BROSUR PMC Cell - Klik Gambar di Bawah Ini

BROSUR PMC Cell - Klik Gambar di Bawah Ini
PMC Cell - Master Pulsa Electric

Menggapai Kemuliaan Muslimah dengan Bimbingan Salaful Ummah

Jumat, 12 September 2008

Swasembada Beras, SBY Ingin Tiru Orde Baru


Jombang - Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ingin meniru zaman orde baru. Hal itu terutama masalah yang terkait dengan sektor pertanian. Dengan demikian, swasembada pangan yang selama ini di idamkan bisa tercapai.

"Hasil panen melimpah, tanah pertanian yang subur merupakan cita-cita kita bersama. Sehingga swasembada pangan bisa tercapai seperti pada zaman orde baru," tegas Presiden SBY dihadapan ratusan pengrajin manik-manik dan petani Kabupaten Jombang, Kamis (11/09/2008).

Untuk itu Presiden menghimbau kepada para petani agar menggunakan pupuk organik serta cara-cara bertani yang benar. Selain itu, pihaknya juga menugaskan Irjen pertanian agar seluruh keluhan yang disampaikan oleh para perani di inventarisir.

Khusus pada pengrajin manik-manik, Presiden yang di dampingi ibu Negara berjanji akan memberikan kemudahan dalam permodalan. Hal itu salah satunya adalah dengan digulirkannya program KUR (Kredit Untuk Rakyat).

"Kredit ini mungkin bisa dimanfaatkan oleh para pengrajin yang selama ini dibelit masalah permodalan. Harap dicatat, kredit ini tanpa jaminan. Sebab seluruh jaminan sudah ditanggung oleh Negara," tambahnya.

Presiden asli Pacitan ini menambahkan, pihaknya juga akan memberikan bantuan berupa mesin pelebur kaca secara cuma-cuma. Dengan begitu, produksi kerajinan manik-manik Desa Plumbon Gambang, Gudo ini kwalitasnya bisa menembus pasaran internasional.***

Dialog Hanya 30 Menit, Pengrajin Manik-manik Kecewa


Jombang - Mepetnya waktu dialog antara presiden dengan rakyat yang hanya berlangsung sekitar 30 menit, memantik kekecewaan para pengrajin manik-manik.

Hal ini salah satunya disampaikan oleh Andik Setyawan, pengrajin manik-manik lainnya. Usai forum dialog, ia membeberkan kekesalannya. Menurutnya, permasalahan yang didera oleh pengrajin bukan hanya masalah teknologi peleburan kaca dan sektor pemasaran.

Namun, masih banyak hal yang dibutuhkan yang notabene lebih krusial. Semisal, masalah kelangkaan dan mahalnya minyak tanah (Mitan). Karena mitan merupakan bahan bakar yang digunakan untuk proses pengolahan manik-manik.

Akhir-akhir ini para pengrajin yang berjumlah sekitar 121 orang merasa kelimpungan. Kondisi itu dipicu oleh melonjaknya harga mitan. Sudah begitu, bahan bakar tersebut juga mengalami kelangkaan. Praktis, ratusan pengrajin itu terancam gulung tikar. Parahnya lagi, harga manik-manik dipasaran harganya tidak bisa naik.

Ia merinci, sebelum ada kenaikan harga, mitan satu drum sekitar Rp 400 ribu,namun saat ini harga tersebut berubah dua kali lipat, yakni Rp 800 ribu.

"Seharusnya Pak Presiden bisa memberi solusi pada permasalahan ini," kesal Andik seusai acara.

Terlepas dari itu semua, kedatangan Presiden SBY ke balai desa Plumbon Gambang ini juga ditemani rombongan. Tampak dalam rombongan tersebut beberapa menteri Kabinet Indonesia bersatu seperti, M Nuh, Sri Mulyani, Hatta Rajasa, serta Abu Rizal Bakrie.

Saat dialog, beberapa orang menteri tersebut hanya sibuk mencatat. ***

Kamis, 11 September 2008

Demo Haji

Aneh! Mau ibadah saja di-rewangi demo. Itulah kenyataan yang terjadi di Bekasi, Jawa Barat. Gara-gara pembatasan kuota haji tahun 2009, calon jama’ah haji (CJH) yang terancam gagal berangkat melakukan gugatan ke PTUN setempat. Hebatnya.... dan menang!

SEBENARNYA tidak sulit untuk menyelesaikan semua itu, seandainya semua bisa mengerti dan memahami kebijakan dan arti dari rukun haji itu sendiri. Bukan bermaksud untuk menggurui atau mengecap mereka yang demo dan mengajukan gugatan itu tidak mengerti dan memahami. Kami yakin semuanya pasti paham, dan ibadah kepada Allah SWT tidak hanya ibadah haji jalan satu-satunya.

Ini merupakan urun rembug atau pendapat penulis yang juga tidak lebih hanya orang biasa yang masalah agama juga pas-pasan dan bahkan cenderung –mungkin minus– untuk itu, sebelum membaca ulasan lebih jauh, apabila ada kata-kata yang salah saya mohon maaf yang seikhlas-ikhlasnya.

Menurut penulis, tidaklah aneh bila mereka yang terancam gagal berangkat haji tahun 2009 melakukan itu. Hal itu juga banyak faktor, selain sudah setor ONH (ongkos naik haji), melakukan bimbingan manasik haji, atau bahkan faktor lainnya. Mungkin juga karena sudah terlanjur –ma’af tetangga kanan kiri diberitahu– sehingga jika tidak berangkat merasa malu.

Jika hal terakhir ini yang menjadi pokok persoalan, tentu hal itu tidak etis dan sangat tidak masuk akal. Berangkat dari berita di Bekasi, penulis jadi berfikir, apakah hanya itu jalan-satu-satunya untuk melengkapi syarat seorang muslim dalam beribadah?

Jika kita cermati, maka ada beberapa hal yang dapat kita tarik kesimpulan. Yakni, dengan adanya pembatasan kuota dari pihak Kerajaan Arab, maka berakibat pula dengan pembatasan di Indonesia. Untuk itu, seharusnya pemerintah dapat mengantisipasi sejak dini dengan melakukan penyaringan terhadap calon jema’ah haji (CJH). Maksudnya, yang diutamakan adalah mereka yang memang benar-benar belum pernah berangkat haji sama sekali ke tanah suci. Sebagaimana diketahui, ibadah haji itu huumnya wajib dalam sekali seumur hidup. Jika mampu berangkat lagi untuk yang kedua, ketiga, dan seterusnya itu hukumnya bukan lagi wajib.

Jika hal itu sudah dilakukan, dan ternyata CJH yang baru masih melebihi kuota, maka semuanya harus diberi penjelasan, bahwa untuk menjadi kesempurnaan muslim tidak hanya itu saja jalannya. Masih banyak jalan menuju jalan untuk kesempurnaan seorang muslim.

Saat ini, dalam suasana Ramadhan saja, sangat berbeda dengan saat menyambut HUT RI. Maksudnya, sebagian besar masyarakat sangat antusias dalam menyambut HUT RI. Sementara itu saat Ramadhan tiba, semua seakan lemas. Tidak ada lagi lampu warna-warni yang seharusnya dapat menjadi penyemangat untuk nebyanbut bulan penuh berkah, rahmat, dan maghfirah ini. Itulah sebabnya, penulis sangat prihatin saat melihat saudara-saudara kita yang terancam gagal berangkat haji melakukan demo.

MENCARI RIDHO ILAHI
Bagaimana seseorang yang telah menyetorkan ONH hingga puluhan juta rupiah, mereka melakukan demo untuk mendapatkan sebuah kursi pesawat yang akan membawanya ke tanah suci. Ibu-ibu dan bapak-bapak tidak peduli yang tua dan yang muda, mereka menyambut dengan gembira kemenangan gugatannya.

Tapi sadarkah kita, ternyata banyak saudara-saudara kita yang lebih membutuhkan dan dalam hidup yang serba kekurangan. Alangkah indah dan nikmatnya dapat membantu kesedihan dan kesengsaraan mereka. Bagaimana anak yatim, warga miskin yang saling berebut saat pembagian BLT (Bantuan Langsung Tunai), bahkan ada yang meninggal karena kelelahan. Nenek yang tua renta harus berjalan berpuluh-puluh meter hanya untuk mendapatkan Rp 300.000.

Seandainya kita menyadari, alangkah indahnya hidup ini dapat membantu orang yang sedang kesusahan. Berapa juta umat muslim di Indonesia yang hidupnya sangat kekurangan. Seandainya juga ONH itu dikumpulkan dan dibuatkan pabrik untuk memberikab lapangan kerja, alangkah damainya hidup ini.

Jika itu dilakukan, mungkin tahun ini kita tidak bisa berangkat haji, dengan membentuk perusahaan tersebut, mungkin juga tahun depan kita bahkan bisa memberangkatkan puluhan orang yang dihasilkan dari laba usaha tersebut.

Maha suci Allah! Bagaimana rasanya jika kita akan berangkat haji, sementara di kanan-kiri ada anak yatim yang menangis kelaparan, ada tetangga yang hidupnya serba kekurangan. Apakah haji kita mabrur? Allah Yang Maha Tahu. Namun demikian kita –manusia- juga dapat menilai haji seseorang itu mambrur atau tidak.

Pembatasan kuota haji pun sebenarnya harus disadari semua, apa maksud adanya pembatasan kuota haji. Salah satunya juga untuk keselamatan jama’ah haji itu sendiri. bagaimana tragedi Mina, atau kecelakaan tenda jama’ah haji terbakar. Itu semua telah dipikirkan masak-masak dengan pembatasan kuota itu.

TIDAK ADA MUSLIM MISKIN
Impian kita bagaimana mengangkat umat muslim dari jurang kemiskinan dan kekurangan, seandainya ummat muslim bersatu, maka tidak akan ada lagi umat muslim yang miskin. Seandainya kita saling membantu, menyayangi, mengasihi, dan menghormati dengan sepenuh hati dan hanya untuk mengharap ridlo Allah SWT.

Maka tidak akan ada lagi umat Islam yang hidupnya serba kekurangan. Apalagi jika kita semua mau hidup sederhana. Untuk itulah kita patut prihatin dengan kondisi umat Islam di Indonesia, yang mementingkan kepentingan pribadi daripada kepentingan umat dan perjuangan Islam.

Semoga tulisan ini ada manfaatnya, jika ada yang kurang berkenan Penulis memohon ma’af, karena tiada makhluk yang sempurna di dunia ini. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT. ***

Buku ’Tragedi Ryan’ Best Seller

BEST SELLER - Pedagang asongan di terminal Jombang ketiban rejeki dengan penjualan buku Tragedi Ryan. Buku dengan tebal 32 halaman dan dijual Rp 4.000 ribu laris manis untuk dibaca penumpang menuju Yogyakarta.


Mungkin bisa jadi buku Tragedi Ryan akan menjadi buku pesaing Ayat-Ayat Cinta (AAC) Karya Habiburrahman Saerozi Alumnus Universitas Al Azhar, Cairo. Bagaimana tidak, dalam sehari saja laris manis hingga 200 eksemplar. Berikut catatan wartawan Komunitas Penulis Jombang, Chaton Mochammad dari Jombang, Jatim.


ADA yang lain terlihat di terminal Kepuhsari, Jombang. Beberapa kios yang ada di lingkungan terminal, tampak beda. Sebelumnya hanya tampak lembaran-lembaran koran, tabloid, dan majalah. Kini dagangan mereka tambah satu lagi, yakni buku berjudul ’Tragedi Ryan’. Buku ini sebagian besar mendominasi etalase pedagang koran.

Bahkan beberapa pedagang asongan yang biasa mangkal di terminal Kepuhsari, Jombang juga mendapatkan berkah dari ’sang penjagal’ Verry Idam Henyansyah alias Ryan, 30 th. Pasalnya, sejak awal mereka berjualan buku yang mengupas sisi tentang perjalanan kasus Ryan –sejak Ryan kecil dan tumbuh menjadi seorang gay serta kesadisannya membantai sekitar 11 orang– mereka bisa mendapat tambahan hasil.

Hasilnya cukup lumayan dibandingkan dengan menjual koran di atas bus. Buku setebal 32 halaman yang dijual dengan harga Rp 4.000 itu laris manis diborong pembeli. Selain di terminal Jombang, pemandangan itu juga terjadi di sub terminal Mojoagung, Jombang. Bahkan, pada etalase beberapa kios, buku bergambar pembunuh berantai itu dikerubuti pembeli.

Salah satu penjualnya, Sentot, 28 th, pemilik agen koran di terminal Jombang mengatakan, hanya dalam waktu setengah hari, sebanyak 200 eksemplar buku berjudul Tragedi Ryan ludes terjual. Untuk mempercepat penjualannya, selain dijual di kios, Sentot juga mengerahkan beberapa loper untuk dijual di atas bus.

"Penjualan buku Ryan sangat laris, pembelinya bukan hanya orang Jombang, sejumlah penumpang bus yang transit di terminal Jombang juga ikut membeli," kata Sentot ketika ditemui di kiosnya beberapa waktu yang lalu.

Warga Desa Kepuhkembeng ini mengaku, ia mendapatkan pasokan buku tersebut dari Surabaya. Awalnya dia ragu kalau buku sang penjagal itu akan laris manis. Tapi setelah ditawarkan kepada para pembeli ternyata banyak yang suka.

"Ingin tahu lebih banyak saja tentang perjalanan hidup sang penjagal itu. Soalnya, kalau dikemas dalam bentuk buku pembahasannya lebih detail. Selain itu, bisa untuk bacaan selama perjalanan ke Jogja," ungkap Hari, salah satu penumpang bus jurusan Magelang yang baru saja membeli buku Tragedy Ryan.

Sangat ironis sekali, bagaimana perjalanan hidup sang jagal Ryan yang telah membantai 11 korbannya sangat laris manis. Para pembeli sebagian besar membeli hanya karena penasaran dengan riwayat hidup sang jagal ini. Sementara bagi sang penerbit yang memiliki insting bisnis tinggi, ini merupakan peluang yang sangat baik untuk dijadikan ladang bisnis dengan membukukannya dan menjualnya.

Ternyata sambutan masyarakat terhadap buku ini sangat baik. Perjalanan hidup sang jagal ibarat ’selebriti’ baru yang mengalahkan selebriti-selebriti nasional. Bahkan media cetak dan elektronika, saat kasus ini mencuat, memberikan porsi yang sangat besar dalam setiap muatan berita. Yang terpenting, jangan sampai ada yang meniru agar bisa menjadi ’selebriti’ model Ryan. Sehingga buku yang sejatinya bertujuan baik itu, disalahgunakan dengan ’menjiplak’ prilaku menyimpang sang jagal, hanya agar dikenal masyarakat. ***

Minggu, 07 September 2008

Ngabuburit di Pasar Ramadhan Jombang


Siapa sich yang nggak tahu ngabuburit? Aktifitas dalam menjelang atau menunggu saat adzan Maghrib berkumandang untuk berbuka puasa di bulan suci Ramadhan. Nah! Di Jombang, ada tempat ngabuburit yang senantiasa ramai. Di Pasar Ramadhan Jl. Merdeka (depan GOR/Stadion) Jombang yang digelar sejak 1 September hingga menjelang Idul Fitri. Berikut liputannya.


SORE itu semua orang muslim menunggu suara bedug dipukul, tanda Maghrib tiba. Warga kota Jombang, sebagian besar menghabiskan waktunya dengan membeli kebutuhan berbuka puasa di Pasar Ramadhan yang merupakan agenda rutin di Jombang. Tempatnya pun sangat startegis, di Jl. Merdeka (depan GOR/Stadion) Jombang.


Sejak pukul 16.00 WIB, para pedagang sudah menata dagangannya. Berbagai jenis makanan dan minuman dijual di tempat ini. Pembelinya tidak hanya dari kota Jombang saja, ada beberapa yang dari pinggiran kota Jombang yang kebetulan tempat kerjanya di Jombang. Karena memang lokasi pasar Ramadhan ini, letaknya dekat dengan lokasi pertokoan yang sebagian besar pekerjanya dari berbagai kecamatan yang ada di Jombang.


Seperti yang diakui Ratna, warga asal Kecamatan Megaluh, Jombang. Ia sebelum pulang, mampir ke pasar Ramadhan untuk sekedar membeli makanan dan minuman untuk berbuka. ”Ya daripada di rumah nggak sempet masak. Lebih baik sekalian membeli di sini, lebih praktis,” akunya ditemui disela-sela kesibukannya membeli minuman.


Menurutnya, pasar Ramadhan sangat bagus, cuma yang perlu mendapat perhatian lokasinya yang berdesak-desakkan yang mengakibatkan jalanan macet. Ia juga menyatakan sangat terbantu dengan adanya pasar Ramadhan ini. Setelah lelah bekerja seharian, setidaknya ia tidak perlu repot-repot untuk segera pulang dan memasak. ”Apalagi di sini harganya juga sangat terjangkau dan terbilang murah,” kata Ratna yang sehari-harinya bekerja di salah satu toko di Jombang ini.


Hal itu juga diakui oleh Ningsih, yang kesehariannya bekerja di sebuah dealer motor. Ia juga sangat terbantu adanya pasar Ramadhan itu. ”Ya mana sempat masak, wong pulang aja sudah sore,” katanya pada Komunitas Penulis Jombang.


Meski mengakibatkan macet, tambahnya, ia menyatakan tidak mengapa. Pasalnya hal itu berlangsung selama sebulan sekali dalam setahun. ”Disamping itu juga meringankan kita-kita yang bekerja, sehingga nggak perlu pusing-pusing mikir masalah berbuka,” lanjutnya.


Ningsih yang saat itu datang bersama teman-teman sekerjanya itu, terlihat menikmati berbelanja keperluan berbuka puasa. Ia berkeliling dari barat (depan stadion) hingga ke timur (hampir depan kampus Undar Jombang).


Sementara itu para pedagang juga sangat gembira. Mereka sangat antusias menyambut pasar Ramadhan yang diadakan setiap tahun itu. Setidaknya pendapatan yang mereka peroleh melebihi dari bulan-bulan sebelumnya. Aneka minuman hingga masakan tersedia di pasar Ramadhan ini, mulai dari kolak kacang ijo, kolak pisang, hingga juice tersedia. ***

Selasa, 02 September 2008

Pasar Ramadhan

Sebanyak 1429 jajanan apem diperebutkan dalam pembukaan Pasar Ramadhan di Jl Merdeka Jombang. Dalam acara yang digelar menjelang buka puasa ini warga memperebutkan apem yang berbentuk gunungan dan ditandu enam orang yang berseragam besut. Ada kepercayaan yang mendapatkan jajanan khas awal puasa itu akan mendapatkan berkah. Pasar Ramadhan ini akan digelar hingga menjelang Idul Fitri (puasa terakhir). Agenda ini telah ditetapkan sebagai kegiatan tahunan dalam mengisi bulan suci Ramadhan. Mereka yang berjualan di lokasi ini, buka mulai jam 16.00 BBWI hingga sekitar pukul 18.30 BBWI (menjelang sholat Isya'/Tarawih)

Senin, 01 September 2008

Remaja Gaul Bicara Tentang Puasa


Singkat, padat, dan jelas. Cuma satu kata puasa. Apa sich sebenarnya puasa itu? Benarkah hanya menahan lapar, haus, dan tidak melakukan hubungan suami-istri pada siang hari?


KATA temanku itu sudah kuno, basi dan termasuk pengertian puasa pada jaman purba. Di era yang serba canggih ini, katanya modern, dalam hal puasa itu tidak hanya menahan lapar, dahaga (haus), dan tidak berhubungan suami-istri pada siang hari.


Padahal, ada temanku yang – maaf – agak konyol, puasa menurutnya diambil dari bahasa Jawa, yakni poso. Artinya nopo-nopo kerso (baca: apa-apa mau). Adalagi yang lebih gile lagi, dalam sebuah ’diskusi’ kecil-kecilan (baca: cangkru’an), tercetus kata-kata guyonan, poso itu ngeposne roso (baca: menempatkan rasa). Roso apa? Ya roso luweh (baca: lapar), roso ngelak (baca: haus), dan roso yang lainnya.


“Lha ngeposne ning endi? (baca: menempatkannya dimana?),” tanya Badrun temanku yang sejak tadi diem aja, penasaran dengan obrolan tanpa tema itu.


“Ya dimana lagi kalau bukan ning wandhe (baca: di warung). Masak rasa lapar, haus mau dibawa ke apotik? He... he.....,” jawab Kang Sudrun. Mendapat jawaban itu mereka semua tertawa ngakak nggak karuan. Maklum tempatnya juga ngobrol diperempatan kampung, jadi ya pokoknya apa yang biasa dijadikan tema langsung diambil. Yang penting teman-teman bisa senang dan bisa tertawa lepas.


Aku sering prihatin mendapati obrolan yang tidak masuk akal itu. Karena hal itu terbawa menjadi lawakan konyol, yang bagi sebagian orang, sangat menikmatinya. Yang mengherankan, soal agama pun dijadikan bahan lawakan konyol yang tanpa ada pembenar dibelakangnya. Jadi bagi yang awam, bisa jadi hal itu dijadikan panutan. Artinya puasa itu tidak lain hanya menempatkan rasa lapar atau haus di warung bukan di tempat lainnya.


Itulah joke-joke yang sering muncul diantara obrolan-obrolan kecil yang menjadikan kita bisa tertawa lepas tanpa beban. Tapi dibalik itu, tersimpan maksud yang sangat mendalam. Sehingga kita harus berhati-hati dalam melontarkan joke-joke, apalagi menyangkut persoalan akhidah. Terlepas dari persoalan bagaimana kita berbicara dalam mengeluarkan joke, kita akan membahas apa sich sebenarnya puasa dipandang dari sudut pandang remaja gaul?


Puasa yang dalam bahasa Arab disebut Syiam, Syaum merupakan aktifitas orang muslim untuk menahan diri bahkan menghilangkan perbuatan jelek untuk meningkatkan kadar keimanan dan ketaqwaan ummat. Yang perlu digarisbawahi di sini adalah menahan diri dan bahkan menghilangkan perbuatan jelek.


Maksudnya puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, serta tidak melakukan hubungan suami-istri pada siang hari. Lebih dari itu, yankni puasa hati, pikiran, mata, tangan, kaki, telinga, dan mulut manusia. Lho kok gitu?


Saat ini jaman semakin canggih bin modern alias maju. Itu sich kata orang-orang, tapi menurutku, sekarang ini tidak lebih dari jaman purba. Mungkin ada yang bilang itu khan menurut aku, atau jangan sok munafik-lah. Iya memang kita tidak perlu sok munafik dan sejenisnya, yang perlu diingat adalah jika kita memiliki kekuatan maka gunakan kekuatan itu, seperti yang dilakukan Front Pembela Islam (FPI) dan ormas lainnya. Tapi jika kita tidak mampu, kita hanya bisa berdo’a dalam hati dan tidak setuju dengan hal-hal negatif. Dan itu adalah selemah-lemahnya iman kita (termasuk penulis, yang hanya bisa menyuarakan lewat tulisan ini).


Jadi puasa itu harus puasa hati. Jangan sampai terbersit dalam hati ini niat-niat yang jelek, iri hati, berprasangka buruk dan sejenisnya. Meski jika niat jelek belum terlaksana bukan dosa, dan niat baik jika belum terlaksana sudah tercatat pahala. Apa tidak sebaiknya memiliki niat yang baik? Meski belum terlaksana sudah tercatat pahala disana?


Kemudian puasa pikirannya. Maksudnya puasa dari pikiran kotor (ngeres), iri, pikiran jahat dan hal yang tidak baik. Selanjutnya puasa mata, ini yang saat ini sulit dilakukan. Bagaimana menjaga pandangan dari hal-hal yang tidak baik, termasuk melihat tivi atau memandang wanita yang bukan muhrimnya.


Adalagi puasa tangan dan kaki. Bagaimana menjaga tangan dan kaki kita agar tidak melangkah ke tempat-tempat maksiat, tangan tidak memegang benda-benda yang tidak baik, semacam kupon togel dan miras. Juga bagaimana mengendalikan tangan dan kaki agar tidak gampang untuk memukul dan menendang orang lain.


Selanjutnya puasa telinga. Puasa ini adalah menjaga telinga jangan sampai mendengar ucapan atau pembicaraan yang tidak baik. Kemudian puasa mulut, jangan sampai mulut yang diciptakan dengan manis oleh Allah SWT ini dibuat membicarakan hal-hal yang tidak sopan dan tidak baik, seperti ngrasani (baca: membicarakan orang lain).


Ini hanyalah bahan diskusi dan bahan pembicaraan, jika ada baiknya mari kita gunakan dengan sebai-baiknya. Jika tidak baik dan salah, itu merupakan kesalahan aku sebagai manusia. Untuk itu jika ada yang salah dan kurang mohon tambahannya.


Bagaimanapun juga, pada Ramadhan kali ini setidaknya harus lebih baik dari sebelumnya. Untuk itu, mari kita jadikan moment Ramadhan untuk introspeksi diri. Selamat Menjalankan Ibadah Ramadhan 1429 H, semoga kita termasuk ummat yang mendapat rahmat, hidayah, inayah, dan pengampunan dari Allah SWT. Amien!