD akibat di-smackdown temannya tidak dikategorikan bencana, atau kasus skandal video porno yang sempat menghebohkan juga tidak termasuk bencana. Padahal, keduanya juga bencana bagi mereka, meskipun imbasnya tidak separah Lumpur panas Lapindo di Sidoarjo yang mengakibatkan ratusan bahkan ribuan orang kehilangan tempat tinggal dan mata pencarian.

Tidak itu saja, sepertinya bencana itu setiap tahun itu akan terjadi di Indonesia. Termasuk ditahun 2007. Kenapa demikian? Pasalnya
Indonesia 'jarang' introspeksi terhadap kejadian tahun sebelumnya. Jika pada tahun sebelumnya Ibukota terkena banjir, dan tahun ini banjir, orang menjadi beranggapan bahwa banjir itu lumrah, wajar, dan menjadi hal yang biasa. Termasuk bencana tanah longsor dan lain sebagainya. Karena bencana itu terjadi setiap tahunnya, mereka hanya bisa bersiap mengantisipasinya. Jika tidak bisa, mereka bersiap-siap mengungsi.

Demikian juga dengan politik. Jika tahun sebelumnya mereka tampak 'bermesraan', belum tentu hal itu terjadi di tahun 2006. Lebih-lebih pada tahun 2007. Jika kita runtut, maka pada tahun 2007, selain bencana alam juga situasi politik akan semakin 'panas'. Hal itu terjadi karena hari itu terus berputar dan semakin mendekati Pemilu. Dan banyak yang sudah mempersiapkan untuk menyongsong Pemilu. Bisa jadi pembentukan dua partai yang penulis sebutkan di atas, juga merupakan 'cikal-bakal' untuk menghadapi pesta demokrasi di
Indonesia.

Seharusnya bangsa
Indonesia saat menjelang akhir tahun itu digunakan untuk merenungi berbagai kegiatan yang terlah lalu. Bukan untuk pesta pora dengan berbagai atraksi dan hiburan. Berbagai bencana, 'perang' antar elit politik, berbagai skandal dan masih banyak lagi yang perlu dicarikan jalan keluarnya di tahun 2007.

Sehingga kita tahu, bencana itu tidak hanya yang menimpah banyak orang. Kedatangan George Walker Bush ke
Indonesia pun sebenarnya juga bencana. Bagaimana sebagian besar rakyat menolak, anggota dewan dan tokoh masyarakat menolak tapi penguasa tidak mau mendengarkannya. Lebih tragis lagi, helipad yang telah disiapkan untuk secara 'khusus' menyambut kedatangan presiden dari Negeri Paman Sam itu ternyata tidak dipakai. Itupun juga bencana nasional, karena berapa miliar dana pembangunan itu, belum lagi merusak taman nasional Kebun Raya Bogor.

Ironis memang jika kita memikirkan bencana di
Indonesia. Jika hal itu tidak segera direnungi, maka kita hanya bisa 'menikmati' bencana itu di tahun 2007 ini. Selamat tahun baru 2007, dan selamat datang bencana baru. Itu bisa terjadi jika kita tidak mempersiapkan diri. ***

Opini-Catatan Akhir Tahun 2006

Penulis adalah Alumni FE Univ. Darul 'Ulum Jombang, Koordinator Komunitas Penulis Lesehan (KOPEL) Jombang dan tergabung dalam Komunitas Penulis Jombang (KPJ)



Sejarah telah membuktikan, bahwa keberadaan manusia lambat laun tidak semakin maju. Tapi sebaliknya mereka menuju pada jaman purba. Kenapa demikian? Saat ini, manusia sering tampil buka-bukaan di depan umum. Padahal saat jaman batu atau purba, mereka pun tampil 'bugil' karena belum ada pakaian. Tapi jaman sekarang?



Sejarah peradaban manusia -kata orang- semakin maju, modern atau sudah meningkat. Suatu tanda meningkatnya peradaban itu, seiring dengan pesatnya berbagai kebutuhan manusia. Seperti mudahnya berkomunikasi setelah adanya handphone, berita dari luar yang saat itu berlangsung, dapat juga kita nikmati pada saat itu juga di Indonesia, dan masih banyak lagi.

Dari segi teknologi, memang kita mengalami banyak perubahan, peningkatan dan kemajuan yang pesat. Meskipun kita hanya sebagai konsumen alias pemakai saja, karena sebagian besar produk yang beredar di Indonesia merupakan hasil produksi dari luar, baik itu handphone, motor, mobil, swalayan sdan masih banyak lagi. Tapi, apakah cukup dengan peningkatan teknologi? Terlepas dari majunya sebuah teknologi, tentu yang menjadi perhatian adalah moralitas.

Saat ini, kita sering mendengar, bangunan yang megah, diskotik dan bahkan legalnya lokalisasi. Hal ini dianggap sebagai 'simbol' peradaban makhluk sosial ini sudah memasuki stadium yang nyaris setaraf bangsa barat.

Kita juga sering mendengar, kalau seseorang belum mengenal narkoba, diskotik atau tempat-tempat prostitusi, dianggap kolot. Dengan kata lain, orang yang sudah merasakan diskotik, narkoba atau miras (minuman keras) dan blusukan ke lokalisasi hanya untuk kenikmatan sesaat dianggap makhluk yang sudah modern, tinggi peradabannya. Hingga beberapa wakil rakyat pun ikut-ikutan berbuat 'layaknya' manusia jaman dahulu.

Sementara, orang yang masih berpegang teguh pada budaya ketimurannya, norma dan adat dianggap kuno, ndeso dan sejenisnya. Suatu anggapan yang tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah.

Tidak ada salahnya kita merenung dipenghujung tahun 2006. Soal bencana di Aceh, dan sebagian besar negara-negara di Asia. Tidak ada salahnya kalau bencana tersebut terkait dengan ulah manusia, perbuatan tangan jahil yang seharusnya menjadi kholifah fil ardy. Ternyata kita manusia masih belum mampu menjadi pemimpin di muka bumi, tapi malah merusaknya.

Dapat kita rasakan, bagaimana hutan dibabat habis, hewan sebagai penyeimbang alam diburu. Atau eksplorasi bahan tambang yang tidak memperdulikan alam. Itu semua juga perlu kita renungkan. Jangan lantas bilang, "Tanyakan pada rumput yang bergoyang".

Kini, 'Warning' Allah telah diberikan. Sadar atau tidak, yang pasti berbagai bencana dan kejanggalan alam setidaknya menjadi tanda tanya besar bagi manusia. Seperti masih tersimpan dalam memory otak kita, bencana gempa dan dasyatnya gelombang pasang tsunami dipenghujung tahun 2004, tepatnya Minggu, 26 Desember 2004 yang meluluhlantahkan hampir 80 persen seluruh infrastruktur di Aceh (Nanggroe Aceh Darussalam/NAD) dan Sumatra Utara. Dari tayangan vidio amatir di televisi terlihat, tingginya gelombang tsunami memporakporandakan peradaban manusia. Seakan-akan manusia tidak berdaya menghadapi gelombang yang amat dasyat itu. Setidaknya ini jadi kajian bagi kita, ummat manusia. Bahkan setiap menjelang akhir tahun kita pun masih ingat dengan peristiwa itu, dan sadar atau tidak kita juga dibayang-bayangi bencana alam di sekitar kita akibat hujan deras dan hutan gundul.

Mengapa bencana itu terjadi di Aceh dan negara-negara rawan konflik. Banyak kemungkinannya yang telah diungkapkan beberapa peneliti, pengamat atau pejabat. Berbagai spekulasi itu, salah satunya yang terlontar karena Aceh selama ini di-"kuyo-kuyo", disia-siakan. Perang berkepanjangan baik itu sebelum kemerdekaan atau sesudahnya. Seperti awal masuknya Belanda, kemudian diberlakukannya daerah operasi militer (DOM) pada masa Orde Baru. Akibatnya, warga hanya dihantui rasa takut dari prajurit TNI dan keberadaan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Bahkan kekayaan alamnya, mereka hanya menikmati sebagian kecil saja. Salahkan bencana itu disebut peringatan dari Allah?

Setelah itu, secara berturut-turut gempa di Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi serta di pantai laut selatan. Manusia dibuat ketir-ketir. Setiap gempa dianggap akan diiringi dengan besarnya gelombang pasang tsunami.

Tidak hanya gempa. Luapan lumpur panas Lapindo di Porong, Sidoarjo juga bukti alam sudah mulai bosan dengan tingkah kita (ma'af mengutip lagunya Kang Ebit G Ade). Bahkan, jika ditilik, dalam salah satu foto yang berhasil diabadikan Samuel Johnson Sutanto, salah satu anggota Timnas Penanggulangan Lumpur Sidoarjo, menunjukkan suatu kejadian yang luar biasa. Foto yang diambil saat ledakan pipa gas Pertamina di lumpur Lapindo itu salah satunya, jika diamati dengan sesama membentuk lafadz Allah. Subhanallah.

Dan yang lebih menghebohkan lagi, banjir yang melanda Mekkah dan Mina, Sabtu, 22 Januari 2005 lalu. Suatu kejadian yang langka terjadi di Mekkah, saat musim haji tiba.

Keajaiban atau kejanggalankah ini?
Seharusnya kejadian itu jadi renungan, introspeksi dan kajian yang mendalam. Kejadian yang terakhir kali terjadi tahun 1945 itu, kini terulang ditahun ini.

Peringatan atau berkah? Itu yang seharusnya muncul dibenak kita.

Satu lagi, gempa di Palu, Sulawesi Tengah. Serentetan bencana yang seakan tak ada habisnya mendera Indonesia.

Kalau diamat-amati, tingkah manusia semakin edan-edanan, termasuk saya sendiri. Hukum rimba kembali digunakan. Sesama saudara seiman saling membantai, bahkan dibeberapa tayangan televisi atau berita media massa, seorang bapak tega 'makan' darah dagingnya sendiri. Lebih edan lagi, kakek yang sudah bau tanah tega berbuat asusila terhadap cucunya.

Satu lagi. Saat ini banyak orang Islam yang sudah bermobil, terutama kaum Hawa. Namun sayangnya, hanya untuk membeli secuil kain untuk menutup auratnya pun tidak 'mampu'. Tapi, jika untuk membeli peralatan rumah tangga, mobil mewah, motor dan sejenisnya mereka mampu. Dapat kita lihat, dalam tayangan di teve atau di sekitar kita. Rumah megah dengan segala perabotan yang serba wah. Namun sayang, akibat korban mode agar tidak ketinggalan tren mereka pun tidak melihat pantas atau tidak pakaiannya.

Inilah 'penjajahan' diera modern ini. Itulah yang dilakukan bangsa barat untuk menghancurkan umat Islam. Jika dilakukan 'perang' terbuka seperti di Palestina, Afganistan dan Irak tidak bisa, mereka pun menyerang dari moral. Dan itu merupakan 'penjajahan' yang amat sangat berbahaya, dibandingkan dengan 'perang terbuka'. Akibat yang ditimbulkannya pun sangat dasyat, tingginya angka pemerkosaan, pencabulan dan sejenisnya. Untuk itu, dalam kondisi tertentu, sebenarnya sang pemerkosa dan yang diperkosa sama-sama bersalah. Artinya, sang pemerkosa melakukannya karena bisa jadi tergiur oleh lekuk tubuhnya yang sengaja terlihat karena pakaian yang swerba minim dan juga karena ada kesempatan. Sementara korbanya, tidak jarang mereka memang menggoda dengan berpakaian yang sangat minim atau you can see.

Tidak hanya itu, merebaknya prostitusi, bahkan ada yang sudah dilegalkan -menurut hukum manusia (baca: pemerintah)- sebenarnya membuktikan bencana alam dan kejanggalan itu peringatan dari Allah.

Bahkan, orang menganggap kejujuran dan kepolosan seseorang hanya akan menenggelamkan dirinya sendiri dan bahkan nyaris tak ada kawan. Sementara yang berbuat maksiat, begitu mudah mendapatkan teman berkawan.

Apakah tidak edan!

Salahkah jika Allah memberikan 'warning'-nya pada manusia?

Kita sudah banyak berkubang dengan lumpur dosa. Saatnya kini kita untuk bercermin terhadap ulah kita sendiri diawal 2007. Bagaimana menurut Anda? Wallahu ?alam. ***

OPINI ISLAM-Bangkitnya Entrepreneur Islami

OPINI ISLAM

Bangkitnya Entrepreneur Islami

Oleh: DEWI HARIYATI, SE
Penulis adalah Pengajar di MA Darul Hikmah Diwek Jombang dan tergabung dalam Komunitas Penulis Jombang (KPJ) dan Komunitas Penulis Lesehan (KOPEL) Jombang


Entrepreneur religius (islami) kini makin berkembang, bahkan saat ini mereka semakin eksis dan pesat perkembangannya. Mungkinkah sudah saatnya entrepreneur islami bangkit, untuk meningkatkan perekonomian ummat?



Sebagaimana kita ketahui, ‘senjata’ untuk menjatuhkan ummat Islam salah satunya adalah faktor ekonomi. Pasalnya, jika dilihat secara umum, yang menguasai perekonomian di Indonesia bukan orang pribumi, dan bahkan mereka non muslim. Akibatnya, hal itu menjadi ‘bumerang’ bagi umat Islam sendiri, sebagai mayoritas penduduk di Indonesia.

Untuk itu, perlu adanya perbaikan ekonomi dan saling kepedulian sesama muslim untuk meningkatkan ukhuwah. Salah satu faktor yang menyebabkan ‘jeblok’-nya ekonomi ummat, ada berbagai faktor. Diantaranya, tidak ada kepercayaan diri, takut gagal, meniru kesuksesan orang lain, jika sudah berhasil cenderung melupakan kualitas, dan masih banyak lagi.

Dalam segala aktifitas, seorang entrepreneurship (yang memiliki jiwa kewirausahaan) harus menyadari bahwa dalam setiap usaha kita terdapat campur tangan sang Kholiq. Untuk itu perlu menjunjung nilai-nilai agama dan mengimplementasikan ke dalam kehidupan berbisnis.

Sebagaimana dikemukakan terminology yang dikemukakan seorang profesor dari St Thomas University, Amerika Serikat, istilah entrepreneur religius beberapa waktu lalu menjadi wacana dalam sebuah jurnal entrepreneur dan menjadi perbincangan hangat. Dari perbincangan itu, diyakini bahwa ada hubungan positif (positif korelation) antara relegius dengan keberhasian.

Beberapa entrepreneur yang telah berhasil mengabungkan keduanya (agama dan usaha) diantaranya Bill Gates, Donald Trump, Anita Roddick, Warren Buffet dan masih banyak lagi. Mereka meski tidak secara eksplisit dikatakan bahwa mereka adalah benar-benar murni mengimplementasikan ajaran agama dalam bisnisnya. Beberapa tipikal mereka diantaranya humanis, manajer yang cerdas (profesional), menggaji karyawannya dengan layak, dan mengedepankan etika berbisnis.

Padahal, kita tahu, bahwa dalam berusaha, banyak perusahaan yang hanya memikirkan bagaimana mendapatkan untuk sebesar-besarnya dengan mengeluarkan dana sekecil-kecilnya. Sehingga yang mereka lakukan memanfaatkan tenaga kerja untuk terus bekerja, dan jika perlu mencari tenaga kerja yang upahnya kecil.

Mereka, beberapa pebisnis yang disebutkan di atas, hanya sebagian pengusaha yang mengikutkan faktor religius dalam berbisnisnya. Selain itu, mereka merupakan pembisnis yang baik, lebih dari 10 persen hasil keuntungan usahanya dihibahkan untuk kegiatan sosial dan lainnya.

Bagaimana dengan Entrepreneur Islami?
Di Indonesia, kita mengenal Manajemen Qolbu-nya Abdullah Gymnastyar (AA Gym), kemudian Pandu Siwi Sentosa milik HM Bhakty Kasry dan masih banyak lagi. Mereka merupakan beberapa diantara sekian pengusaha yang menerapkan agama dalam bisnisnya.

Sebut saja Manajemen Qolbu atau yang lebih dikenal dengan MQ. Bisnisnya diawali dari dakwah yang dilakukan ditengah keterpurukan ekonomi, moral dan soaial bangsa. Dakwah AA Gym mampu menjadi penyejuk hati ummat dalam setiap dakwahnya. Ia pun menerima permintaan dakwah dari penjuru tanah air. Kemudian setelah melalui proses, ia-pun ingin memberikan sesuatu yang lebih kepada umat. Melalui dakwahnya, ia pun mengajarkan cara berbisnis yang Islami. AA Gym-pun dikenal dengan pelatihan bisnis MQ yang diikuti para pembisnis untuk belajar manajemen Islami.

Sukses dakwah, tidak menyurutkannya untuk berhenti hanya sebagai pendakwah. Sesuatu yang lebih, yakni bisnisnya di bawah naungan Yayasan Pesantren Darut Tauhid pun mengembangkan dengan pesantern modern dan multifungsi. Kemudian mengepakan sayapnya dengan mengembangkan usaha toko, swalayan, warung telekomunikasi, penerbitan buku, tabloid, stasiun radio, pembuatan kaset dan VCD, TV, guest house, air minum kemasan dan lainnya.

Dalam berwirausaha, ia mengutip ayat Hadits Rasulullah SAW, yakni tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. AA Gym juga menyatakan bahwa umat akan berhasil dalam membangun usaha, jika mereka mampu membangun jiwa entrepreneurship dalam diri sendirinya.

Sementara Pandu Siwi Sentosa, yang awalnya bermodalkan patungan diantara koleganya, tahun 1992 Bhakty memulai bisnis jasa kurir dengan label Pandu Siwi Sentosa. Meski sempat jatuh, hal itu tidak membuatnya putus asa. Ia pun harus menjual mas kawin dan mobil milik istrinya. Ia pun menata manajemennya, dan usahanya membuahkan hasil. Tidak hanya itu, setelah berhasil, ia tidak melupakan jasa karyawannya. Bagaimanapun juga mereka ikut andil besar dalam kesuksesan bisnisnya. Untuk itu, ia membuat program menghajikan karyawannya.

Itu dilakukannya karena Bhakty menyadari, bahwa Allah SWT yang memberi kemudahan pada umat-Nya yang berusaha di jalan Allah. Untuk itu ia kembalikan kepada Allah melalui nilai-nilai yang ia tanamkan di perusahaannya, seperti nilai welas asih, atau berderma dan menanamkan nilai-nilai Islami pada karyawannya. Di kantornya, ia menerapkan zona bebas asap rokok bagi karyawannya, dan area berjilbab bagi karyawatinya.

Contoh di atas, hanya sebagian dari sekian ribu pengusaha yang menerapkan hubungan antara bisnis dan religius. Namun sayangnya, besarnya prospek bisnis dengan menjalankan syariat agama masih minim. Padahal, sudah banyak contoh nyata keberhasilan sosok pembisnis yang mengakui keterlibatan nilai-nilai agama.

Kini saatnya untuk membangun bisnis Islami, dengan mengedepankan kejujuran dan keadilan. Sehingga ke depan dapat membangkitkan ekonomi umat yang semakin terpuruk dan mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran yang didominasi umat Islam. Hal itu dapat terjadi, jika para pengusaha muslim menerapkan jiwa sosial untuk membantu sesama dengan memberikan pekerjaan, bukan sekedar modal. ***