BROSUR PMC Cell - Klik Gambar di Bawah Ini

BROSUR PMC Cell - Klik Gambar di Bawah Ini
PMC Cell - Master Pulsa Electric

Menggapai Kemuliaan Muslimah dengan Bimbingan Salaful Ummah

Rabu, 17 September 2008

Ngabuburit di Muat di Radar Minggu

Ini adalah naskah Ngabuburit di Pasar Ramadhan Jombang yang dimuat di Radar Minggu beberapa waktu yang lalu.

Selamat Idul Fitri

Selasa, 16 September 2008

Video Ngabuburit di Pasar Ramadhan Jombang



INILAH video saat ngabuburit di Pasar Ramadhan Jombang. Di tempat itu kita dapat menikmati es cingcau hanya dengan modal Rp 1.500, atau es tebu dengan Rp 1.000 perak. Tidak hanya itu, masih banyak lagi berbagai hidangan untuk berbuja puasa. Nggak percaya? Coba saja sendiri, pasti ketagihan untuk datang lagi.

Itu bukan promosi lho! Cuman agar kamu-kamu tertarik untuk datang ke pasar Ramadhan. Nah jika sudah datang, bisa melihat sendiri dech bagaimana asyiknya ngabuburit di tempat itu. Aku juga sempet beli-beli untuk berbuka. Karena pas lagi jalan-jalan terdengar dech suara, "Dug....!!! Dug....!!! Dug....!!".

Saatnya berbuka. Aku pun mencari menu buka yang menurutku enak. Aku pilih beberapa minuman penyegar dan pelepas dahaga. Masih nggak percaya? Makanya datang ke Pasar Ramadhan sebelum buyar.

Selain itu, juga dapat dijadikan untuk melepaskan rasa lapar kita. Soalnya tanpa terasa waktu akan berlalu begitu cepat. Tapi emang sich lebih baik lagi jika kita melakukan tadarus atau i'tikaf di masjid dari pada hanya jalan-jalan. Ini hanya sekedar info saja kok untuk kamu-kamu yang doyan jalan-jalan atau apalah istilahnya. Daripada mikir lapar dan haus, mending buat jalan-jalan untuk mencari bahan berbuka puasa. Siapa tau di sana ketemu jodohnya. Asyik khan, lebaran sudah punya gandengan, bisa silaturrahmi ama mertua he.... he... he....

Simak aja videonya! Selamat menikmati moga nggak bosan. ***

Tragedi Zakat

Pelajaran Berharga Dari Pasuruan

Pembagian zakat yang dilakukan oleh H. Saikon warga Jl. Wahidin Pasuruan membawa petaka. Memang, tujuan awal pembagian tersebut sangat baik. Namun sangat disayangkan jika harus berakhir tragis. Sedikitnya 21 orang tewas, dan beberapa lainnya luka-luka. Hal ini menunjukan kemiskinan di Indonesia masih sangat tinggi.



INNALILLAHIWAINNAILAIHIROJI’UN. Itulah yang dikatakan Mbok Darmi yang saat itu menyaksikan dari layar kaca insiden saling injak dalam pembagian zakat di Pasuruan. Mbok Darmi pun hanya dapat mengelus dada melihat peristiwa itu.

Karena saat itu waktu masih sore, sekitar jam 15.30 WIB, belum terlihat langganan tetap yang biasa nongkrong di warungnya. Sebagian besar masih tadarus di masjid dan musholla. Biasanya mereka berkumul saat menjelang Maghrib untuk berbuka.

Mbok Darmi masih asyik dengan persiapan dagangannya, kemudian juga sambil sesekali pandangannya tertuju pada layar kaca yang hanya dua warna itu. Ia masih nggak habis pikir, hanya demi uang Rp 30.000 mereka rela berdesak-desakan dan dorong-mendorong. “Persis seperti kejadian pembagian bantuan langsung tunai (BLT). Mereka nggak bisa diatur, inginnya minta yang dulu,” pikir Mbok Darmi seorang diri.

Seandainya mereka bisa sabar dan antri, pikir si Mbok, mungkin kejadiannya nggak seperti ini. “Ini yang salah ya kedua-duanya. Tidak fair jika yang dijadikan tersangka hanya yang membagi dan penghuni rumah,” pikirnya terus nggak karu-karuan, seraya berharap Cak Hasan dan teman-temannya segera datang untuk diajak diskusi.

Apalagi saat ini tugasnya membersihkan dan menata dagangannya sudah selesai. Ia hanya melamun seorang diri. “Assalamu’alaikum…….!!!,” ucap beberapa orang dari luar secara bersamaan.

“Waalaikumsalam…..!!! eh Cak Hasan, Kang Brodin dan Markuat. Mari silakan masuk. Baru aja tak rasani seorang diri,” kata si Mbok.

”Emang bisa ya Mbok, ngrasani seorang diri. Perasaan jika ngrasani itu biasanya dua orang atau lebih lho!,” sindir Cak Hasan.

”Nah itulah kelebihan si Mbok yang bisa ngrasani seorang diri, jadi nggak dosa. He... he... he....,” katanya sambil tertawa.

”Emang ada apaan toh Mbok, kok sampai ngrasani segala?,” tanya Kang Brodin.

”Gini lho, aku tadi melihat berita. Masya Allah... masak pembagian zakat saja sampai menewaskan 21 orang yang antri. Sungguh mengerikan dan sangat tragis,” jelas si Mbok.

“Oh.... yang di Pasuruan itu toh?,” Markuat ikut menimpali.

“Iya bener. Itu gimana ya!,” seru Mbok Darmi.

“Kalo itu sich ya namanya musibah, gimana lagi. Mudah-mudahan tidak terjadi lagi di daerah lain. Kan ada lembaga atau badan yang menampung zakat, serahkan saja ke sana Insya Allah sampai ke tangan yang berhak,” kata Cak Hasan.

“Bukan gitu Cak, katanya khan lebih afdhol kalau kita memberikan sendiri zakat itu kepada yang berhak,” Mbok Darmi terus nguber dengan pertanyaan-pertanyaan yang sangat kritis.

“Iya sich Mbok, tapi kalau kejadiannya terus begini, bagaimana?,” Cak Hasan balik bertanya.

“Iya sich, tapi seharusnya khan ada solusi lain bagi yang ingin memberikan zakatnya langsung. Apalagi tadi penyiarnya juga ngomong seandainya ada larangan untuk tidak menyerahkan zakat secara langsung. Itu khan namanya sudah intervensi masalah agama,” papar Mbok lagi.

“Kalo larangan itu malah yang salah. Masak orang mau menyerahkan zakat yang merupakan kewajibannya sebagai seorang muslim kok dilarang. Ya menurut aku sich harus ada aturan dalam memberikan atau membagikan zakat, sehingga tidak seperti itu. Berjubel, kehabisan nafas, dorong-dorongan, dan akhirnya terjatuh dan terinjak-injak,” papar Cak Hasan.

“Trus siapa yang salah menurut Cak Hasan?,” tanya Markuat.

“Tidak ada yang salah, tidak ada yang benar,” jawabnya singkat.


”Lho kok gitu sich Cak?,” protes Mbok Darmi.

”Iya. Itu khan nurut aku. Maksudnya, wong orang yang membagikan zakat itu juga kepingin menunaikan kewajibannya, cuma kurang memperhatikan keselamatan penerima. Sementara yang menerima itu tidak tertib, seenaknya dengan dorong-dorongan, atau yang lainnya,” jelasnya.

”Terus gimana donk Cak solusinya?,” Mbok Darmi terus mencercahnya dengan pertanyaan.

”Ya ini lagi kalau menurut aku. Seharusnya yang memberi zakat itu seperti yang sejak awal tak sebutkan, bisa menyerahkan pada lembaga yang ada. Jika nggak mau, ada alternatif tidak perlu mengundang orang banyak. Wong itu khan niatnya ibadah, apa salahnya yang membagikan itu keliling kampung, sambil silaturrahmi ke rumah-rumah. Terus mereka memberikan amplop yang sudah diisi dengan zakat mal tersebut. Itu malah pahalanya lebih baik. Sudah mengeluarkan zakat, mau ngantar zakat itu langsung ke rumah-rumah yang berhak menerimanya,” jelasnya.

Kemudian, lanjutnya, yang datang pun seharusnya dapat sabar dan antri dengan tertib. Meskipun sudah ditata dengan baik, tanpa ada kesadaran dari yang datang pasti juga akan semrawut. ”Lihat saja pembagian BLT yang dijaga aparat, tetap saja berdesak-desakan dan ada juga yang tewas. Sekali lagi yang terpenting kesabaran dan budaya antri. Itu saja,” tambahnya.

”Setuju.................!!! Soalnya saat ini yang digunakan pasti kekuatan. Budaya sabar, malu dan antri sudah terkikis,” teriak Kang Brodin tiba-tiba, sehingga mengagetkan semua yang ada di warung itu.

”Atau bisa juga khan Cak, misalnya zakat mal daripada mubadzir lebih baik diberikan dalam bentuk usaha. Misalnya zakat dirupakan modal usaha, seperti dibelikan rombong, wajan, kompor dan lainnya untuk usaha jual gorengan. Ini khan juga bisa khan Cak?,” tanya Mbok Darmi.

”Ide yang cemerlang. Setidaknya dengan model seperti itu dapat meningkatkan ekonomi umat,” kata Cak Hasan menyambut baik ide Mbok Darmi.

”Dug.........dug............dug............. Allahu Akbar..... Allahu Akbar..........,” suara adzan terdengar di surau desa.

“Alhamdulillah..... waktunya berbuka. Ayo Mbok dikeluarkan semua. Setelah ini kita semua ke surau,” kata Cak Hasan.

Setelah semuanya selesai berbuka, semua telah siap-siap berangkan ke surau. Tidak ketinggalan Mbok Darmi juga beriap-siap. Cak Hasan dan teman-temannya ikut membereskan warung Mbok Darmi dan menutupnya. Kemudian semuanya menuju surau untuk sholat Maghrib yang dilanjutkan dengan menunggu sholat Isya’ dan tarawih. ***

Minggu, 14 September 2008

Hemat Energi atau Pemborosan?

Lokasinya di Selatan Tugu Ringin Contong Jombang, Video ini sengaja saya abadikan pada tanggal 17 Agustus 2005. Entah apa yang dipesankan dalam lampu ini, katanya suruh hemat energi, kok malah sosialisasi menggunakan lampu?

Kalau yang ini sich menurut aku bukan hemat energi? Tapi lebih tepatnya Mari Kita Gunakan Energi Sebanyak-Banyaknya! Bagaimana menurut Anda?

Kiat Menulis Artikel Iptek di Media


Dalam kapasitas saya sebagai redaktur halaman Iptek di Koran Tempo, saya sering ditanya bagaimana kriteria sebuah artikel Iptek yang layak muat. Pekan lalu, ada teman yang menanyakan hal ini via e-mail. Jawabannya saya tulis panjang-lebar dan saya posting di Blog agar yang lain juga bisa membacanya. Lagi pula, menulis artikel Iptek di Blog juga tak kalah menariknya. Semoga bermanfaat.


HAMPIR setiap suratkabar harian dan mingguan memuat berita-berita dan artikel populer ilmu pengetahuan dan teknologi. Berbeda dengan dekade sebelumnya, berita dan tulisan iptek tidak lagi dipandang sebagai suatu yang eksklusif, tetapi sudah menjadi bacaan bagi masyarakat luas. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang didorong oleh teknologi informasi seperti Internet, berhasil menggugah keingintahuan masyarakat terhadap sains.


Belum lagi peristiwa-peristiwa alam, mulai dari banjir, gempa bumi, wabah penyakit, hingga kecelakaan pesawat terbang, yang semuanya itu bisa dijelaskan melalui pendekatan sains, membuat masyarakat mulai akrab misalnya dengan istilah daya dukung lingkungan (carrying capacity), daerah tangkapan air (DTA), retakan bawah di permukaan bumi, evolusi virus, hingga istilah-istilah teknis dalam penerbangan (aviation). Masyarakat ingin tahu lebih banyak soal itu dengan tujuan bisa melakukan antisipasi jika suatu saat hal itu dialaminya sendiri.


Maka tidaklah mengherankan, media massa terus mencoba memenuhi kebutuhan pembacanya akan sajian-sajian Iptek. Dengan intensitas dan visi redaksional yang berbeda-beda, setiap media akan mencoba menyajikan tulisan-tulisan Iptek sesuai selera dan segmen pembacanya. Namun, dalam fungsinya sebagai media massa – dan bukan sebagai jurnal ilmiah untuk komunitas ilmuwan tertentu saja – tulisan-tulisan tersebut tentulah ditampilkan dengan bahasa dan gaya penulisan yang populer.


Jika berita-berita Iptek – yang bisa berupa laporan peristiwa, wawancara maupun hasil penelitian para ilmuwan dan peneliti – disiapkan oleh redaksi media massa itu sendiri, sebaliknya artikel iptek berasal dari luar media, yakni dari para penulis, peneliti, ilmuwan, dan pencinta iptek. Berbeda dengan umumnya staf redaksi media yang lebih berbekal pengalaman riset, wawancara dan reportase di lapangan, kalangan penulis luar ini berasal dari disiplin ilmu dan latar pendidikan yang memadai. Mereka ini adalah ilmuwan itu sendiri. Karenanya, para penulis ini dituntut menulis lebih mendalam, tajam, akurat, dan tentu saja dengan gaya penulis yang populer sehingga lebih mudah dimengerti masyarakat luas.


Media massa nasional misalnya, pada umumnya menyediakan tempat yang luas untuk pemuatan artikel-artikel iptek populer ini. Namun masalahnya, mereka kesulitan mendapatkan artikel iptek yang menarik dari segi topik, baru dari segi sudut pandang (angle) dan aktual dari segi peristiwanya. Tidak sedikit artikel-artikel yang bagus dari sisi kajiannya, tapi tak bisa dimuat karena sama sekali tidak relevan dengan peristiwa yang sedang terjadi di tengah masyarakat.

Bagi para peneliti dan ilmuwan yang ingin tulisannya dimuat di media massa, kecermatan memperhatikan kriteria artikel yang layak muat sangat diperlukan. Sebetulnya hal itu bisa dipelajari sendiri dengan cara mencermati artikel-artikel yang sudah dimuat. Coba perhatikan, kira-kira apa yang menarik dari artikel yang sedang Anda baca itu sehingga dimuat di suratkabar?


Berikut beberapa kriteria utama bagi artikel-artikel iptek yang bisa dipertimbangkan untuk dimuat:

1. AKTUAL. Hal pertama yang diperhatikan redaktur media ketika menerima kiriman artikel adalah aktualitasnya. Adakah newspeg-nya? Adakah cantolan aktualitasnya pada peristiwa atau kegiatan yang sudah dan sedang berlangsung? Newspeg ini bisa berupa peristiwa itu sendiri, misalnya wabah demam berdarah, banjir, pendaratan wahana robotik di Mars atau bisa juga berupa aktivitas ilmiah seperti adanya kongres ilmuwan nasional maupun dunia mengenai suatu topik ilmu. Peristiwa penganugerahan Hadiah Nobel juga bisa dijadikan peg, bisa ke peristiwanya sendiri, atau terkait pada temuan ataupun biografi para pemenang Nobel itu sendiri. Jadi, jika “tidak ada angin, tidak ada ribut” tiba-tiba Anda menulis tentang bioteknologi misalnya, tulisan Anda tidak akan berada pada daftar prioritas yang akan dimuat. Jika tulisan Anda tentang bioteknologi ini benar-benar bagus, tapi tidak aktual, ada kalanya redaktur menyimpannya dulu sambil menunggu peg-nya, baru kemudian dimuat. Tapi ini jarang sekali terjadi, sebab begitu tulisan Anda dinilai tidak aktual, biasanya segera diputuskan untuk tidak dimuat atau dikembalikan kepada Anda


2. MENGANDUNG UNSUR BARU. Jika tulisan Anda sudah aktual, hal lain yang akan diperhatikan redaktur adalah adakah unsur baru dalam tulisan tersebut. Unsur baru ini bisa dilihat dari angle (sudut pandang) tulisan – dalam penulisan karya ilmiah angle ini mungkin mirip dengan perumusan masalah – maupun data-data dan informasi baru yang disajikan. Apakah angle tulisan Anda menarik atau tidak? Sekarang kita ambil contoh. Taruhlah Anda ingin menulis soal wabah flu burung. Jika Anda mengambil angle soal karakteristik flu burung ini, angle serupa pasti banyak dipilih oleh penulis lain. Akibatnya, tulisan Anda harus bersaing dengan para penulis lain, syukur-syukur bisa lolos. Namun, jika Anda memilih angle yang lain, yang menurut Anda pasti tidak banyak diperhatikan oleh penulis lain, berarti Anda sudah selangkah lebih maju dan kemungkinan tulisan Anda untuk dimuat tentu lebih besar lagi. Lalu, seperti apa misalnya angle yang tampil beda itu? Banyak sekali. Anda misalnya, bisa memilih angle evolusi yang sedang berlangsung. Jika dulu, virus tertentu hanya bisa berpindah antara sesama hewan, kini sudah terjadi perpindahan antara hewan dan manusia dengna merujuk ada kasus mad cow, SARS dan flu burung (jadi wabah SARS atau flu burung sebagai peg saja). Jika Anda berhasil mengungkapkan argumen yang meyakinkan soal evolusi virus, akan sulit bagi redaktur untuk tidak memuat tulisan Anda.


3. KERANGKA atau SISTEMATIKA TULISAN. Secara substansial, tidak ada perbedaan antara kerangka penulisan artikel iptek populer dengan artikel ilmiah; setidaknya mengandung tiga komponen utama, yakni pendahuluan, bagian isi dan bagian akhir yang berisi kesimpulan dan saran. Namun untuk artikel iptek populer, pemisahan itu sengaja dibuat tidak begitu nyata. Artinya, Anda tidak perlu menulis sub-judul dalam tulisan dengan Pendahuluan, Isi dan Penutup, tetapi bisa Anda ganti sub-judul lain yang lebih menarik, tapi tetap mengandung ketiga komponen di atas. Makin rajin Anda menulis artikel populer, pasti Anda akan terbiasa dengan dengan struktur penulisan yang sesungguhnya tidaklah asing bagi Anda.


4. GAYA PENULISAN. Jika tulisan Anda sudah aktual dan mengandung unsur baru, langkah berikutnya yang harus diperhatikan adalah gaya penulisan. Sering kali tulisan yang menarik tapi harus ditolak hanya karena gaya penulisannya sangat “academic-heavy” dan dipenuhi dengan istilah-istilah yang tak disertai padanannya dalam bahasa Indonesia. Anda harus membayangkan, redaktur tidak punya banyak waktu untuk mengedit kembali tulisan Anda, jadi dia cenderung akan memuat tulisan yang sudah jadi dan siap muat saja. Karenanya, cobalah tulis gagasan dan pemikiran Anda dalam bahasa yang sederhana, populer dan hidup. Tempatkan diri Anda sebagai pembaca awam ketika Anda sedang memeriksa hasil akhir tulisan Anda. Kalau Anda merasa istilah yang digunakan masih terlalu “berat”, carilah padanan lain yang yang lebih pas – tentunya dengan tidak mengurangi makna ilmiah yang sebenarnya.


5. BAHAN PENDUKUNG. Jangan lupa melengkapi tulisan Anda dengan dengan bahan, foto, gambar, grafik, ilustrasi dan tabel pendukung. Ingat, sebagai artikel iptek, Anda tentu berurusan dengan data, skema, angka, rumus dan referensi tertentu, yang dapat mendukung argumen Anda dalam tulisan tersebut dan Anda merasa hal itu penting untuk diketahui masyarakat.


Untuk menyiasati hal di atas, memang harus dimulai dari diri Anda sendiri. Tidak mungkin Anda bisa mendapatkan topik tulisan yang aktual jika Anda tidak mengikuti perkembangan yang terjadi. Jadi cobalah untuk mengkliping berita maupun tulisan yang menarik dan cocok dengan minat Anda. Semakin kaya referensi yang Anda gunakan, akan semakin hidup dan menatik tulisan yang Anda sajikan.


Selain itu, hal-hal nonteknis juga berperan dalam mendorong bermunculannya penulis-penulis iptek andal. Anda harus punya motivasi yang kuat untuk menulis di media massa, karena ini merupakan salah satu cermin tanggungjawab moral Anda sebagai ilmuwan dan peneliti. Sampaikanlah ilmu yang Anda miliki kepada masyarakat yang membutuhkan. Jangan disimpan di dalam laci saja.


Setelah memiliki motivasi, hal lain yang harus Anda miliki adalah ambisi dan militansi. Ambisi dan militansi akan membuat motivasi Anda menjadi efektif dan bisa digerakkan. Ketika Anda ingin menulis sesuatu karena topik tersebut memang sangat hangat, lakukanlah segera, dan jangan menunda-nundanya. Bagaimana pun, proses penerimaan naskah, pemeriksaan dan pemuatan oleh redaksi, setidaknya membutuh waktu paling cepat dua-tiga hari. Jadi Anda harus berburu waktu untuk menghindari tulisan Anda tidak jadi basi.


Dengan militansi yang tinggi, kendala-kendala seperti kesibukan mengajar, meneliti atau mengurusi jurusan, sama sekali tidak akan menghalangi langkah Anda untuk menjadi penulis iptek yang andal. Dengan militansi yang tinggi, Anda juga tidak perlu merasa kecewa jika tulisan Anda ditolak, tapi mestinya akan terus memacu Anda untuk menulis lebih baik lagi. Anda tentu pernah membaca, tidak sedikit penulis-penulis yang terkenal saat ini, ketika memulai aktivitas menulisnya, menemukan kenyataan tidak sedikit tulisan-tulisannya yang dikirim ke media yang ditolak redaksi.


Ketika tulisan-tulisan Anda dimuat di media massa, sesungguhnya banyak sekali keuntungan yang bisa diperoleh. Selain masyarakat mendapatkan manfaat setelah membacanya, Anda juga akan dikenal luas, bisa pula menambah credit point (Kum) bagi dosen untuk naik pangkat, dan Anda juga dapat sejumlah uang karena memang ada honornya.


Jadi? Tidak ada resep ampuh apapun agar dapat menjadi penulis iptek terkenal, selain dengan memulainya dari sekarang! [dari berbagai sumber]

Bagaimana Menulis di Surat Kabar

DI dalam tulisan terdahulu telah di paparkan sejumlah kiat bagaimana Anda bisa menulis di media massa terutama surat kabar harian. Tulisan itu memfokuskan kepada cara menulis artikel di ruang opini. Sudah banyak diketahui bahwa menulis di ruang opini merupakan peluang terluas bagi para pembaca untuk mengemukakan gagasan dan opininya.


Tidak hanya Anda dapat mengutarakan pandangan mengenai sebuah peristiwa tetapi juga Anda bisa mendapatkan penghargaan berupa imbalan bagi tulisan. Biasanya setiap surat kabar sudah menganggarkan dana khusus bagi para penulis. Ruang artikel tidak hanya merupakan rubrik tetap tetapi juga menghangatkan dan meramaikan tampilan surat kabar. Lebih dari itu, dengan adanya artikel ini - apalagi dari kalangan spesialis - maka pengetahuan pembaca ini juga akan bertambah cepat. Sebuah persoalan duduk perkaranya bisa dipahami dalam sebuah artikel.


Inilah salah satu kegunaan artikel di dalam surat kabar. Tulisan itu “fresh” dan aktual serta tidak jarang menyeluruh dan mendalam. Akan tetapi kekuatan sebuah artikel tidak hanya kepada data yang sedang mengemuka tetapi juga susunan tulisan yang mudah dipahami.


Tulisan ini akan memberikan informasi mengenai bagaimana persiapan yang diperlukan jika memang Anda - apalagi kalangan mahasiswa dan akademisi - mau memanfaatkan media massa sebagai ajang olah fikir dan olah argumentasi.


Pertama, pilih topik yang Anda kuasai. Jika Anda seorang ilmuwan sosial maka sebaiknya memang masalah sosial dan kemasyarakatan yang Anda ungkapkan dalam tulisan di media massa. Dengan latar belakang ini, maka Anda memiliki setidaknya otoritas dalam penulisan. Dengan latar belakang memang di bidang sosial maka dengan sendirinya, Anda diharapkan mengetahui sejumlah pilar penting dalam tata kemasyarakatan, persoalan di dalamnya dan berbagai alternatif yang akan ditawarkan.


Kalau meminjam istilah David Easton dimana masyarakat merupakan sebuah sistem sosial maka akan input berupa tuntutan dan dorongan kemudian diproses di dalam black box (proses sosial) dan kemudian ada output yang berupa hasil dari penyelesaian masalah sosial yang akhirnya merupakan umpan balik untuk input berikutnya. Itulah cara berfikir dari sistem sosial yang dijelaskan dalam teori David Easton. Namun Anda tidak harus terpaku kepada satu dua teori, dalam artikel yang Anda tulis kebebasan sangat terbuka membuat teori dan pandangan baru.


Kedua, pilih topik yang Anda sangat minati. Bisa jadi seseorang yang ahli di bidang peternakan lebih senang menulis sastra. Tidak ada yang salah mengenai ini. Anda masih bisa menulis bidang kritik sastra dengan minat Anda yang menggebu-gebu. Hobi kadang-kadang lebih diperdalam daripada latar belakang pendidikan Anda. Banyak hal terjadi memang dalam kehidupan namun inilah peluang yang Anda bisa gunakan untuk mengisi halaman surat kabar setiap harinya. Minat Anda bisa dibagi dengan pembaca lainnya.


Ketiga, buatlah kliping. Jika Anda berminat pada satu bidang katakanlah keselamatan transportasi, maka sebaiknya memantau data terakhir melalui surat kabar, majalah atau internet untuk dijadikan bahan mentah tulisan Anda. Yang penting adalah data mentah seperti banyaknya kecelakaan, modus kecelakaan dan korban. Dari data ini Anda bisa menyajikan statistik mengenai kecelakaan transportasi darat, laut dan udara sehingga bisa mengulasnya lebih aktual. Mengapa harus kliping? Karena kalau Anda memuat data dari buku teks misalnya, Anda akan ketinggalan karena biasanya di buku-buku teks itu datanya sudah lama. Data kependudukan dan kemiskinan di Indonesia misalnya, itu bisa didapatkan dari pengumuman Badan Statistik Nasional. Kliping bisa berbentuk digital karena sekarang sudah modern tetapi juga bisa berupa lembaran kertas yang disimpan dalam folder khusus.


Keempat, membuat perencanaan. Ada kalanya sebuah tulisan lahir dari perencanaan yang baik. Jika Anda tahu Hari Dirgantara atau Hari Ibu maka sebuah karya tulis bisa disusun untuk memperingati hari bersejarah itu. Tentu harus dibuat terlebih dahulu apa yang akan diulas dan bagaimana Anda menyusun argumentasinya. Sangat penting Anda membuat outline mengenai gagasannya terlebih dahulu sehingga nanti menuliskannya lebih mudah. Sebaiknya tulisan juga menyertakan data yang aktual dan kutipan yang berbobot apakah dari ilmuwan atau tokoh penting.


Empat hal itu barangkali merupakan pembukaan bagi Anda untuk menulis secara reguler di dalam media massa. Terlihat sederhana namun jika diperhatikan maka akan terasa sekali pentingnya. Jika ada keahlian dan minat, misalnya, Anda sulit menuangkan karya dan gagasan Anda dalam penulisan. Menguasai materi sangat penting untuk penulisan yang berjangka panjang. Kecuali Anda hanya menulis satu kali setahun untuk media, maka tidak perlu ada rencana yang rinci. ***