BROSUR PMC Cell - Klik Gambar di Bawah Ini

BROSUR PMC Cell - Klik Gambar di Bawah Ini
PMC Cell - Master Pulsa Electric

Menggapai Kemuliaan Muslimah dengan Bimbingan Salaful Ummah

Jumat, 31 Oktober 2008

Aku Malu ‘Mengaku’ Islam


Menyaksikan acara Debat yang digagas salah satu televisi swasta nasional, TVOne, Kamis (11/09/2008), saya jadi ingin tertawa, geli, dan lucu. Bagaimana tidak? Sudah jelas undang-undang itu dibuat untuk kebaikan dan melindungi kaum wanita kok ya yang menolak itu pihak yang dilindungi. Kalau tidak diatur, mau jadi apa generasi kita? Wong diatur saja masih banyak yang melanggar, apalagi kalau tidak diatur? Mau jadi apa generasi selanjutnya?


KATANYA aktivis perempuan, katanya sebelum adanya RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi sudah menyuarakan penolakannya terhadap pornografi. Tapi ternyata kok ya menolak adanya RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi yang rencananya mau di-dok pada Selasa (23/09/2008). Heran dech jadinya pemirsa. Acaranya sich bagus, tapi isinya cocok kalau dikatakan tidak lebih hanya ‘Debat Kusir’. Alias debat yang hanya buang-buang energi, tanpa ada hasil yang nyata.


Apalagi saat itu menghadirkan salah satu aktivis perempuan –katanya sich dalam textline dibawah namanya– plus berjilbab lagi. Jika dilihat dan didengarkan, aku sendiri rasanya malu. Pasalnya jika ia Islam dan muslimah, tentunya akan setuju dengan busana yang santun dan menutup aurat. Apalagi hal itu tidak mengundang syahwat laki-laki hidung belang.


Apakah ia rela jika anaknya mengikuti trend –yang katanya modern– dengan memakai baju super ketat plus menampakkan udel (pusar -red)-nya. Jika jawabnya setuju, tentu perlu dipertanyakan ‘jilbab’ yang dikenakannya. Masak anak sendiri dibiarkan dengan pakaian seperti itu?


Jadi jangan heran jaman yang katanya era globalisasi –tapi menurutku kok jadi ngombalisasi–ini akan ada yang namanya jaman purba jilid ke-II. Bagaimana saat ini dapat kita lihat di jalan-jalan, di mall, atau yang lainnya. Mereka datang dengan mobil mewah, handphone keluaran terbaru, ditambah lagi cincin emas menghiasi tangan dan daun telinganya. Tapi sayangnya untuk membeli secuil kain untuk menutup paha, dada, dan lainnya tidak mampu (maaf jika tidak berkenan dengan penyebutan bagian-bagian tubuh tersebut). Dunia memang sudah aneh!


Dengan berpakaian (bukan berbusana lho!) di atas lutut, terus belahan pakaian atas menonjolkan putihnya kulit, ditambah lagi dengan ketatnya pakaian hingga membentuk lekuk tubuh. Mana ada lelaki yang tidak tertarik, kemudian melirik, dan akhirnya menarik untuk kemudian berbuat yang nggak-nggak.


Intinya, sumber dari terjadinya berbagai tindak asusila itu juga akibat dari ulah wanita itu sendiri. Lalu ada yang protes, masak anak yang masih berumur empat tahun juga diperkosa? Apakah anak kecil itu juga gara-gara memperlihatkan auratnya? Nah yang ini pun jangan dipandang anak kecilnya! Tapi lihat dulu alurnya alias ceritanya sebelum ia ketemu anak kecil sebagai pelampiasan.


Bisa jadi si lelaki bejat tersebut sebelumnya melihat orang dewasa yang berpakaian minim. Karena nafsu yang sudah mentok di ubun-ubun dan bingung mencari pelampiasan. Bisa jadi jika dilampiaskan pada wanita dewasa yang memakai pakaian minim, ia di penjara. Akibatnya mencari ’mangsa’ yang belum mengerti apa-apa. Atau bisa juga akibat ia menonton video porno, karena setan burik sudah menang perang yang berkecamuk dalam hati, akhirnya pelampiasannya anak ingusan, alias anak bau kencur, bin anak kecil.


Wis toh nggak usah sulit-sulit. Agama itu mudah, tapi jangan dipermudah. Agama itu tidak sulit, tapi jangan dipersulit. Maksudnya yang mudah itu jangan lagi digampangno. Bisa jadi nanti kena batunya –bukan mendo’akan lho!– tapi setidaknya dalam setiap tindakan harus berhati-hati, apalagi menyangkut akhidah.


Apalgi berdasarkan penelitian, Indonesia termasuk urutan pertama pengakses internet yang mengakses gambar-gambar porno alias cybersex. Karena begitu gampangnya kita dapat mengaksesnya. Ini merupakan salah satu cara orang barat untuk merusak moral tidak hanya remaja, lebih dari itu dan lebih parah lagi adalah moral bangsa. Itulah berbagai cara orang barat untuk menghancurkan Islam.


Jika kita sebagai orang Islam tidak peduli dengan moralitas kita sendiri, bagaimana orang lain mau mengakui keberadaan kita. Sekarang saja sudah terbukti, dibeberapa negara ada yang melarang pemakaian jilbab. Jika hal ini dibiarkan, maka akan membawa dampak buruk bagi dunia Islam dan ummat muslim.


Kemudian juga bukti lain tentang semakin maraknya pornografi di Indonesia. Berapa banyak video dalam format 3GP dengan ‘artis’ remaja Indonesia beredar luas di masyarakat. Ini juga sebagai akibat dari tayangan-tayangan yang mempertontonkan pornografi secara bebas. Akibatnya, saat ini tontonan jadi tuntunan dan tuntunan jadi tontonan. Artinya, sinetron, musik dan sejenisnya saat ini jadi tuntunan dan panutan remaja. Mereka rela merubah penampilan sehingga mirip dengan idolanya.


Sedangkan tuntunan jadi tontonan. Banyak sekali saat ini tabligh akbar yang digelar, dan pengunjungnya berjubel. Tapi yang datang itu tidak mendengarkan isi ceramahnya. Mereka hanya nongkrong, bahkan tidak jarang yang pacaran. Setelah selesai, ya nggak tahu apa dech isinya ceramah tadi.


Ironis bukan? Sangat kontras sekali dengan ajaran yang ada dalam Islam. Dan akhirnya, kututup wajah ini dengan kedua telapak tanganku, karena aku malu ’mengaku’ Islam.


Bagaimana menurut Anda? ***

Amrozi Cs ‘Pahlawan’ Islam


Rencana eksekusi terhadap Amrozi Cs yang akan dilaksanakan awal November 2008, merupakan ‘pembunuhan’ karakter terhadap Islam. Sebagaimana kita tahu, dalam Islam dikenal, jika kita mempunyai kekuatan maka lawanlah segala bentuk kemungkaran. Dan jika kita tidak berani, berdo’a dan mengingkari kemungkaran itu jalan terakhir. Yang terakhir ini menunjukkan selemah-lemahnya iman seseorang.


SEMENTARA Amrozi Cs, mereka memiliki kekuatan dan mereka gunakan kekuatan tersebut. Seperti halnya FPI (Front Pembela Islam), mereka memiliki kekuatan, maka mereka pun membubarkan setiap kegiatan yang melanggar syariat Islam, meskipun Indonesia bukan negara Islam. Tapi sudah jelas, bahwa yang berjuang untuk mencapai kemerdekaan sebagian besar adalah andil dari pejuang Islam.


Bahkan dalam pembukaan UUD 1945 juga disebutkan, atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan… Ini semakin komplit bagi ummat muslim di Indonesia untuk berjuang bersama-sama membela kebenaran dan melawan kemungkaran.


Kita juga harus ingat, motto umat Islam adalah Isy’ Karimah, aumut Syahidan (Hidup Mulia, atau Mati Syahid). Di sinilah kita sebagai ummat Islam dan muslim harus mamilih. Maksudnya, dapatkah kita hidup mulia. Jika tidak dan dikhawatirkan malah membuat keonaran di muka bumi, lebih baik jatuh pada pilihan yang kedua. Dan mungkin juga itulah yang dipilih Amrozi Cs. Insya Allah mereka jika jadi dieksekusi termasuk syuhada’.


Jika sampai Amrozi Cs jadi dieksekusi pada awal November 2008, maka ini menunjukkan tidak mampunya ummat Islam yang ada di Indonesia untuk melindungi ummatnya. Sebagaimana kita tahu, bagaimana Amerika yang melindungi warganya, meskipun dalam posisi yang salah. Seperti saat meng-‘eksekusi’ negara Afganistan dan Irak.


Indonesia –yang katanya negara besar– ternyata hanya mampu ‘membantai’ warga negaranya sendiri. Tidak hanya itu, bisanya hanya mengeruk harta warga negaranya. Salah satu buktinya adalah keberadaan TKI (tenaga kerja Indonesia), mereka berjuang di negeri orang hanya agar dapat hidup layak. Pasalnya di negeri sendiri sudah tidak ada lagi kenyamanan dan kesempatan kerja. Tapi apa yang didapat setelah samapi di tanah air?


Mereka harus merogoh saku dalam-dalam untuk memberi ’peminta-minta’ di bandara atau sejenisnya. Padahal, mereka telah banyak menyumbangkan devisa pada negara.


Kembali lagi pada kasus rencana eksekusi mati di hadapan regu tembak terhadap Amrozi Cs. Jika memang mereka akan dieksekusi pada awal November, maka tidak hanya ummat muslim yang kehilangan, Indonesia pun ‘seharusnya’ juga kehilangan. Kenapa demikian? Amrozi Cs merupakan warga negara terbaik yang dimiliki Indonesia. Mereka yang tanpa bekal ilmu kemiliteran mampu menciptakan bom dasyat, seharusnya dididik dan dibina untuk angkatan perang. Mereka pejuang sejati tanpa pamrih.


Sementara angkatan perang kita? Tidak sedikit untuk masuk hanya untuk ‘gagah-gagahan’, dapat pekerjaan tetap dengan gaji ekstra. Sementara jika ada kemungkaran dibiarkan, tanpa ada upaya menghentikan atau menghapusnya. Contoh konkritnya, prostitusi yang nyata-nyata dilarang ternyata masih bebas berkembang. Kemudian judi juga masih merajalela di mana-mana.


Jadi jangan heran jika Indonesia saat ini semakin suram, banyak bencana dan musibah. Itu semua bukan kecelakaan biasa, atau hanya bencana yang tanpa sebab akibat. Banjir itu tidak hanya karena hutan gundul akibat ditebangi secara liar. Lebih dari itu, itu semua adalah peringatan bagi kita manusia yang telah banyak berbuat dosa, telah menyia-yiakan sebagai khalifah fil ardi (pemimpin di muka bumi).


Kita saat ini tidak ubahnya seperti jaman jahiliyah terdahulu, sayangnya saat ini dikemas menjadi jahiliyah ‘modern’. Lihat saja gaya pacaran remaja saat ini, sudah berani main peluk dan cium di muka umum. Nggak percaya? Lihat saat hari Sabtu malam (malam Mingguan –istilah anak muda), di sekitar alun-alun, dan bahkan di sepanjang jalan depan Perpustakaan Mastrip, SMAN 3 hingga tugu Pancasila. Anak muda cowok-cewek berjajar berpasang-pasangan. Kemudian ke utara depan makam. Pokoknya tambah seru aja melihat pemandangan di sana.


Tidak hanya di situ, jalan dari alun-alun Jombang ke utara. Sepanjang jalan ini, terutama malam Minggu, pasti ada motor yang mangkal di sana dan berduaan di atas motornya. Tidak sedikit diantara mereka yang berpelukan (seperti teletubis kali ye!).


Ini membuktikan moral dan akhlak remaja kita sudah mulai luntur. Ini juga tergantung dari ke dua orang tuanya dalam mendidik soal agama. Inilah yang saat ini diperjuangkan oleh pejuang-pejuang Islam yang kini akan dieksekusi oleh negaranya sendiri.


Seharusnya kita turut prihatin, bukan ikut mengecamnya. Karena, bagaimanapun juga mereka adalah saudara-saudara kita. Sebagaimana dalam Al-Qur’an, sesungguhnya sesama muslim adalah Saudara.


Bagaimana menurut Saudara? ***

Penjajahan Moral Mengintai

Awas! Penjajahan Moral Mengintai


Seharusnya kita harus lebih hati-hati terhadap pergaulan dan kegiatan anak-anak, atau adik kita. Pasalnya, penjajahan terhadap moralitas bangsa saat ini sedang gencar-gencarnya dilakukan oleh bangsa barat. Salah satunya dengan menyediakan content, baik gambar maupun clip video porno.



JIKA kita teliti dan waspada, tidak ada salahnya orang tua itu berkunjung ke warnet. Di sanalah kita akan tahu, bagaimana remaja kita mampu berjam-jam duduk di depan komputer untuk mengakses internet. Jika yang diakses untuk mencari bahan tugas belajar sich nggak apa-apa. Tapi tahukah kita, apa yang mereka akses?


Cybersex. Ya itulah nama kerennya pornografi di internet. Mungkin tidak banyak yang dengar istilah itu. Tapi bagi yang doyan ngenet, istilah itu sudah tidak asing lagi. Mereka seperti kena narkoba, jika tidak mengakses situs porno kepalanya jadi pusing atau uring-uringan.


Ya... mereka sudah seperti kecanduan untuk mengaksesnya. Bahkan beberapa diantaranya sudah menghukumi ’wajib’ ngakses situs tersebut. Apalagi ada guyonan ’tombo ngantuk-tombo ngantuk’ yang dipopulerkan Host Empat Mata Tukul Arwana, saat melihat wanita cantik. Inilah trend remaja yang semakin mengkhawatirkan. Tidak hanya itu, beberapa diantaranya, bahkan anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) sungguh sangat mengkhawatirkan.


Ternyata, software pemblokiran situs porno tidak sepenuhnya dipatuhi oleh pengusaha warnet. Salah satu contohnya saja, warnet di pusat kota Jombang, ternyata tidak dilengkapi dengan software anti situs porno. Padahal, software tersebut diberikan secara cuma-cuma alias gratis. Meskipun software tersebut tidak efektif, setidaknya dapat mengurangi pengakses pornografi. Karena bagi yang doyan ngenet, tidak ada yang tidak bisa dibobol meski sudah diblokir. Mereka pun punya motto tersendiri ’Selama itu buatan manusia, harus bisa dibobol. Soal kita juga manusia’.


Ada hal yang mengejutkan, dalam sebuah hasil penelitian yang meneliti pengguna internet disebutkan bahwa sebagian besar yang pernah mengakses internet pernah membuka situs porno meski sekali. Mereka juga mengungkapkan, Indonesia termasuk dalam urutan teratas yang doyan ngakses situs porno tersebut. Sungguh sudah sangat mengkhawatirkan kondisi remaja kita.


Untuk itu, sudah saatnya para orang tua untuk menyempatkan mendampingi putra-putrinya saat mengakses internet untuk mencari bahan keperluan sekolahnya. Dengan cara ini, setidaknya dapat meminimalisir pengakses situs porno –ini bukan menuduh putra-putri Bapak/Ibu sebagai pengakses. Tapi apa salahnya jika kita hati-hati dan waspada, serta njagani agar mereka tidak mengakses situs tersebut.


Tidak ada salahnya kita waspada, karena dengan waspada kita bisa selamat. Ada pepatah Jawa yang sangat baik bagi kita semua ’Sak bejo-bejone wong kang lali, isih bejo wong kang eling lan waspodo’.


Kita hanya bisa saling mengingatkan untuk hati-hati dan waspada. Karena dengan saling mengingatkan kita semua dapat selamat. Mengingatkan bukan berarti kita menyalahkan. Karena banyak sekali yang menyalahartikan mengingatkan. Akibatnya saling salah kaprah dan menyadi fatal akibatnya. Untuk itu, ingatkan kita semua, dan sadari bahwa mengingatkan itu untuk keselamatan dan kebaikan kita juga.


Ok! Mari kita budayakan hidup saling mengingatkan untuk menuju kebaikan.


Bagaimana menurut Saudara? ***

Pilih - Koruptor atau Teroris


Rata Kiri

Saat ini, sepertinya perburuan terhadap koruptor oleh aparat nyaris tidak dapat menyentuhnya. Salah satu contohnya kasus Edi Tanzil, yang hingga kini belum ada kabarnya. Sedangkan ‘atas nama’ teroris, sebagian besar ummat Islam ‘dicap’ sebagai teroris. Padahal, mereka juga menyadari ia sendiri juga ummat Islam. Akibatnya, semua ummat Islam diidentikkan dengan teroris. Sebenarnya jika diruntut, hal itu hanya menguntungkan negara barat yang tidak ingin Islam memiliki ‘tentara’ yang berani mati. Karena bagi mereka, ‘tentara’ berani mati (baca: Mujahiddin) merupakan ancaman bagi AS. Tapi sayangnya, kini ummat Islam yang diadu domba. Padahal, sejarah juga telah membuktikan bahwa Islam pada jaman penjajahan yang berada digaris terdepan.



SORE itu, hujan baru saja reda. Jalan-jalan masih terlihat basah. Di tengah desa yang nyaman dan terntram itu, tiba-tiba terusik dengan adanya kabar desa itu menjadi sarang teroris. Isu yang berkembang, teroris telah masuk ke desa tersebut, dan saat ini bersembunyi di salah satu tempat rumah warga.


Teroris kok sembunyi….,” celetuk Cak Hasan yang saat itu mampir ngopi di warungnya Mbok Darmi.


Teroris khan juga manusia. Mereka diburu karena dianggap sebagai biangnya kerusuhan di berbagai daerah,” saut Mbok Darmi sambil mengaduk kopi pesanan Cak Hasan.


Tapi Kang… bagaimana dengan Amerika yang membombardir Irak, Afghanistan, dan kini mau menyerang Iran. Mereka khan lebih kejam, membunuh ribuan bahkan jutaan nyawa manusia. Apa itu bukan namanya mbahe teroris,” cerocos Mbok Darmi.


Cak Hasan menghisap rokok kreteknya dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan Mbok Darmi. “Uuuppsh,” asap rokok dihembuskan kuat-kuat oleh Cak Hasan.


Iya… tapi siapa yang berani dengan Amerika. Mungkin setelah Irak, Afghanistan, kemudian Indonesia,” kata Cak Hasan


Ha…. Masak Kang,”


Ya… iya lah… wong sekarang saja sudah tampak. Sesama warganya saja dibantai, bagaimana bisa mengamankan warganya dari negara lain. Yang dipemerintahan suka korupsi, yang diberi senjata dibuat nembak warga. Iyo toh Mbok?,” saut Cak Hasan.


Nich Kang kopinya…,”


Lalu gimana ya Kang?,”


Gimana apanya?,”


Ya negara Indonesia ini,”


Walah-walah… sampean kok yo ono-ono wae melu mikir negoro. Negoro iku wis ono sing mikir,” kata Cak Hasan


Tapi yo bener pean Mbok, piye nasibe awak dewe, yen tenan ada kejadian seperti di Irak,”


Kalau pean jadi presiden, apa yang akan kamu lakukan Kang,” tanya Mbok Darmi terus-menerus.


Ha…ha…ha… Pean kok yo ono wae sing ditakokne! Tapi yen aku jadi presiden, sing jarene diarani teroris iku tak rekrut jadi tentara. Dengan demikian akan memilki tentara yang siap tempur dan siap mati. Jadi kita juga akan disegani negara lainnya,” papar Cak Hasan.


Bagus….bagus…..bagus…. Jadi warga sudah tidak lagi pusing dan khawatir. Semua dadi aman yo Kang,” ujar Mbok Darmi menimpali.


Lha piye, yen nggunu khan kita juga disegani negara lain, dan juga dapat dibuat untuk menjaga wilayah Indonesia yang beberapa wilayah sudah ‘dicaplok’ negara tetangga,” paparnya sambil minum secangkir kopi.


Yang perlu dibasmi dan diberantas itu korupsi. Kalau teroris bisa dibina untuk angkatan bersenjata.


Tapi kalau koruptor?,” balik Cak Hasan bertanya. Belum sempat hal itu dikomentari oleh Mbok Darmi, terlihat Kang Semprul bergabung di warung kopi itu.


Piya kabare Cak? Suwe ra ketemu peno,” sapa Kang Semprul pada Cak Hasan.


Apik wae Kang. Kok baru nongol? Dari mana saja Kang,”


Ya tadi baru lihat televisi. Nonton berita, ben ra dicap nggak tau informasi,” timpal Kang Semprul.


Keduanya asyik ngobrol. Karena memang jika dua sahabat karib ini sudah ketemu, sampai malem pun mereka betah ngobrol. “Mbok kopi! Dan ini diisi lagi pisang gorengnya, sudah mau habis lho!,” pesan Kang Semprul.


Iya… tunggu sebentar ya Kang,” jawab Mbok Darmi sambil mengambil cangkir dan mempersiapkan membuat kopi.


Ini tadi ngobrol apa sama Mbok, Cak?,” tanya Kang Semprul pada Cak Hasan.


Uupppsss…. Ini lho Cak, negara ini semakin tidak aman saja bagi warga negaranya sendiri. Lihat saja, di Pasuruan, warga ditembak. Padahal untuk membeli senjata itu khan uang rakyat juga. Kemudian ummat Islam dicap sebagai teroris. Sementara yang membawa uang rakyat miliaran rupiah dibiarkan tanpa kabar,” terang Cak Hasan seraya menghisap rokok dan menghembuskannya kuat-kuat.


Nah… iya tadi juga petinggi TNI AL atau apa itu, saat di gedung DPR juga menolak untuk membawa tersangka penembakan diadili di pengadilan sipil,” tambah Kang Semprul yang juga tidak kalah heran.


Wah… kalau begitu, ini namanya jeruk minum jeruk!,” seru Cak Hasan.


Jeruk minum jeruk apanya?,” saut Markuat yang tiba-tiba datang tak diundang.


Eh… Markuat! Tumben kok nggak ada suaranya sudah nongol kayak hantu,” seru mereka berdua nyaris bersamaan.


Yo wis…. Assalamu’alaikum semuanya!,” ucap Markuat.


????!!!!!!###$$$$$$,” dalam hati Cak Hasan dan Kang Semprul.


Wa’alaikum salam!,” jawab Mbok Darmi.


Lho kalian kok nggak jawab salamnya Markuat?,” tanya Mbok Darmi heran. “Dosa lho ngak jawab. Apalagi salam itu tadi khan juga do’a bagi kita,” sambungnya.


Iya… tapi Mbok….?,” kata Cak Hasan tidak dilanjutkan.


Tapi apa….? Apa takut dicap teroris gara-gara ngucap salam,” saut Mbok Darmi.


Oh… itu… sudah-sudah nggak perlu dipanjanglebarkan. Kita nggak usah takut mengucapkan salam, memelihara jenggot atau apa yang mengidentikan Islam. Persoalannya, yang terpenting kita harus bisa menjelaskan bahwa Islam itu agama perdamaian, rahmatan lil alamin,” terang Markuat.


Kita harus fanatik terhadap Islam. Kalau kita saja tidak fanatik terhadap agama Islam, lalu siapa yang akan fanatik? Apa orang yang akan fanatik, sementara orang Islam sendiri tidak fanatik,” ujar Markuat.


Lihat akibatnya, negara Indonesia ini khan negara berlandaskan Pancasila. Menjunjung tinggi kebebasan beragama. Malah yang ini lain lagi, di Manokwari, Papua ada Raperda yang menjadikan Manokwari sebagai Kota “Injil”. Tapi apa action dari pemerintah pusat?,” tanya Markuat.


Na’udzubillahimindzalik…. Masak Mar?,” tanya Cak Hasan nggak percaya.


Wah kamu… memang media tidak banyak yang nulis. Itu aja aku tahu dari internet, dan ternyata memang ada,” terang Markuat.


Memang ndunyo wis tuwo…. Itu khan salah satu tanda-tanda kiamat. Mari kita melakukan tobat nasional dengan tobat yang sebenarnya,” ajak Mbok Darmi yang diamini pengunjung warungnya. ****

Membela Yang Bayar



Dengan membawa bendera demokrasi, kandidat calon bupati, gubernur, dan presiden mengumbar janji. Bahkan calon kepala desa pun ikut-ikutan untuk mendapatkan suara. Padahal, akibat yang ditimbulkan sangat dasyat. Sesama tetangga tidak akur, bahkan saling cemoohan, gara-gara beda dukungan.



HAL inilah yang membuat bingung Mbok Darmi. Ia khawatir jika orang-orang yang selama ini ngopi di warungnya beda pilihan, bisa-bisa mereka tidak lagi nongkrong di warungnya. Kekhawatiran Mbok Darmi cukup beralasan, karena warung itu satu-satunya mata pencahariannya.


Gimana ya ini kalo Cak Hasan, Kang Brodin, Cak Semprul, dan Markuat beda pilihan? Bisa-bisa mereka sudah nggak ke warung ini lagi, nggak mau kumpul lagi,” guman Mbok Darmi dalam hati. Belum hilang lamunannya, ia dikejutkan oleh suara yang tidak asing lagi di telinganya yang memesan secangkir kopi.


Assalamu’alaikum.... Kopi Mbok, seperti biasanya,” pinta Cak Hasan yang langsung duduk di kursi panjang di warung itu.


O... Cak Hasan, Wa ’alaikumsalam. Iya Cak, tunggu sebentar ya,” kata Mbok Darmi agak terkejut.


Ada apa Mbok, kok ngelamun?,” tanya Cak Hasan penasaran.


Ach! ndak kok Cak,” jawab Mbok singkat.


Jangan bohong lho Mbok! Bohong itu dosa, apalagi membohongi diri sendiri,” pancing Cak Hasan agar Mbok Darmi mau cerita.


Cak Hasan ini bisa aja...,”


Lho bener lho Mbok, membohongi diri sendiri itu dosa,” sambil cengar-cengir melihat si mbok yang salah tingkah.


Anu Cak, aku khawatir,”


Khawatir apa Mbok?,”


Khawatir jika dalam pemilihan bupati nanti kalian ada perbedaan,”


Ha...ha...ha...emang kenapa? Khan beda pendapat itu lumrah. Terus apa hubungannya kekhawatiran si Mbok dengan perbedaan itu,”


Aku khawatir nanti kalian jadi nggak akur lagi, kemudian tidak mau lagi mampir ke warung ini,” jawab Mbok Darmi polos.


Aduh Mbok cuman itu toh persoalannya. Ya nggak lah Mbok, masak gara-gara pemilihan bupati terus kita nggak akur. Itu salah Mbok,” jelas Cak Hasan.


Ini Cak kopi pesanannya. Tapi itu sudah banyak kejadiannya lho Cak!,” tambah Mbok Darmi.


Assalamu’alaikum....,” Markuat dan Kang Brodin datang secara bersamaan.


Wa ’alaikumsalam....,” saut Mbok Darmi dan Cak Hasan hampir bersamaan seperti dikomando.


Eh...kalian berdua, mau pesen kopi juga?,” tanya Mbok Darmi.


Iya Mbok. Kali ini kopi manis aja ya Mbok,” pesan Kang Brodin.


Saya juga Mbok,” Markuat juga ikut-ikutan Kang Brodin.


Kadengaren kompak nich!,” seru Mbok Darmi.


Ya iya lha Mbok, kita kan sehati he....he....he....,” jawab Kang Brodin sekenanya sambil tertawa cekiki’an.


Kang, ini lho si Mbok khawatir jika kita beda pilihan, katanya kita tidak akan ke seni lagi,” kata Cak Hasan.


Bener itu Mbok yang dibilang sama Cak Hasan?,” tanya Kang Brodin.


Iya nanti siapa yang beli kopi di sini. Kalau nanti beda pilihan, kalian tidak akur, gimana ayo?,” jawab Mbok Darmi.


Aduh Mbok.... kita ini sudah susah, jangan mau diadu sama yang memanfaatkan hanya untuk cari dukungan. Lihat yang ikut kampanye itu, kasihan mereka! Mereka hanya dijadikan alat untuk mendukung dan membela yang bayar. Akibatnya dengan tetangga sebelah tidak saling kenal,” kata Kang Brodin.


Makanya itu si mbok khawatir seperti itu,” seru si Mbok.


Nggak Mbok, kita akan tetap tidak lupa sama kopinya si Mbok. Iya khan Kang Brodin dan Markuat,” tutur Cak Hasan menenangkan Mbok Darmi.


Iya dong,” jawab mereka berdua.


Seharusnya, kalau dibilang demokrasi kenapa pakai kampanye segala. Siapa yang mencalonkan silakan, kemudian setelah diseleksi, khan bisa langsung dilakukan pemilihan. Jadi tidak mengorbankan orang kecil. Kita sudah susah, eh.... diadu domba dengan sesama tetangga tidak akur gara-gara beda pilihan. Mereka harus sadar untuk datang ke TPS, itu namanya demokrasi. Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat,” keluh Mbok Darmi soal pemilihan bupati secara langsung.


Bukan dari rakyat, oleh rakyat, tapi untuk pejabat,” sambung Mbok Darmi menyindir.


Ya itulah Mbok mencari massa, biar banyak dukungannya. Bahkan mereka rela mengeluarkan uang untuk membayar siapa saja yang mau datang. Biar kelihatan pendukungnya banyak,” celetuk Markuat.


Nah yang ini tidak pair,” saut Mbok Darmi.


Fair Mbok, bukan pair,” kata Cak Hasan membenarkan.


Ya itu maksudku. Maklum lidahnya orang tua sering keseleo,” lanjut si Mbok.


Aku juga setuju usulan Mbok tadi. Tidak perlu ada kampanye, rakyat langsung memilih. Atau kalau ada kampanye khan ada banyak cara, bisa lewat spanduk dan baliho, koran, atau radio,” sambung Kang Brodin.


Sehingga tidak mengorbankan rakyat kecil. Masak rakyat kecil hanya dipermainkan, jika butuh seperti perhatian. Saat sudah jadi, giliran rakyat kecil ditendang. Apes-apes dadi wong cilik!,” seru Mbok Darmi.


Ya itulah nasib wong cilik seperti kita-kita ini. Sudah susah, trus harga kebutuhan nggak pernah turun. Kalo ada pemilihan kita hanya dijadikan obyek penderita,” keluh Markuat.


Kalo gitu khan kita nggak usah ribut-ribut lagi soal pemilihan bupati. Biar kita nggak jadi korban, bagaimana kalau kita usulkan ke KPUD untuk menghilangkan kampanye, yang ada debat terbuka antar kandidat. Itu pasti lebih seru dan tidak mengorbankan rakyat kecil,” usul Cak Hasan pada yang ada di warung Mbok Darmi.


Setuju......................!!!,” saut semua yang ada di warung itu hampir bersamaan. ***

JOMBANG BICARA KETIKA CINTA BERTASBIH


Oleh:Bejo Daroini

Bicara boomingnya novel ketika cinta bertasbih (KCB),rupanya Jombang tidak mau ketinggalan.Minggu,26 Oktober 2008,hari yang bertetanggaan dengan hari peringatan sumpah pemuda,tanggal 28 Oktober, novel dwilogi karya Habiburrohman Elsyirazy yang menguntit sukses novel dan film Ayat-Ayat Cinta (AAC) ini di dedah dua nara sumber Adam Muhammad, wakil ketua Forum Lingkar Pena Jawa Timur yang berasal dari Jombang dan Muhammad Fadil Hikam yang menggantikan Marendra Darwis,penulis buku "Apakah Bibirmu Masih Perawan" yang urung hadir.

Acara yang di usung bendera Iqro' Club dan FLP Jombang ini berhasil menggerakkan 100-an pasang kaki untuk tandang ke acara yang di helat mulai jam 09:00-13:00 di gedung PSBR Jombang.

Peserta yang didominasi perempuan ini begitu antusias menembakkan pandangan dan perhatian pada uraian-uraian Adam Muhammad yang membedah novel yang sedang di garap filmnya ini dari sisi sastra dan Hikam dari pesan moralnya.

"Setelah orang membaca novel atau menonton AAC,banyak lelaki yang membayangkan menjadi sosok Fahri yang dicintai empat gadis cantik,dengan segala keilmuan dan keberuntungannya mendapat istri sholehah,cantik dan sekaya Aisyah.Tak sedikit pula perempuan ingin seberuntung Aisyah. Begitu juga fenomena yang muncul setelah boomingnya novel KCB ini",tutur Adam Muhammad.

Peserta tergelak begitu mendengar guyonan Hikam,"Saya sih mau seperti Azzam,tapi jangan jualan tempe dan pentolnya lah".

Ya, jangan berharap menemukan sosok Azzam,sang tokoh utama dalam novel KCB seperti 'sempurnanya' Fahri dalam AAC.Novel yang berkisah tentang lperjuangan seorang manusia untuk mencapai tujuan hidup. Abdulloh Khoirul Azzam,pemuda tampan, pandai,ulet,pekerja keras,bertanggung jawab,olahragawan alam berumur 28 tahun dari Jawa bertekad menempuh S1 di Mesir, namun baru selesai sembilan tahun karena nyambi kerja jualan tempe,bakso dan catering untuk membiayai kuliahnya dan keluarganya di tanah air setelah ayahnya meninggal.

Seperti AAC, novel ini tidak kalah dengan muatan cintanya,namannya saja ketika cinta bertasbih.Menanggapi kisah Azzam yang ingin meminang Anna,perempuan cerdas yang juga seorang penulis,namun ternyata urung karena sudah dilamar orang,Didik Ferdianto,peserta dari Sumobito, melontarkan pertanyaan apakah cinta memang harus diperjuangkan,bagaimana jika orang yang dicintai sudah menjadi milik orang lain.Pertanyaan ini jawab Hikam cinta diperjuangkan saat dalam konteks syar'i.Bertujuan mulia untuk menikah, bukan untuk pacaran.Jika belum sanggup untuk itu,hendaknya pandai-pandai menjaga diri agar tidak terjerumus dalam kemaksiatan dengan dalih atas nama cinta. Disinilah pentingnya jati diri yang benar agar mampu mengontrol cinta itu sendiri.Agar menjadi cinta yang bertanggung jawab,tidak hanya diliputi syahwat. Juga menanamkan sifat legowo jika ternyata bukan jodoh. Seperti Azzam yang legowo begitu tahu perempuan yang dikehendakinya untuk menjadi istri sudah dilamar orang, walaupun akhirnya, dengan kisah yang berliku-liku Annalah jodohnya.

Acara tidak terasa membosankan dengan guyonan yang sering dilontarkan para nara sumber. Acara ini di tutup dengan perekrutan anggota Iqro' Club dan FLP Jombang,dengan tujuan akan terjalin simpul-simpul yang bisa menjadi jaring, jika simpul-simpul itu sudah terangkai dengan kuat tinggal mencari ikan yang banyak dengan harapan organisasi ini menjadi jaring yang baik yang menghasilkan generasi yang baik-baik pula, untuk mengokohkan predikat Jombang sebagai kota santri,begitu tutur ketua Iqro' Club Jombang.

Minggu, 05 Oktober 2008

Kupatan, Tradisi Yang (mulai) Hilang


Saat ini, tradisi kupatan, yang telah dilaksanakan secara turun-temurun, secara perlahan mulai tergeser di tengah tradisi ‘modern’. Tradisi yang merupakan salah satu cara untuk mempertemukan sanak-saudara untuk bersama-sama menikmati lezatnya hidangan ketupat.


KUPATAN biasanya dilaksanakan pada hari ke tujuh setelah hari raya Idul Fitri. Hal itu dilakukan sebagai rasa syukur kepada Allah SWT setelah menjalankan puasa Ramadhan, yang kemudian diakhiri dengan membayar zakat dan perayaan hari raya Idul Fitri untuk membersihkan diri dari segala dosa selama setahun lamanya.

Ketupat merupakan hasil kreasi anyaman yang dibuat dari daun kelapa muda (baca: janur), yang dibentuk sedemikian rupa, sehingga berbentuk persegi empat (nyaris berbentuk kubus). Setelah terbentuk, sebelum diisi dengan beras, direndam dahulu ke dalam air. Kemudian barulah dapat diisi dengan beras.

Mengisi beras pun harus hati-hati. Soalnya jika dipenuhi, maka ketupat akan hancur, dan tidak akan jadi ketupat karena kelebihan isi. Jadi mengisi beras pun harus setengah atau lebih sedikit. Hal itu agar saat digodok dalam air tidak melebihi tempatnya. Untuk mendapatkan ketupat yang lezat dan rasanya enak, maka untuk tempat menggodong bukan sembarangan. Usahakan memakai kwaron (tempat memasak yang terbuat dari tanah liat –red).

Saat ini, untuk mendapatkan kwaron memang agak sulit. Hal ini dikarenakan, untuk memasak, sebagian besar sudah beralih pada alat seperti panci yang terbuat dari alumunium. Padahal, jika dilihat saat memasak, memang dalam menggunakan kwaron agak lama waktu yang dipergunakan daripada dengan panci. Namun demikian, dari lamanya memasak itu, sebenarnya ada manfaatnya, yakni air semakin matang, jika itu memasak air. Jika memasak nasi, juga benar-benar masak nasinya.

Lain halnya jika menggunakan panci. Dipanggang di atas bara api sebentar saja sudah panas. Akibatnya, bisa jadi air atau masakan yang dimasak belum matang benar. Seperti saat kita membuat kopi, bagaimana rasanya saat setelah meminum kopi yang airnya dimasak dengan menggunakan panci? Kadang ada yang kembung, atau perut terasa sebah. Hal itu dimungkinkan air yang dimasak kurang matang, meski sudah mendidih.

Kembali lagi pada ketupatan. Demikian juga halnya saat menanak ketupat, agar enak dan lezat, usahakan untuk menggunakan kwaron. Pasalnya dengan bahan dari tanah liat juga memberikan aroma tersendiri.

Namun sayang, tradisi kupatan saat ini nyaris hilang. Entah itu disebabkan karena sulitnya mendapatkan daun janur, atau memang masyarakat sudah mulai ’bosan’ membuat kupat. Karena saat memasak ketupat, dibutuhkan waktu yang sangat lama daripada memasak nasi biasa. Bisa jadi memasak ketupat membutuhkan waktu berjam-jam agar bisa matang.

Terlepas dari dua faktor yang saya sebutan di atas, tradisi ini perlahan tapi pasti mulai ditinggalkan. Tidak hanya di kota, di desa pun hanya beberapa saja yang masih melestarikannya.

Berbeda saat masa kecilku, saat itu hampir semua warga satu desa membuat ketuapat, untuk kemudian saling bertukar (ater-ater –Jawa) antar tetangga. Kini tradisi itu sudah mulai terkikis. Generasi muda sudah tidak mau peduli dengan tradisi warisan nenek moyangnya. Mereka sebagian besar sudah lebih dulu mementingkan berwisata, kumpul sama teman-temannya, atau keluyuran tidak tentu yang dikerjakannya.

Hal itu juga disebabkan karena tidak adanya upaya untuk melestarikan budaya tersebut. Ini terlihat dari para orang tua yang sudah mulai ’bosan’ membuat ketupat. Saat ditanya apakah tidak membuat ketupat? Jawaban mereka sebagian besar karena sulit mencari janur atau harus membelinya. Kemudian juga karena tidak cocok waktu memasaknya.

Sungguh ironis sekali, tradisi warisan nenek moyang yang mungkin hanya ada di Indonesia ini, akan terkikis dengan sendirinya secara berlahan.

Saatnya kita bertanya pada generasi penerus untuk melestarikan warisan yang memiliki kekhasan tersendiri itu. Jangan sampai baru ramai diperbincangkan, jika sudah diklaim menjadi tradisi atau budaya oleh negara lain. Pasalnya, bagaimanapun juga, menciptakan kebudayaan itu lebih sulit daripada melestarikannya. Jika tidak, tentu kebudayaan kita yang beraneka raga itu tidak diklaim negara lain.

Bagaimana menurut Anda? ***

Sabtu, 04 Oktober 2008

Catatan Pinggir Idul Fitri 1429 H


Kembali ke Jahiliyah

Aku heran saat melihat lalu lalang kendaraan yang memadati jalan raya, saat malam Takbir Idul Fitri tiba. Anak-anak muda sedang meluapkan kegembiraannya, dengan naik motor bergerombol, ada juga yang duduk di atas trotoar sambil berpelukan mesra. Kemudian ada pula truk atau mobil pick up yang penuh dengan suara bedug. Tapi sayang, tanpa ada suara Takbir yang keluar dari bibir mereka.

Ini seperti yang terjadi pada jaman Jahiliyah, yang diceritakan oleh guru agama di SMA dulu. Itulah jerit hati Cak Hasan melihat kondisi remaja saat ini. Cak Hasan juga melihat orang tua dan remaja yang berdesak-desakan hanya untuk meluapkan kegembiraan, karena esoknya mereka udah tidak puasa lagi.

”Padahal, seharusnya mereka bersedih ditinggalkan bulan penuh barokah, maghfirah, dan ampunan yakni bulan Ramadhan,” kata hatinya seraya berputar mengendarai motor buntutnya keliling kota sambil mengumandangkan takbir, tahmid, dan tahlil bersama Kang Brodin.

”Kang, seandainya semua umat Islam ini mengumandangkan takbir, baik yang mengendarai motor maupun mobil, tanpa ada kebut-kebutan. Alangkah indahnya ya Kang?,” katanya pada Kang Brodin.

”Iya Cak! Tapi sayangnya mereka hanya hura-hura tanpa tujuan yang jelas. Bahkan diantara mereka ada yang wuuuiiiich! Berpelukan seperti Teletubis,” saut Kang Brodin.

”Seharusnya saat menyambut datangnya bulan suci Ramadhan mereka bergembira, menghias rumah dengan aneka hiasan Islami. Alangkah senangnya hati ini. Trus saat Idul Fitri tiba, mereka bisa senang bisa juga sedih,” kata Cak Hasan.

”Lho kok bisa gitu Cak?,” tanya Kang Brodin yang diboncengnya.

”Ya.....iya lah! Sedih karena ditinggal bulan Ramadhan. Sementara senang karena hari kemenangan untuk kembali suci laksana bayi yang baru lahir telah ada di depan kita,” jelas Cak Hasan.

”Iya...ya Cak. Tapi sayangnya semua belum menyadari itu semua. Seandainya semua mengumandangkan takbir sepanjang jalan, mereka tidak membuang bendin percuma. Sudah berapa liter yang terbuang saat takbiran malam ini?,” keluh Kang Brodin.

”Itu juga bagaimana orang tuanya mengarahkan putera-puterinya untuk dapat menjadi anak yang sholeh-sholihah. Sehingga peran orang tua juga perlu dipertanyakan, seandainya orang tua mengarahkan, mengajak, membimbing, dan memberi contoh untuk ikut mengumandangkan takbir. Tentunya sangat bahagia keluarga itu,” papar Cak Hasan.

Kemudian keduanya melanjutkan mengumandangkan takbir kelilingnya dengan mengendarai motor, setelah sebelumnya ia bertakbir keliling kampung bersama anak-anak TPQ di kampungnya.

”Allahu Akbar.... Allahu Akbar.... Allahu Akbar walillahilham,” suara takbir keluar dari bibir kedua orang ini diantara deru mesin dan klakson kendaraan lain.

Dalam kesempatan itu, Cak Hasan dan Kang Brodin dkk juga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H Minal Aidin wal Faidzin Mohon Maaf Lahir Bathin. ”Semoga tahun depan semua ummat Islam saat Idul Fitri dan Idul Adha bersama-sama untuk bersatu mengumandangkan takbir. Serta meningkatkan ukhuwah, saling membantu bagi orang yang tidak mampu, sehingga mereka juga ikut bergembira. ***